Label

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Februari 2017

Katup Mitral (Anatomi dan Fisiologi)


I. PENDAHULUAN
Kisah mengenai jantung bermula dari beribu-ribu tahun yang silam ketika manusia pertama kali merasakan adanya denyutan yang terus-menerus sepanjang hidup dalam dirinya. Berbagai misteri mengenai jantung berkembang sesuai dengan daya imajinasi manusia, baik dikaitkan dengan mitologi, kebudayaan, filosofi, sastra, kesenian, keagamaan, maupun ilmu pengetahuan. Jantung juga menjadi simbol bagi emosi, rasa cinta, pengetahuan, kegembiraan atau kesedihan, penderitaan atau kesenangan, sehat atau sakit, dan sebagainya.(1)
Pada saat ini telah terjadi pergeseran pola penyakit di masyarakat dari penyakit infeksi, baik infeksi saluran nafas maupun gastro intestinal yang dulu pada saat ini masih menduduki sebab kematian utama, kepada penyakit-penyakit degeratif seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit kanker dan sebagainya. Penyakit jantung dan pembuluh darah, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir menunjukkan kenaikan yang jelas. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) yang dilakukan Departemen Kesehatan pada tahun 1986 menunjukkan bahwa penyakit jantung menduduki urutan ke-3 sebagai penyebab kematian, dengan catatan pada golongan umur 45 tahun ke atas penyakit kardiovaskuler menduduki urutan pertama sebagai penyebab kematian.(2)
Penyakit jantung valvular (katup) merupakan penyakit jantung yang masih cukup tinggi insidensinya, terutama dinegara-negara yang sedang berkembang seperti halnya Indonesia. Namun demikian akhir-akhir ini, prevalensi penyakit jantung valvular ada kecenderungan untuk menurun, sedangkan penyakit jantung koroner cenderung meningkat. Berdasarkan penelitian yang ditemukan diberbagai tempat di Indonesia, penyakit jantung valvular ini menduduki urutan ke-2 atau ke-3 sesudah panyakit jantung koroner dari seluruh jenis penyakit jantung.(3)

II. EMBRIOLOGI
Dalam keadaan normal pada minggu ke-4 kehidupan mudigah pasangan lengkung aorta primitive telah membentuk saluran vaskuler tunggal dalam 4 pelebaran yang dikenal sebagai :
1.        Sinus venosus yang menerima darah venosa dan kemudian menjadi vena kava superior dan sinus coronarius.
2.        Atrium
3.        Ventrikel
4.        Bulbus yang merupakan bagian aorta, dan kemudian membentuk conus pulmonum dan conus aorta.
Saluran tersebut memanjang dan melengkung merupakan bentuk S, Bulbus dan ventrikel merupakan bagian atas huruf S dan atrium dan sinus venosus membentuk bagian bawahnya. Dalam proses pelengkungan dan pemutaran, atrium dan sinus menjadi terletak diatas sebagaimana ditemukan pada jantung dewasa normal, dan ventrikel dengan bulbus terletak di bagian bawah.
Antara minggu ke-5 dan ke-8 kehidupan mudigah, atrium dan ventrikel dipisahkan oleh septum tranversum menjadi 2 ruangan yang terpisah. Masing-masing ruangan dibagi atas bagian kanan dan kiri oleh septum longitudinal. Jadi telah dibentuk suatu bentuk dewasa berongga empat. Katup atrioventrikuler primitive dan katup semilunar segera dibentuk.  Bulbus menjadi truncus atriosus primitive, yang kemudian dibagi oleh suatu septum menjadi aorta dan arteri pulmonalis. Pada akhir bulan kedua kehamilan terdapat jantung yang berongga 4 dan katup-katup yang sempurna, yang dihubungkan dengan susunan vaskuler oleh saluran-saluran vena dan arteri yang diidentik dengan keadaan yang ditemukan pada orang dewasa.(4)
Pembentukan katup pada jantung terutama katup atrioventrikuler (AV) yaitu katup tricuspid dan mitral terjadi pada saat embrio mempunyai panjang C-R 10-12 mm, dimana kedua katup atrioventrikuler dikelilingi oleh bantalan jaringan mesenchym dari otot endocardial yang merupakan suatu jaringan yang berfungsi sebagai klep sementara.
Katup atrioventrikuler yang sebenarnya terbentuk dari sebagian kecil dari jaringan ini. Hampir semua bahan yang membentuk katup atrioventrikuler berasal dari otot-otot dinding ventrikel, lapisan dalam otot ventrikel yang dibebaskan oleh proses penonjolan dan penguraian lebih awal. Semua katup atrioventrikuler biasanya gemuk dan tebal, dan nanti dalam perkembangannya semua berubah menjadi tipis dan berserat.(5)

III. ANATOMI

Jantung merupakan organ muskular berongga yang bentuknya sedikit mirip pyramid dan terletak dalam pericardium di mediastinum. Pada basisnya jantung dihubungkan dengan pembuluh-pembuluh darah besar tetapi berada dalam keadaan bebas dalam pericardium.(6) Bagian depan jantung dibatasi oleh sternum dan iga 3, 4, dan 5. Hampir dua pertiga bagian jantung terletak disebelah kiri garis median sternum. Jantung terletak diatas diafragma, miring kedepan kiri dan apeks kordis berada paling depan dalam rongga dada. Batas cranial dibentuk oleh aorta asendens, arteri pulmonal dan vena kava superior.(2,7)






Gambar.1 Letak Anatomi Jantung
Pada wanita berat normal jantung 150-300 gram dan pada pria 300-350 gram. Harus diperhitungkan pula tinggi dan bentuk kerangka (skelet). Ukurang lain yang harus diketahui adalah, tebal dinding ventrikel kanan 3 sampai 5 mm, dan ventrikel kiri 13 sampai 15 mm.(4)


Jantung dibagi oleh septa vertical menjadi bagian kanan dan kiri, dan masing-masing bagian terdiri dari atrium dan ventrikel.(2,6) Antara atrium, ventrikel, dan pembuluh darah besar yang keluar dari jantung terdapat katup-katup jantung, yaitu katup atrioventrikular (mitral dan tricuspid) dan katup semilunar (katup aorta, pulmonal).(2) Katup antrioventrikularis memisahkan atrium dengan ventrikel, dan katup semilunaris memisahkan arteria pulmonalis dan aorta dari ventrikel yang bersangkutan. Keempat katup jantung berfungsi mempertahankan aliran darah searah melalui bilik-bilik jantung. Katup-katup ini membuka dan menutup secara pasif, menanggapi perubahan tekanan dan volume dalam bilik-bilik jantung dan pembuluh darah.(8)



  
Gambar 2. Potongan longitudinal jantung

Katup Atrioventrikularis
Daun-daun katup atrioventrikularis halus tetapi tahan lama. Katup trikuspidalis yang terletak antara atrium dan ventrikel kanan mempunyai tiga buah daun katup. Katup mitralis memisahkan atrium dan ventrikel kiri merupakan katup bikuspidalis dengan dua buah daun katup.(8) Katup trikuspidalis mempunyai keliling lingkaran 12 cm sedangkan katup mitral mempunyai keliling lingkaran 10 cm.(4)
Daun katup dari kedua katup itu tertambat melalui berkas-berkas tipis jaringan fibrosa yang disebut korda tendinea. Korda tendinea akan meluas menjadi otot papilaris, yaitu tonjolan otot pada dinding ventrikel. Korda tendinea menyokong katup pada waktu kontraksi ventrikel untuk mencegah membaliknya daun katup ke dalam atrium.(8)

Gambar 3. Katup-Katup pada Jantung
Katup Semilunaris
Kedua katup semilunaris sama bentuknya; terdiri dari tiga daun katup simetris menyerupai corong, yang tertambat dengan kuat pada annulus fibrosus. Katup aorta terletak antara ventrikel kiri dan aorta, sedangkan katup pulmonalis terletak antara ventrikel kanan dan arteia pulmonalis. Katup semilunaris mencegah aliran kembali darah dari aorta atau arteri pulmonalis ke dalam ventrikel sewaktu ventrikel dalam keadaan istirahat.(9) Katup pulmonal mempunyai keliling lingkaran 8,5 cm, sedangkan katup aorta 7,5 cm.(4)
KATUP MITRAL


