Minggu, 15 April 2012
Pearls of Comprehensive Care in Pediatrics 12-13 Mei 2012 (Banda Aceh)
Sabtu, 12 Mei 2012
07.30 – 08.30 Pendaftaran Ulang
08.30 – 09.00 Pembukaan
09.30 – 10.00 Keynote speech
10.00 – 10.20 Pre-test dan Pembukaan pameran
Moderator Dr. M. Sidqi Anwar, Sp.A
Dr. Hikari Ambara Sjakti, Sp.A(K)
Clinical Problems in Newborns
10.20 – 11.20 NID CAP: How to achieve infant’s growth and
development by new neonatal approach
DR.Dr. Rinawati Rohsiswatmo, SpA(K)
11.20 – 11.40 Tata laksana kejang pada neonatus
Dr. Setyo Handryastuti, Sp.A(K)
11.40 – 11.55 Diskusi
11.05 – 11.20 Rehat kopi dan Kunjungan pameran
Early detection and management problems in children
11.20 – 11.40 Deteksi dini gangguan pendengaran dan
penglihatan
Dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K)
11.40 – 12.00 Deteksi dini gangguan gizi pada anak
Dr. Titis Prawitasari, Sp.A(K)
12.00 – 12.20 Catch up immunization
Dr. Toto W. Hendrarto, Sp.A(K),DTMH
12.20 – 12.35 Diskusi
12.35 – 12.20 Lunch symposium
12.20 – 13.20 ISHOMA
13.20 – 17.00 Workshop
W1: Neurologi: Status epileptikus
W2: Neurologi: Infeksi susunan saraf pusat
W3: Neonatologi: Penanganan komprehensif
BBLR: perawatan dan asuhan nutrisi
W4: Kardiologi: Cara cepat dan mudah membaca
EKG
Minggu, 13 Mei 2012
Moderator DR.Dr. Aryono Hendarto, Sp.A(K)
Dr. Isra Firmansyah, Sp.A
Respiratory and cardiac disorders
08.00 – 08.20 Community acquired pneumonia: etiologi dan tatalaksana
Dr. Nurjanah, Sp.A(K)
08.20 – 08.40 Batuk kronik berulang: diagnosis dan tata laksana
Prof.DR.Dr. Bambang Supriyatno, Sp.A(K)
08.40 – 09.00 Kelainan jantung yang sering ditemukan pada praktek sehari-hari
Dr. Herlina Dimiati, Sp.A(K)
09.00 – 09.20 Terapi intervensi pada penyakit jantung bawaan
DR.Dr. Mulyadi M. Djer, Sp.A(K)
09.20 – 09.35 Diskusi
09.35 – 09.50 Rehat kopi dan kunjungan pameran
Other problems in child health
09.50 – 10.10 Pemantauan bayi risiko tinggi di ruang praktek sehari-hari
DR.Dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K)
10.10 – 10.30 Kejang disertai demam: Apa yang perlu diwaspadai?
Dr. Anidar, Sp.A
10.30 – 10.50 Epilepsi pada anak: Apa yang perlu dicermati?
Dr. Irawan Mangunatmadja, Sp.A(K)
10.50 – 11.10 Sindrom nefrotik: Kapan perlu dirujuk?
DR.Dr. Partini P. Trihono, Sp.A(K)
11.10 – 11.25 Diskusi
11.25 – 11.45 Post-test
11.45 – 12.30 Lunch symposium
12.30 – 13.30 ISHOMA
13.30 – 17.00 Investigator award
13.30 – 17.00 Workshop
W5: Neurologi: Status epileptikus
W6: Neurologi: Infeksi susunan saraf pusat
W7: Respirologi: Penanganan kegawatan pada kasus pediatri respirologi
W8: Nutrisi: Pemberian diet pada bayi dengan gagal tumbuh
Announcment dapat di download di : Booklet_PKB_ACEH_Mei_2012
Minggu, 01 April 2012
FAKULTAS KEDOKTERAN UNSYIAH
Gagasan dan pemikiran untuk mendirikan Fakultas Kedokteran di jajaran Universitas Syiah Kuala, pertama kali dicetuskan Drs. Marzuki Nyakman sebagai Ketua Presidium Universitas Syiah Kuala, dengan mengeluarkan Surat Keputusan No. 2411/Unsyiah/UP-1964, tentang Pembentukan Panitia Persiapan Pendirian Fakultas Kedokteran dalam lingkungan Universitas Syiah Kuala. Panitia ini diketuai oleh T.Oesman Jacob (Walikota Banda Aceh pada waktu itu) dan H. Zaini Bakri (Bupati Aceh Besar) sebagai wakil ketua. Panitia ini belum mampu merealisir lahirnya Fakultas