Dalam membicarakan katup mitral tidak terlepas dari bagian jantung sebelah kiri yaitu atrium kiri dan ventrikel kiri, sebab katup mitral memisahkan atrium kiri dan ventrikel kiri.(8) Aliran darah yang melewati katup mitral diatur oleh interaksi antara atrium, annulus fibrosus, daun katup, korda tendinea, otot papilaris dan otot ventrikel. Keenam komponen ini membentuk kompleks mitral yang secara fungsional harus diperhitungkan sebagai satu unit.(2,6)



Gambar 4. Katup Mitral
Katup mitral melindungi ostium atrioventrikulare, ia terdiri atas dua cuspis (daun katup) , satu cuspis anterior dan satu cuspis posterior, yang strukturnya sama dengan katup trikuspidalis.(6) Katup ini menyerupai topi uskup yang terdiri atas dua baga. Daun-daun katup berasal dari suatu cincin jaringan ikat yang merupakan “kerangka” jantung yang memisahkan otot-otot atrium dari otot-otot ventrikel. Daun-daun katup melekat pada ujung-ujung otot papilaris dengan perantaraan korda tendinea.(9)
Daun katup anterior pada katup mitral lebih lebar dan lebih mudah bergerak, melekat seperti tirai dari basal ventrikel kiri dan meluas secara diagonal sehingga membagi ruang aliran menjadi alur masuk dan alur keluar. Alur masuk ventrikel kiri berbentuk seperti corong , mulai dari annulus mitral, kemudian dengan daun katup mitral melekat pada otot papilaris melalui korda tendinea. Alur keluar ventrikel kiri dibatasi oleh katup anterior, septum dan dinding depan ventrikel kiri. Daun katup anterior berbentuk segitiga, dihubungkan dengan kedua bibir daun katup posterior melalui komisura, sedangkan daun katup posterior berbentuk segiempat, lebih panjang, lebih kaku dan menempati dua pertiga lingkaran cincin mitral. Daun katup posterior mitral melekat pada otot papilaris melalui korda tendinea. Daun katup posterior terdiri dari 3 lengkungan yang tidak terpisah satu sama lain, yaitu skalop lateral, intermedial dan medial.(2)
Cincin Mitral. Cincin yang menandai garis batas dari lembaran daun katup lebih berbentuk seperti huruf D daripada berbentuk lingkaran yang digambarkan pada katup buatan. Terdapat suatu garis lurus yang menghubungkan antara katup aorta dengan yang belakangan antara batas ventrikel dan katup mitral. Didaerah ini katup aorta mempunyai suatu serat fibrosa yang berhubungan dengan satu atau dua lembaran daun katup mitral. Perluasan dari jaringan fibrosa ini merupakan suatu yang ekstrim dari area yang berhubungan langsung dengan bagian kanan dan kiri dari trigonum fibrosa. Jalur konduksi atrioventrikular melewati trigonum fibrous kanan.(10)
Otot papilaris terletak pada kedua dinding ventrikel dibawah komisura dan merupakan proyeksi penonjolan trabekula karnae, baik berbentuk tunggal atau ganda. Otot papilaris pada ventrikel kiri terdiri dari bagian anterior dan posterior. Otot papilaris anterior terletak pada komisura antero-lateral, sedangkan otot papilaris posterior pada komisura postero-medial. Penonjolan otot papilaris dalam ventrikel kiri pada bagian sepertiga distal dan pertengahan ventrikel kiri. (2,5)
Korda tendinea. Katup mitral dihubungkan dengan otot papilaris oleh korda tendinea, yaitu jaringan ikat kuat berbentuk tali pengikat yang melekat pada ujung-ujung otot papilaris. Di dalam ventrikel kiri, ditemukan korda tendinea anterior yang melekat pada otot papilaris anterior menuju ujung daun katup mitral anterior dan posterior. Korda tendinea posterior yang melekat pada otot papilaris posterior menuju pinggir kedua daun katup mitral. Seluruh pinggir daun katup bertaut melalui  serabut-serabut kecil tali korda untuk bertemu dengan serabut yang lebih besar kemudian melekat pada otot papilaris.(2,5)













Gambar 5. (a) Cincin mitral, (b) Chorda tendinea & Musculus Papilaris

IV. FISIOLOGI
Katup mitral berfungsi mengontrol aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri,(11) membawa darah yang kaya oksigen dari paru-paru ke atrium kiri dan sampai ke ventrikel.(7)
Fungsi kerja dari katup mitral sesuai dengan peristiwa-peristiwa mekanis dari siklus jantung, systole atau kontraksi ventrikel dan diastole atau relaksasi dari ventrikel, yang terdiri dari lima fase.(8)
1.    Mid-diastole : Fase pengisian lambat dari ventrikel atau diastasis. Baik atrium maupun ventrikel dalam keadaan istirahat. Darah yang masuk ke dalam atrium melalui pembuluh darah vena mengalir secara pasif ke ventrikel malalui katup AV yang terbuka, katup semilunar tertutup.(8)
2.    Diastole lanjut (sistolik atrium) : Otot atrium berkontraksi, memberikan tambahan 20% sampai 30% pada isi ventrikel.(8) Kontraksi atrium ikut mendorong darah ke dalam ventrikel, tetapi sekitar 70% pengisian ventrikel terjadi secara pasif selama diastolic. Kontraksi otot atrium yang melingkari orifisium vena kava superior dan inferior serta vena pulmonalis mempersempit lubang orifisium tersebut, dan kelembaman darah yang bergerak kearah jantung cenderung menahan darah didalamnya.(12)
3.    Sistole awal : Pada permulaan sistolik ventrikel, katup mitralis dan trikuspidalis (AV) menutup. Otot ventrikel pada mulanya hanya sedikit memendek, tetapi tekanan intraventrikel meningkat secara tajam sewaktu miokardium menekan darah didalam ventrikel. Periode kontraksi isovolumetrik (isovolumik, isometric) ini berlangsung sekitar 0,05 detik, sampai tekanan di ventrikel kanan dan kiri melebihi tekanan di aorta (80 mmHg) dan arteri pulmonalis (10 mmHg), katup aorta dan pulmonalis terbuka. Selama kontraksi isovolumetrik, Katup AV menonjol ke dalam atrium, menyebabkan peningkatan tekanan atrium yang kecil tetapi tajam.(12)
4.    Sistole lanjut : Segera setelah tekanan ventrikel melebihi tekanan di pembuluh darah, maka katup semilunaris akan terbuka dan terjadilah ejeksi ventrikel ke dalam sirkulasi pulmonal dan sistemik.(8)
Penyemprotan mula-mula berlangsung cepat, kemudian berlangsung lambat seiring dengan kemajuan sistolik. Tekanan intraventrikel meningkat sampai maksimum dan kemudian sedikit menurun sebelum sistolik ventrikel berakhir. Tekanan ventrikel kiri puncak adalah 120 mmHg, dan tekanan ventrikel kanan puncak adalah 25 mmHg atau lebih kecil. Pada akhir sistolik tekanan aorta sebenarnya lebih besar dari ventrikel, tetapi untuk jangka waktu yang singkat momentum tetap mendorong darah. Katup AV tertarik ke bawah oleh kontraksi otot ventrikel, dan tekanan atrium turun. Saat istirahat, Jumlah darah yang disemprotkan oleh setiap ventrikel per denyut adalah 70-90 mL. Volume ventrikel diastolic-akhir adalah sekitar 130 mL. Dengan demikian, sekitar 50 mL darah tetap berada disetiap ventrikel pada akhir sistolik. (Volume ventrikel sistolik-akhir), dan fraksi semprotan (ejection fraction), persen volume ventrikel diastolic-akhir yang disemprotkan setiap kali denyutan adalah sekitar 60 %. Fraksi semprotan merupakan indeks fungsi ventrikel yang bermanfaat.(12)
5.    Diastole awal : Ventrikel dalam keadaan istirahat. Ketika otot-ototnya relaksasi maka tekanan ventrikel turun sampai lebih rendah dari tekanan atrium. Akibatnya katup semilunaris tertutup. Keadaan istirahat ini berlangsung terus-menerus sampai tekanan ventrikel lebih rendah dari tekanan dalam atrium sehingga katup AV membuka. Periode antara penutupan katup semilunaris dan terbuka katup AV disebut relaksasi isovolumik karena volume ventrikel tetap konstan walaupn tekanan ventricular terus menurun. Dengan terbukanya katup AV ini,  maka dengan cepat ventrikel terisi oleh darah vena yang telah terkumpul dalam atrium. Kira-kira 70% sampai 80% dari pengisian ventrikel terjadi selama tahap ini.(8)

  
Gambar 6. Peristiwa Mekanis dan Siklus Jantung
Selama diastole (relaksasi ventrikel), tepi-tepi kuspis dari katup mitral bergerak memisah satu sama lain sehingga katup akan terbuka. Bila tekanan dalam ventrikel meningkat (systole), lembar-lembar pengepak menyebar dan saling mendekati sehingga katup tertutup.(9)
 (a) Fase Diastole Ventrikel                            (b) Fase Sistole Ventrikel
Gambar 7. Pembukaan dan Penutupan Katup Jantung
Dengan demikian fungsi dari katup mitral pada penambahan dan pengurangan isi ventrikel yaitu pada saat diastolic dari ventrikel, katup mitral dan tricuspid membuka, aorta dan pulmonal menutup, sedangkan pada saat sistolik dimana ventrikel berkontraksi, maka katup mitral dan tricuspid menutup untuk mencegah terjadinya aliran darah balik melalui katup tricuspid dan mitral kembali ke atrium.(11)

V. KELAINAN-KELAINAN KATUP MITRAL
V.1. Stenosis Mitral
Secara definisi stenosis mitral dapat diartikan sebagai blok aliran darah pada tingkat katup mitral, akibat adanya perubahan struktur mitral leaflets, yang menyebabkan tidak membukanya katup mitral secara sempurna pada saat diastolic. Dalam keadaan normal luas pembukaan katup mitral berkisar antara 4-6 cm2. (3)
Stenosis mitral terjadi karena adanya fibrosis dan fusi komisura  katup mitral pada waktu fase penyembuhan demam rematik. Terbentuknya sekat jaringan ikat tanpa pengapuran yang mengakibatkan lubang katup mitral pada waktu diastole lebih kecil dari normal.(2)
Perubahan Anatomis
Perubahan anatomis pada stenosis mitral dapat terjadi pada :
1.     Komisura, menyebabkan saling mendekat satu sama lain dan bentuknya akan berubah.
2.     Cups, daun katup, menjadi menebal serta berubah kea rah jaringan fibrosa.
3.     Chorda tendinea menebal, memendek serta dapat saling mendekat.
Perubahan anatomis ini bisa saja berdiri sendiri, tetapi dapat juga terjadi dalam kombinasi, sekitar 50% stenosis mitral merupakan kelainan struktur campuran, misalnya pada komisura dan cups, sedangkan pada komisura sendiri sekitar 30%, penebalan cups saja terdapat pada kira-kira 15%, sedangkan penebalan atau perubahan pada chordae saja kira-kira sekitar 10% dari seluruh stenosis mitral.
Karakteristik katup mitral yang mengalami stenosis ini mempunyai pinggir saling melekat, chordae mengalami fusi, bentuknya menjadi funnel shaped, orificium seperti mulut ikan. Dalam pergerakannya, katup mitral yang mengalami stenosis ini akan sulit membuka, tetapi kadang-kadang juga disertai penutupan yang sulit, sehingga cenderung terjadi regurgitasi ringan, insufisiensi mitral.  Apabila kelainan anatomis  banyak terdapat pada chorda tendinea, maka akan lebih cenderung memperlihatkan regurgitasi tersebut.(3)
Perubahan Fisiologis
Berkurangnya luas efektif lubang mitral menyebabkan berkurangnya daya alir katup mitral.(2) Apabila pembukaan katup mitral ini 2 cm2 (mild stenosis), maka sudah timbul perubahan hemodinamik, dimana darah dari atrium hanya dapat masuk ke ventrikel kiri, apabila didorong oleh pressure gradient yang abnormal. Apabila pembukaan katup mitral < 1 cm2 maka hal ini merupakan stenosis mitral berat.(3) Hal ini akan meningkatkan tekanan di ruang atrium kiri, sehingga terjadi perbedaan tekanan pada atrium kiri dan ventrikel kiri waktu diastole. Jika perbedaan tekanan ini tidak berhasil mengalirkan jumlah darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh, maka akan terjadi bendungan di atrium kiri dan selanjutnya akan memberikan bendungan vena dan kapiler paru. Bendungan ini akan menyebabkan terjadinya sembab intertisial dan kemudian mungkin terjadi sembab alveolar. Pada tahap selanjutnya tekanan arteri pulmonal akan meningkat, kemudian terjadi pelebaran ventrikel kanan dan insufisiensi pada katup tricuspid atau pulmonal. Pada akhirnya vena-vena sistemik akan mengalami bendungan pula, seperti pada hati, kaki dan lain-lain.(2)
.
V.2 Insufisiensi Mitral
 Insufisiensi mitral adalah keadaam dimana terdapat refluk darah dari ventrikel kiri ke dalam atrium kiri pada saat sistolik,  akibat katup mitral tidak menutup secara sempurna.(3)
Perubahan Anatomis
Perubahan struktur anatomis pada regurgitasi mitral dapat terjadi pada annulus mitralis, daun katup, chordae tendinea dan muskulus papilaris. Annulus mitral terjadi perkapuran (kalsifikasi).(3) Selain itu dapat juga disebabkan :
-       Otot papilaris lemah karena meradang
-       Otot papilaris putus karena trauma
-       Prolaps katup
-           Cincin katup melebar mengikuti dilatasi atrium kiri  atau ventrikel kiri.(13)
Dalam keadaan normal, lingkaran annulus mitral mempunyai keliling 10 cm, pada beberapa kondisi abnormal, misalnya pada kalsifikasi idiopatik yang sering dijumpai pada usia tua, annulus menjadi kaku dan tidak dapat mengecil secara sempurna. Ruptur chordae tendinea dapat juga timbul sebagai akibat dilatasi akut ventrikel kiri oleh berbagai etiologi. Kerusakan musculus papilaris juga dapat menimbulkan regurgitasi. Daerah musculus papilaris merupakan bagian jantung yang paling sensitive terhadap proses iskemia, karena merupakan daerah system coronary vascular yang paling distal.(3)
Perubahan Fisiologis
Selama fase sistol terjadi regurgitasi (aliran balik) ke atrium kiri. Mengakibatkan gelombang tekanan yang tinggi  di atrium kiri, sedangkan aliran ke aorta berkurang. Waktu diastol darah mengalir dari atrium ke ventrikel. Darah dari atrium kiri tersebut berasal dari paru-paru melalui vena pulmonalis dan juga darah regurgitasi yang berasal dari ventrikel pada waktu systole sebelumnya. Ventrikel kiri cepat distensi, apeks bergerak ke bawah secara mendadak, menarik katup , korda dan otot papilaris. Hal ini menimbulkan vibrasi dan membentuk bunyi jantung ketiga.(2)
Malformasi dari katup mitral dapat menyebabkan stenosis ataupun insufisiensi, bahkan sejumlah lesi dapat menyebabkan keduanya sekaligus.
Berikut ini beberapa kelainan congenital yang mempengaruhi keadaan katup mitral :
Tabel 1. Kelainan congenital dan pengaruhnya terhadap katup mitral(14)
NO
Kelainan Kongenital
Kondisi Katup Mitral
Stenosis
Insufisiensi
1.
Displasia Katup Mitral
Ö

2.
Hipoplasia Katup Mitral
Ö

3.
Parachute mitral valve
Ö

4.
Supravalvar mitral ring
Ö

5.
Abnormal chordal attacmenth

Ö
6.
Ebstein Malformation of the mitral valve

Ö
7.
Mitral Arcade

Ö

VI. KESIMPULAN
1.    Penyakit jantung valvular (katup) merupakan penyakit jantung yang masih cukup tinggi insidensinya, berdasarkan penelitian yang ditemukan diberbagai tempat di Indonesia, penyakit jantung valvular ini menduduki urutan ke-2 atau ke-3 sesudah panyakit jantung koroner dari seluruh jenis penyakit jantung.
2.    Dalam keadaan normal pada minggu ke-4 kehidupan mudigah pasangan lengkung aorta primitive telah membentuk saluran vaskuler tunggal dalam 4 pelebaran yang dikenal sebagai sinus venosus, , atrium, ventrikel dan bulbus.
3.    Jantung merupakan organ muskular berongga yang bentuknya sedikit mirip pyramid dan terletak dalam pericardium di mediastinum. Jantung dibagi oleh septa vertical menjadi bagian kanan dan kiri, dan masing-masing bagian terdiri dari atrium dan ventrikel.
4.    Aliran darah yang melewati katup mitral diatur oleh interaksi antara atrium, annulus fibrosus, daun katup, korda tendinea, otot papilaris dan otot ventrikel. Keenam komponen ini membentuk kompleks mitral yang secara fungsional harus diperhitungkan sebagai satu unit.
5.    Katup mitral berfungsi mengontrol aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri, membawa darah yang kaya oksigen dari paru-paru ke atrium kiri dan sampai ke ventrikel. Fungsi kerja dari katup mitral sesuai dengan peristiwa-peristiwa mekanis dari siklus jantung, systole atau kontraksi ventrikel dan diastole atau relaksasi dari ventrikel, yang terdiri dari lima fase.
6.    Kelainan katup mitral yang utama adalah stenosis mitral dan insufisiensi mitral yang bisa disebabkan karena kelainan congenital maupun penyakit yang didapat.



DAFTAR PUSTAKA
1.    Yanto Sandy Tjang, Richardus Budiman, Reiner Koerfer, Jantung: dari Pandangan Mistik hingga Era Bedah Jantung.
http://www.tempo.co.id/medika/arsip/102002/top-2.htm
2.    Lily Ismudiati Rilantono, dkk, 2004, Anatomi Jantung dan Pembuluh Dalam dalam buku Ajar Kardiologi, Fakultas Kedokteran Indonesia, Jakarta. Halaman : 3-16
3.    M. Syaifullah Noer, 2004, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi ke-3, Balai Penerbit FKUI, Jakarta: Hal 1035-1041
4.    Staf Pengajar Bagian Patologi Anatomi FKUI, 1979, Susunan Kardiovaskuler dalam Kumpulan Kuliah Patologi, Bagian Patologi Anatomi FKUI, Jakarta: Hal 110
5.    J. Willis Hurst, M.D, 1990, THE HEART Arteries and Veins, Seventh Editions, McGraw Hill Informations Services Company, USA.
6.    Richard S. Snell, 1997, Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran (Clinical Anatomy for Medical Students), Bagian 1, Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Halaman : 107-114
7.    Heart Information Center, Heart Anatomy, Texas Heart Institute
8.    Sylvia A. Price, Lorraine M. Wilson, 1995, Anatomi Sistem Kardiovaskular dalam PATOFISIOLOGI (konsep Klinis Proses-Proses Penyakit), Buku 1, Edisi IV, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Halaman : 468-471, 485-486.
9.    Werner Kahle, 1998, ALAT-ALAT DALAM Atlas Berwarna dan Teks Anatomi Manusia, Jilid 2, Edisi 6, Penerbit Hipokrates, Jakarta. Halaman : 8-16
10.  Siew Yen Ho, Dr, Anatomy of The Mitral Valve, Pediatric Faculty of Medicine, National Heart & Lung Institute, Imperial College, Dovehouse Street, London. In Heart Online.
11.  FARROKH S SADR MD FACS, The Heart.
 http://www.enter.net/~fsadr/anatomy.htm.
12.  William F. Ganong, 2003, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 20, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Halaman : 542-543
13.  Syahrial Rasad, 2005, Radiologi Diagnostik, Penerbit Gaya Baru, Jakarta. Hal : 175

14.  Anton, E, Becker, MD, FACC, 1981, Pathology of Congenital Heart Disease, Butterworths & Co (Publishers), London.

Minggu, 30 November 2014

AIDS 1 DESEMBER DAN SEJARAHNYA DI INDONESIA


Setiap tahun, 1 Desember di peringati oleh dunia sebagai hari AIDS. Namun banyak yang belum mengetahui kenapa peringatan HIV AIDS dunia tersebut di lakukan pada tanggal 1 Desember.
Agustus 1987, Thomas Netter dan James Bunn yang bekerja di bagian informasi Program Global untuk AIDS Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO)di Jenewa, Swiss, mencetuskan ide untuk menetapkan satu hari untuk meningkatkan kesadaran atas pandemik AIDS. Mereka mengajukan ide ini kepada Jonathan Mann, Direktur Program Global yang kini dikenal sebagai UNAIDS.                                                                                         
Mann menyetujui ide itu dan kemudian memutuskan 1 Desember 1988 sebagai awal peringatan tahunan atas AIDS. 
Ada beberapa pertimbangan memilih tanggal tersebut, sebagian besar berkaitan dengan budaya negara-negara Barat. Pertama, Dunn yang seorang jurnalis berpendapat kalau pemilihan tanggal 1 Desember dapat memaksimalkan peliputan oleh media massa. Hal itu berkaitan dengan pemilu Amerika Serikat (AS) yang biasanya digelar pada November. Ketika media sudah jenuh dengan berita pemilu, mereka butuh berita yang segar. 
Alasan kedua, awal Desember mendekati liburan Natal dan tahun baru.Alasan terakhir, tanggal pertama di bulan terakhir adalah waktu yang mudah diingat.
Sumber (nationalgeographic.co.id › Berita › Sejarah)

Di Indonesia sendiri HIV AIDS mempunyai sejarah dalam penemuan, pendeteksian dan perkembangannya.
Sejarah 1983
Dr. Zubairi Djoerban melaksanakan penelitian terhadap 30 waria di Jakarta. Karena rendahnya tingkat limfosit dan gejala klinis, Dr. Zubairi menyatakan dua di antaranya kemungkinan AIDS.
Pada November, Menteri Kesehatan RI, Dr. Soewandjono Soerjaningrat menyatakan pencegahan AIDS terbaik adalah tidak ikut-ikutan jadi homoseks ... dan mencegah turis-turis asing membawa masuk penyakit itu.
Sejarah 1984
Di Kongres Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (KOPAPDI) VI, pada Juli, dilaporkan bahwa dari 15 orang diperiksa, tiga memenuhi kriteria minimal untuk diagnosis AIDS.
Pada November, Kepala Divisi Transfusi Darah PMI, Dr. Masri Rustam menyatakan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir AIDS menyerang penerima transfusi darah di sini. Walau skrining membutuhkan biaya besar, pencegahan ... dilakukan dengan melarang kaum homoseksual atau waria menjadi donor darah.
Sejarah 1985
Pada 1 Agustus, Dr. Zubairi menyatakan bila penyakit AIDS sampai menyerang masyarakat akan sulit dicegah. Pada hari berikut, Menkes membenarkan adanya kemungkinan AIDS sudah masuk ke Indonesia.
Dr. Arjatmo Tjokrnegoro PhD, ahli imunologi di FK-UI, menduga mungkin orang Indonesia kebal terhadap AIDS karena aspek rasial.
Pada 8 Agustus, RSCM dan FK-UI membentuk satuan tugas untuk mengkaji masalah AIDS.
Pada 2 September, Menkes menyatakan sudah ada lima kasus AIDS ditemukan di Bali. Namun Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (P2MPLP) Depkes, Dr. M. Adhyatama mengaku dia tidak tahu-menahu mengenai kasus tersebut.
Seorang perempuan berusia 25 tahun dengan hemofilia dinyatakan terinfeksi HIV pada September di Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ).
Pada 11 November, Menkes mengatakan bahwa belum pernah ditemukan orang yang betul-betul terkena penyakit AIDS. Menjawab pertanyaan wartawan, Menkes komentar “Kalau kita taqwa pada Tuhan, kita tidak perlu khawatir terjangkit penyakit AIDS.”
Sejarah 1986
Perempuan berusia 25 tahun yang didiagnosis HIV pada September 1985 meninggal dunia di RSIJ, tes darahnya memastikan bahwa dia terinfeksi HTLV-III, dan dengan gejala klinis yang menunjukkan AIDS. Kasus ini tidak dilaporkan oleh Depkes.
Pada Januari, tes HIV dapat dilakukan di RSCM dengan biaya Rp 62.500. Hasil positif akan dikirim ke AS untuk penelitian lebih lanjut.
Juga pada Januari, FKUI RSCM melakukan penelitian terhadap pasien hemofilia yang menerima produk darah (faktor VIII). Ternyata ditemukan satu di antaranya yang dipastikan terinfeksi HIV. Dan pasien tersebut masih diketahui hidup sehat tanpa terapi antiretroviral (ART) pada Juli 1998 – lebih dari 12 tahun setelah didiagnosis.
Pada Maret, satuan tugas RSCM dan FK-UI yang dibentuk pada 1985 untuk mengkaji masalah AIDS diresmikan sebagai Kelompok Studi Khusus (Pokdisus) AIDS.
Sejarah 1987
Seorang wisatawan asal Belanda meninggal di RS Sanglah, Bali. Kematian pria berusia 44 tahun itu diakui Depkes disebabkan AIDS. Indonesia masuk dalam daftar WHO sebagai negara ke-13 di Asia yang melaporkan kasus AIDS.
Pada Oktober, dilakukan Kongres tentang Penyakit Akibat Hubungan Kelamin di Bali sekaligus Konferensi International Union Against Venerial Diseases and Treponematoses untuk kawasan Asia dan Pasifik. Menkes Dr. Soewandjono Soerjaningrat dalam sambutan mengatakan bahwa penyakit yang sebelumnya dikaitkan dengan hubungan seksual yang menyimpang dari tuntutan agama, ternyata dapat menular melalui darah.
Sejarah 1988
Pada 1988, Depkes hanya melaporkan tambahan satu kasus infeksi HIV di Indonesia.
Sejarah 1989
Tema Hari AIDS Sedunia 1989 adalah “Kaum Muda (Youth).”
Pada 1989, Depkes tidak melaporkan satu pun kasus infeksi HIV tambahan di Indonesia. Namun satu kasus HIV dilaporkan berlanjut menjadi AIDS.
Sejarah 1990
Tema Hari AIDS Sedunia 1990 adalah “Wanita dan AIDS (Women and AIDS).”
Pada 1990, Depkes melaporkan tambahan dua kasus AIDS, sehingga jumlah kasus infeksi HIV di Indonesia menjadi sembilan.
Sejarah 1991
International AIDS Candlelight Memorial pertama diselenggarakan di Indonesia. Peristiwa ini, dikenal sebagai Malam Tirakatan Mengenang Korban-Korban AIDS, diselenggarakan di Surabaya oleh Kelompok Kerja Lesbian & Gay Nusantara (sekarang Gaya Nusantara), dengan bantuan dari Persatuan Waria Kotamadya Surabaya (Perwakos).
Pada 29-30 Juli, dilakukan Semiloka Nasional AIDS di Denpasar, Bali, untuk membahas Pengembangan Strategi Penanggulangan AIDS di Indonesia.
Tema Hari AIDS Sedunia 1991 adalah “Bersama Kita Hadapi Tantangan (Sharing the Challenge).”
Pada 1991, Depkes melaporkan tambahan jumlah kasus infeksi HIV di Indonesia sudah menjadi 18, dengan 12 sudah AIDS.
Sejarah 1992
Tema Hari AIDS Sedunia 1992 adalah “Komitmen Komunitas (Community Commitment).”
Pada 1992, Depkes melaporkan tambahan jumlah kasus infeksi HIV di Indonesia sudah menjadi 28, dengan 10 sudah AIDS.
Sejarah 1993
Tema Hari AIDS Sedunia 1993 adalah “Waktunya Untuk Bertindak! (Time to Act)”.
Di Indonesia, dilaporkan 137 kasus infeksi HIV plus 51 orang dengan AIDS.
Sejarah 1994
LP3Y bekerja sama dengan Lentera-PKBI DIY dan The Ford Foundation, melakukan Work Shop Penulisan AIDS bagi Wartawan. Sebagai hasil dari kegiatan itu, diterbitkan dua buku kecil, “10 Pakar Bicara AIDS” dan “11 Langkah Memahami AIDS.”
Pada 30 Mei, Presiden RI, Suharto, menandatangani Keputusan Presiden Nomor 36/2004 tentang Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). Berdasarkan Kepres 36 ini, Menkokesra Ir Azwar Anas mengeluarkan Keputusan tentang Susunan, Tugas dan Fungsi Keanggotaan KPA pada 15 Juni, serta Keputusan tentang Strategi Nasional Penanggulangan AIDS di Indonesia pada 16 Juni. Ketua KPA adalah Menkokesra sendiri, dan sekretaris KPA pertama adalah Dr. Suyono Yayha, MPH.
Pada Agustus, sebuah pokja KPA memperkirakan bahwa jumlah kasus infeksi HIV di Indonesia pada 2005 akan menjadi antara 600.000 (penularan rendah, intervensi yang efektif) dan 1.990.000 (penularan tinggi, tanpa intervensi).
Pada akhir tahun ini di Indonesia, secara kumulatif sudah dilaporkan 275 infeksi HIV, dengan 67 di antaranya AIDS. 100 di antaranya adalah WNA. 203 adalah laki-laki, 68 perempuan, 4 tidak diketahui. Jalur penularan: 69 homoseks, 160 heteroseks, 2 IDU, 2 transfusi darah, 2 hemofilia dan 40 tidak diketahui.
Tema Hari AIDS Sedunia 1994 adalah “AIDS & Keluarga (AIDS and the Family).”
Sejarah 1995
Edisi perdana majalah Support diterbitkan oleh Yayasan Pelita Ilmu pada Januari.
Hingga Mei, 49 orang tercatat meninggal karena AIDS di Indonesia.
Pusat Media Pelatihan AIDS untuk Wartawan (PMP AIDS) didirikan pada awal tahun oleh LP3Y di Yogyakarta. Newsletter PMP AIDS edisi perdana diterbitkan pada Mei.
Yayasan Pelita Ilmu (YPI) membuka Sanggar Kerja, yaitu tempat persinggahan (shelter) untuk Odha, di Kebon Baru, Jakarta, dengan dukungan oleh Ford Foundation. Program Buddies(pendamping Odha) juga dimulai.
Pada Agustus, RS Medistra Jakarta melarang Dr. Samsuridjal Djauzi untuk merawat pasien apa pun, karena beliau bersedia merawat pasien AIDS di RS tersebut.
Dikutip oleh harian Kompas pada Mei, Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN menyinyalir bahwa “virus AIDS sudah dimanfaatkan sebagai alat tindak kejahatan...”

Spiritia didirikan oleh Suzana Murni sebagai organisasi yang mandiri pada November.
Tema Hari AIDS Sedunia 1995 adalah “Hak dan Tanggung Jawab Bersama (Shared Rights, Shared Responsibilities).” Kegiatan dikoordinasi oleh BKKBN.
Headline pada Suplemen Khusus Harian Surya yang menyambut Hari AIDS Sedunia berbunyi “Tunggu! AIDS mungkin akan mewabah di Indonesia.”
Pada akhir tahun ini di Indonesia, secara kumulatif sudah dilaporkan 364 infeksi HIV, dengan 87 di antaranya AIDS.
Sejarah 1996
International AIDS Candlelight Memorial diselenggarakan di 31 kota di Indonesia sebagai Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN), dengan tema “Bersama Membangun Harapan,” dikoordinasikan oleh Grup Koordinasi Nasional Mobilisasi AIDS Nusantara (GKNMAN). Menurut harian Kompas, “diiringi lagu ‘Lilin-lilin Kecil’ yang dinyanyikan sendiri oleh penciptanya, James F Sundah, sekitar seribu lilin di tangan para hadirin menyala menerangi Plaza Taman Ismail Marzuki, Jakarta.”
Pertemuan Nasional Pencegahan dan Penatalaksanaan HIV/AIDS (Pertemuan Nasional HIV/AIDS I) dilakukan pada Juli di Wisma Kalimanis, Jakarta. Pada pertemuan itu, diputuskan untuk mendirikan tiga organisasi baru: Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia (PDPAI); Forum Komunikasi LSM/Organisasi Peduli AIDS (FKLOPA); dan Masyarakat Peduli AIDS Indonesia (MPAI).
Milis AIDS-INA, milis pertama untuk membahas masalah HIV dan AIDS di Indonesia, diluncurkan oleh Dr. Pandu Riono.
Tema Hari AIDS Sedunia 1996 adalah “Satu Dunia Satu Harapan (One World One Hope)”.
Pada akhir tahun ini di Indonesia, secara kumulatif sudah dilaporkan 501 infeksi HIV, dengan 119 di antaranya AIDS.
Sejarah 1997
Pada Mei, Ditjen POM mengeluarkan surat resmi kepada Ditjen Bea Cukai yang menerangkan bahwa bila Bea Cukai mendapat kiriman ARV dari luar negeri yang ditujukan pada Pokdisus AIDS, obat tersebut dapat dikeluarkan tanpa harus diuji coba Ditjen POM.
Pada Juni, ARV yang berikut tersedia di Indonesia: AZT, ddI, ddC, 3TC, saquinavir dan ritonavir. Namun harganya tidak terjangkau untuk mayoritas Odha.
Surveilans yang dilakukan terhadap waria di Jakarta menunjukkan prevalensi HIV 6%, naik dari 0,3% pada 1995.
Tema Hari AIDS Sedunia 1997 adalah “Anak-anak yang Hidup di Dunia dengan AIDS (Children Living in a World with AIDS)”
Pada akhir tahun ini di Indonesia, secara kumulatif sudah dilaporkan 619 infeksi HIV, dengan 153 di antaranya AIDS.
Sejarah 1998
Didi Mirhad, bintang iklan Indonesia, mengungkapkan status dirinya HIV-positif pada media massa.
Pertemuan Odha pertama dilakukan oleh Spiritia di Ubud, Bali, dengan menghadirkan 16 Odha dan Ohidha dari seluruh Indonesia.

Pada Oktober, RCTI mulai menayangkan sinetron Kupu-Kupu Ungu, disutradarai oleh Nano Riantiarno, dengan bintang Nurul Arifin dan Sandi Nayoan. Sinetron sepanjang 13 episode tersebut menggambarkan beragam masalah medis, sosial, psikologis dan mitos seputar HIV dan AIDS.

Tema Hari AIDS Sedunia ditentukan sebagai “Kaum Muda: Semangat Perubahan”. Kegiatan dikoordinasi oleh Departemen Agama.
 Menjelang Hari AIDS, KPA meluncurkan Kampanye Nasional AIDS, ditandai oleh lambang baru, yaitu pita merah-putih.
Sejarah 1999
Didi Mirhad, bintang iklan Indonesia, meninggal dunia karena AIDS pada 25 Agustus.
Semiloka Nasional Penggunaan dan Penyalahgunaan NAZA dilakukan selama empat hari di September oleh sekelompok aktivis HIV dan narkoba, dengan melibatkan beberapa pembicara dari Australia dan Malaysia. Pertemuan ini adalah pertama kali konsep Harm Reduction dibahas oleh para pembuat kebijakan dan pengambil keputusan di Indonesia.
Tema Hari AIDS Sedunia 1999, ‘Dengar, Simak, Tegar! (Listen, Learn, Live!)’ tetap ditujukan pada orang berusia di bawah 25 tahun. Kegiatan dikoordinasi oleh Departemen Pendidikan.
Pada akhir tahun, ARV yang berikut tersedia di Indonesia: AZT, ddI, ddC, 3TC, d4T, saquinavir, ritonavir dan indinavir.
Sejarah 2000
Pertemuan Nasional HIV/AIDS II dilakukan pada April di Jakarta.
Surveilans di antara 67 pengguna narkoba suntikan yang ditahan di Lapas Kerobokan di Bali pada akhir tahun menemukan 35 (56%) terinfeksi HIV.
Pada November, sebuah pertemuan yang dilakukan oleh Lentera-Sahaja PKBI DIY di Kaliurang, DIY yang melibatkan beberapa relawan dari kelompok marjinal dibongkar secara ‘brutal dan keji oleh kelompok orang yang bertopeng dan bersembunyi dibalik jubah “agama” ataupun “parpol” tertentu.’
Tema Hari AIDS Sedunia 2000 adalah ‘AIDS – Pria Berpengaruh (AIDS – Men Make a Difference)’. Kegiatan dikoordinasi oleh BKKBN.
Sejarah 2001
Dua belas penghuni sebuah pusat pemulihan narkoba di Bali dites HIV. Delapan di antaranya ditemukan terinfeksi.
Dengan dukungan dari Ketua Badan POM, berapa jenis ARV generik dari India mulai tersedia di Indonesia, termasuk AZT, 3TC, gabungan AZT+3TC, d4T dan nevirapine. Dengan obat ini, terapi antiretroviral (ART) yang baku mulai tersedia di Indonesia, walau harga masih mahal (lebih dari Rp 1 juta per bulan).
Pertemuan Nasional Odha ke-2 dilakukan oleh Spiritia di Kuta, Bali pada September, dihadiri oleh 36 Odha dan Ohidha dari seluruh Indonesia. Peserta menyetujui dikeluarkan “Asas-Asas Penanggulangan HIV/AIDS” sebagai suatu hasil dari pertemuan itu.
Walau dalam keadaan sakit dan harus memakai kursi roda, Suzana Murni, pendiri Spiritia berpidato pada pembukaan Konferensi Internasional AIDS di Asia Pasifik (ICAAP) ke-6 di Melbourne, pada Oktober, dengan judul ‘Memecah Penghalang’.
Tema Hari AIDS Sedunia 2000 adalah ‘Kami peduli. Anda bagaimana? (I care. Do you?)’. Kegiatan dikoordinasi oleh Departemen Kesehatan.
Pada 31 Desember, Drs. M. Jusuf Kalla sebagai Menkokesra menandatangani Keputusan tentang Sekretariat KPA, yang menetapkan Dr. Farid Husein sebagai Sekretaris KPA.
Sejarah 2002
Sidang Kabinet Sesi Khusus HIV/AIDS dilakukan pada 28 Maret.
Pada 1 April, disusun Komite Pengarah untuk Strategi Nasional Penanggulangan AIDS, untuk mengembangkan rancangan Stranas baru.
Permohonan Indonesia untuk dana dari Global Fund Ronde 1 disetujui, dengan dana hampir 16 juta dolar untuk HIV. Fase 1 program, dengan dana hampir 7 juta dolar, mulai diterapkan pada Juli 2003.
Suzana Murni, pendiri Spiritia, meninggal dunia pas sebelum pembukaan Konferensi AIDS Sedunia ke-14 di Barcelona, Spanyol pada Juli. Konferensi ini didominasi oleh masalah terkait pengobatan untuk HIV di negara terbatas sumber daya. Penghargaan yang diberikan pada Spiritia oleh Family Health International (FHI) diterima oleh Siradj Okta, adik Suzana.
Indonesia menunjukkan betapa mendadak epidemi HIV dapat muncul. Setelah lebih dari sepuluh tahun prevalensi HIV yang rendah, angka meloncat di antara pengguna narkoba suntikan dan pekerja seks, dengan sampai 40% orang di tempat pemulihan narkoba di Jakarta diketahui HIV-positif.
Pada Oktober dibentuk Gerakan Nasional Meningkatkan Akses Terapi HIV/AIDS (GN-MATHA), diketuai oleh Dr. Samsuridjal Djauzi, dengan tujuan agar 10.000 Odha di Indonesia mendapatkan ART pada 2005.
Sebuah International Roundtable: Increasing Access to HIV Treatment in Resource Poor Settings dilakukan di Canberra, Australia pada September. Di antara 85 peserta, dari 18 negara, ada lima dari Indonesia.
Tema Hari AIDS Sedunia 2002 ditetapkan oleh BKKBN sebagai ‘Tetap Hidup dengan Tegar’. Tema internasional adalah ‘Live and Let Live’.
Dirjen Farmasi Depkes memasukkan AZT, 3TC dan nevirapine dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) untuk semua rumah sakit tipe A dan tipe B se-Indonesia.
Sejarah 2003
Pertemuan Nasional Odha ke-3 dilakukan oleh Spiritia di Cikopo, Puncak pada Februari, dihadiri oleh 50 Odha dan Ohidha dari seluruh Indonesia. Peserta menyetujui dikeluarkannya “Pernyataan Cikopo” sebagai suatu hasil dari pertemuan itu.
“Tegak Tegar – Hidup Positif Bersama HIV”, Pameran Foto Karya Rio Helmi, yang didedikasikan untuk Almarhumah Suzana Murni, diluncurkan di Gedung DPR-RI, Senayan, Jakarta pada Februari. Foto dalam pameran menunjukkan beberapa Odha di Indonesia dalam kegiatan sehari-hari.
Pada Maret, Menteri Kesehatan RI mengatakan bahwa pemerintah akan memberi subsidi ARV generik sebesar Rp 200.000 per bulan untuk setiap Odha yang membutuhkannya. Beberapa provinsi memutuskan untuk menyediakan ARV secara gratis untuk sejumlah Odha di provinsinya.
Pada Juli, penyediaan ART untuk 100 Odha di Indonesia yang didanai oleh Global Fund mulai direncanakan.
Program Global Fund Ronde I Fase 1 untuk HIV dimulai di Indonesia pada Juli. Program ini diutamakan untuk memberi ARV pada 100 Odha di lima provinsi.
Pada Agustus 2003, Kimia Farma meluncurkan produk ARV-nya. Pada awal disediakan AZT (Reviral), 3TC (Hiviral), gabungan AZT+3TC (Duviral), serta nevirapine (Neviral). Namun rencana awal untuk membuat gabungan AZT+3TC+nevirapine dengan nama Triviral tidak berhasil. Harga untuk Duviral dan Neviral ditetapkan sebagai Rp 345.000.
Jogjakarta Round Table Meeting, yang dihadiri oleh peserta dari 16 negara dengan tujuan mengevaluasi pelaksanaan akses ART, diselenggarakan pada September. Pertemuan ini adalah lanjutan dari pertemuan serupa yang dilakukan di Canberra pada 2002.
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) meluncurkan Strategi Nasional Penanggulangan AIDS 2003-2007.
Menyambut Hari AIDS Sedunia, Presiden Republik Indonesia Megawati bertemu dengan beberapa Odha di istana negara.
Tema Hari AIDS Sedunia 2003 ditetapkan oleh Departemen Sosial sebagai ‘Stigma dan Diskriminasi’.
Pada akhir 2003, diperkirakan 1.100 Odha memakai ART di Indonesia.
Sejarah 2004
Pada 19 Januari, wakil dari pemerintah enam provinsi yang dianggap paling rentan terhadap HIV (Papua, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, DKI Jakarta, dan Riau), pada pertemuan di Papua dengan Ketua KPA Jusuf Kalla dan wakil dari enam departemen serta Ketua Komisi VII DPR-RI, Dr. Sanusi Tambunan, menyatakan Komitmen Sentani. Di antara tujuh pasal dalam komitmen tersebut, para peserta berjanji akan “Mengupayakan pengobatan HIV/AIDS termasuk penggunaan ARV kepada minimum 5.000 Odha pada tahun 2004.”
Pertemuan Nasional Odha ke-4 dilakukan oleh Spiritia di Tretes, Jawa Timur pada Februari, dihadiri oleh 60 Odha dan Ohidha dari seluruh Indonesia. Peserta menyetujui dikeluarkannya “Pernyataan Tretes” sebagai suatu hasil dari pertemuan itu.
Departemen Kesehatan menetapkan 25 rumah sakit di 15 provinsi sebagai Rumah Sakit Rujukan AIDS, tahap pertama. Sedikitnya dua dokter, satu perawat dan satu konselor dari masing-masing rumah sakit diberi pelatihan khusus.
Spiritia meluncurkan prakarsa pencegahan untuk Odha yang disebut “HIV Stop di Sini”, yang dimaksudkan membantu memutuskan rantai penularan.
Yayasan Spiritia melakukan pelatihan Pendidik Pengobatan pertama di Jakarta, dengan melibatkan 45 peserta dari kelompok dukungan sebaya dan komunitas di seluruh Indonesia.
Setelah upaya advokasi yang melibatkan kelompok dukungan sebaya dari seluruh Indonesia, Depkes mengubah kebijakan untuk menyediakan ART dengan subsidi penuh pada 4.000 Odha.
Dilakukan Pertemuan Nasional KDS ke-2 di Sanur Bali pada November, dihadiri oleh wakil dari 33 kelompok dukungan sebaya (KDS) untuk Odha/Ohidha dari 24 kota dan 20 provinsi. Peserta menyetujui dikeluarkan “Pernyataan Bali” sebagai suatu hasil dari pertemuan itu.
Tema Hari AIDS Sedunia 2004 ditetapkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan sebagai ‘Perempuan, Remaja Putri, HIV dan AIDS’, dengan slogan “Sudahkah Kau Dengar Aku Hari Ini?” Tema internasional adalah ‘Women, Girls, HIV and AIDS’, dengan slogan “Have You Heard Me Today?”.
Sejarah 2005
Setelah mengevaluasi kinerja penerapan Fase 1 programnya Ronde I di Indonesia, Global Fund memutuskan untuk memotong dana untuk Fase 2 (Juli 2005-Juni 2007) dari 9 juta dolar AS menjadi 900.000 dolar.
Terkait dengan kunjungan Kofi Annan, Sekretaris-Jenderal PBB ke Indonesia, untuk Konferensi Asia-Afrika, istrinya, Ibu Nane Annan mengunjungi Spiritia. Di kantor Spiritia, Ibu Nane berbincang dengan kurang lebih 20 Odha dari berbagai latar belakang.
Pada Mei, Agustina Saweri, meninggal dunia di Jayapura. Odha berusia 26 tahun itu memperoleh embel-embel ‘Buah Merah’ di namanya setelah ia diboyong ke Jakarta pada Oktober 2004 untuk memberi kesaksian tentang khasiat buah tersebut sebagai alternatif pengobatan AIDS. Agustina didesak untuk berhenti penggunaan ART-nya, karena tidak dibutuhkan lagi setelah memakai Buah Merah.

International Congress on AIDS in Asia and the Pacific (ICAAP) ke-7 dilakukan di Kobe, Jepang pada Juli, dengan tema ‘Bridging Science and Community(Menjembatani Ilmiah dan Komunitas).’
Spiritia melaksanakan Kongres Nasional Odha pertama di Lembang, Jawa Barat, pada September, dihadiri oleh 120 peserta Odha dan Ohidha. Peserta mengeluarkan “Pernyataan Lembang” seusai pertemuan.
Tema Hari AIDS Sedunia 2005 ditetapkan oleh Departemen Dalam Negeri sebagai ‘Kepemimpinan dan Penanggulangan HIV/AIDS’. Tema internasional adalah ‘Stop AIDS. Keep the Promise’.
KPA Nasional mengeluarkan rencana program akselerasi di 100 Kabupaten/Kota tahun 2005. Rencana ini dicanangkan pada Hari AIDS Sedunia oleh Bapak Wakil Presiden.
Sejarah 2006
Pada Januari, laboratorium resistansi genotipe HIV mulai diuji coba di Departemen Mikrobiologi FKUI. Lab ini disediakan untuk melakukan surveilans resistansi untuk Depkes.
Pada Mei, dilakukan International AIDS Candlelight Memorial (Malam Renungan AIDS) dengan tema internasional “Lighting the Path to a Brighter Future.” Antara lain, kegiatan diadakan di Tangerang, Lombok, Kediri, Malang dan Jogja.
Juga pada Mei, diluncurkan buku ‘Dua Sisi dari Satu Sosok,’ kumpulan tulisan Suzana Murni. Buku ini, yang disusun oleh Putu Oka Sukanta, mengandung 43 artikel dan puisi karya Suzana, sebagian diterjemahkan dari tulisan asli dalam bahasa Inggris.

Peraturan Presiden (PP) RI Nomor 75 Tahun 2006 tentang Komisi Penanggulangan AIDS Nasional ditandatangani oleh Bapak Presiden pada 13 Juli 2006. Antara yang lain, PP ini menetapkan Dr. Nafsiah Ben Mboi sebagai Sekretaris.
Situs web Spiritia bangkit kembali pada Juni. di antara fitur yang pada awal tersedia adalah akses pada berbagai dokumen Spiritia (termasuk semua Lembaran Informasi), statistik Depkes dari 1995, dan informasi mengenai kelompok dukungan sebaya dalam jaringan se-Indonesia.
Pada Agustus diluncurkan situs web www.aids-ina.org yang merupakan langkah awal dari beberapa aktivis dan pemerhati untuk melengkapi forum milis aids-ina. Diharapkan situs web ini bisa menjadi pusat informasi terhadap isu HIV-AIDS di Indonesia.
Juga pada Agustus, diumumkan bahwa penyebaran HIV/AIDS di Tanah Papua diperkirakan telah memasuki kelompok masyarakat umum (generalized epidemic).
Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat/Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Nasional pada acara penyerahan AIDS Award 2006 di Hotel Nikko di September. AIDS Award event di anugerahkan kepada 19 perusahaan yang telah menunjukkan prestasi dalam melaksanakan program penanggulangan AIDS di tempat kerja. AIDS Award Event 2006 diselenggarakan oleh KPA Nasional.
Ada pertemuan antara Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto dengan sekretaris KPA Nasional Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH di Markas Besar TNI Cilangkap pada Oktober. Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto mengatakan bahwa upaya pencegahan penularan HIV di lingkungan TNI sangat penting untuk segera ditingkatkan pelaksanaannya di semua jajaran TNI termasuk di komando utama (KOTAMA).
Tema Hari AIDS Sedunia 2006 ditetapkan oleh Departemen Kesehatan sebagai ‘STOP AIDS – Tepati Janji’, dengan fokus pada akuntabilitas. Tema internasional tetap ‘Stop AIDS. Keep the Promise,’ sama seperti tahun sebelumnya.
Sejarah 2007
Buku Suzana Murni, ‘Lilin Membakar Dirinya,’ biografi Suzana oleh Putu Oka Sukanta, diluncurkan pada Januari.
Pada Februari, PB IDI (Bidang Penyakit Menular) bersama ASHM (Australasian Society HIV Medicine) mengadakan Kursus Nasional tentang Koinfeksi HIV-Hepatitis Virus selama dua hari yang merupakan kegiatan penting Pra-Pertemuan Nasional HIV/AIDS ke-3.

Pertemuan Nasional HIV & AIDS ke-3 dilakukan di Surabaya pada Februari dengan tema “Menyatukan Langkah untuk Memperluas Respons.” Antara lain, Strategi Nasional Penanggulangan AIDS 2007-2010 diluncurkan di pertemuan ini.

Bantuan Dana Global Fund untuk penanggulangan AIDS, TB, dan Malaria untuk Indonesia dihentikan sementara mulai pertengahan bulan Maret. Alasan utama penghentian aliran dana untuk tiga penyakit menular tersebut karena ditemukan “mismanagement” dalam pengelolaan dana tersebut.
Pada Juli, diketahui bahwa Komisi E DPR Provinsi Papua, dalam Rancangan Perdasi (Peraturan Daerah Provinsi) terkait penanggulangan HIV dan AIDS di Papua mengusulkan pemasangan microchip dan anjuran pemeriksaan wajib HIV bagi setiap warga Papua, didorong oleh anggota Dr. John Manangsang.

Spiritia melaksanakan Kongres Nasional Odha dan Ohidha ke-II Peningkatan Pemberdayaan dan Keterampilan dalam Menghadapi HIV dan AIDS di Lido 29 Juli-1 Agustus 2007 dengan tema “Peduli AIDS – Jangan Hanya Slogan.”

Pada Agustus, di International Congress on AIDS in Asia and the Pacific (ICAAP) ke-8 di Colombo, Sri Lanka, diumumkan bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah untuk ICAAP ke-9 di Bali pada 2009.
Dana Global Fund, yang dibekukan pada Maret 2007, dicairkan lagi pada Oktober.

Presiden SBY menyambut Mas Dhayan
Tema Hari AIDS Sedunia 2007 ditetapkan oleh BKKBN sebagai ‘STOP AIDS – Tepati Janji,’ dengan fokus pada kepemimpinan. Tema internasional tetap ‘Stop AIDS. Keep the Promise,’ sama seperti dua tahun sebelumnya. Di antara kegiatan terkait dengan Hari AIDS, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan pertemuan di Istana Negara. Puncak acara adalah dialog langsung Presiden SBY dengan Odha dan keluarganya. Dalam dialog yang dipandu langsung oleh Bpk. Aburizal Bakri selaku ketua KPA Nasional ini, Presiden berkesempatan mendengarkan langsung hal yang dialami oleh Odha. Tanggapan dan jawaban yang diberikan oleh Presiden dalam dialog tersebut secara nyata dirasakan langsung oleh peserta dialog. seperti yang disampaikan oleh Luh Putu Ikha, perwakilan dari Bali, bahwa peran Odha dalam penanggulangan HIV/AIDS di tanah air perlu didukung oleh pemerintah.
Pekan Kondom Nasional (PKN) Pertama dilaksanakan 1-8 Desember 2007 dengan kegiatan yang mencakup pembagian materi edukasi ke berbagai pelosok daerah di Indonesia, pelatihan, talkshow, konser musik, dan lomba karya tulis dan fotografi bagi wartawan dan blogger. Akibat PKN ini, KPA Nasional didemo dua kali, dengan tuduhan “merusak moral bangsa,” dan mereka sama sekali tidak mau dengar penjelasan dari Ibu Nafsiah Mboi, Sekretaris KPA Nasional.
Pada akhir 2007, dilaporkan 11.570 Odha pernah mulai ART, dengan 6.653 (58%) masih memakainya.
Sejarah 2008
Komunitas TNI mengumumkan pada Januari bahwa akan melaksanakan proyek percontohan untuk pelayanan terpadu HIV-AIDS di Jatim khususnya bagi masyarakat TNI.
Penasihat Khusus Sekjen PBB dan utusan khusus untuk HIV dan AIDS di Asia Pasifik, Nafis Sadik, yang menunjungi Indonesia pada Februari, mengujar bahwa, “Targetnya MDG 2015 tidak akan tercapai, jika keadaan AIDS tidak dapat ditanggulangi secara baik.” Menurutnya, penyebaran epidemi HIV di Indonesia telah mengalami peningkatan. Pertambahan itu menurutnya banyak disebabkan oleh penularan infeksi melalui transmisi seksual.
Pertemuan Nasional Harm Reduction dilakukan di Makassar pada Juni. Pada pertemuan tersebut, Asisten Deputi Sekretaris KPA Nasional Inang Winarso mengatakan, dari 3.000 pasien yang mengikuti program Metadon di seluruh Indonesia, 20% di antaranya telah terbebas sebagai pengguna dan pecandu narkoba. Juga pada pertemuan itu, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Aburizal Bakrie juga mengampanyekan penggunaan kondom di kalangan pengguna Napza.
Dalam Kongres Anak Indonesia VII 2008, yang dilakukan pada Juli terkait dengan Hari Anak Indonesia (HAN) 2008 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, peserta merumuskan “Suara Anak Indonesia.” Mereka bertekad meningkatkan pemahaman cara hidup sehat, hak kesehatan reproduksi, agar terhindari dari bahaya penyakit menular, HIV/AIDS serta penyalahgunaan narkotika. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan jajaran menteri terkait menindaklanjuti hasil kongres tersebut.

Melalui Musyawarah Nasional Orang Terinfeksi HIV yang dilakukan secara terbatas dan dihadiri oleh 124 orang terinfeksi HIV berasal dari 27 provinsi pada Juli, telah membentuk sebuah organisasi yang bernama Jaringan Orang Terinfeksi HIV (JOTHI). Dipilih Abdullah Denovan sebagai Koordinator Nasional dengan periode kerja dua tahun.
Sekretaris Nasional Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Nafsiah Mboi memprediksi pada Juli bahwa jumlah kasus HIV dan AIDS pada 2020 akan melonjak menjadi 2 juta kasus. Sekitar 80% di antaranya menimpa kaum laki-laki.
Pada pertemuan di IDI di Oktober, diumumkan bahwa estimasi jumlah orang terinfeksi HIV di Indonesia sudah menjadi 277.000.
Masyarakat Peduli AIDS Nasional (Mapan) – yang menggabungkan antara lain Jaringan orang terinfeksi HIV (JOTHI) Jakarta, Persatuan korban Napza dan LBH Kesehatan sebagai pendamping – pada November melakukan aksi di depan Kantor Perwakilan PBB di Menara Thamrin, Jakarta. Mereka menuntut Koordinator UNAIDS Indonesia Nancy Fee dipecat dan keluar dari Indonesia. Salah satu yang disuarakan mereka, selama ini UNAIDS tidak memberikan kontribusi nyata bagi penanggulangan AIDS di Indonesia.
Akhirnya, pada Desember, pasal di Raperdasi Provinsi Papua mengenai microchip dibatalkan, setelah banyak advokasi oleh orang di seluruh Indonesia.
Tema Hari AIDS Sedunia 2008 ditetapkan oleh ???? sebagai ‘Yang Muda Yang Membuat Perubahan.’ Tema internasional tetap ‘Stop AIDS. Keep the Promise’ dengan fokus pada kepemimpinan, sama seperti dua tahun sebelumnya.
KPAN, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan DKT Indonesia menggelar Pekan Kondom Nasional (PKN) ke-2 yang diadakan pada minggu pertama Desember. Kegiatan ini diawali dengan Konferensi Kondom pada 1 Desember 2008 yang dibuka Menkokesra Aburizal Bakrie. Namun kegiatan ini dilawan dengan Kampanye Antikondomisasi, dengan konferensi pers berjudul “Stop Kondomisasi untuk Penyebaran HIV/AIDS” oleh LSM Merc.
Pada akhir 2008, dilaporkan 17.880 Odha pernah mulai ART, dengan 10.616 (59%) masih memakainya.

SUMBER : (http://www.spiritia.or.id)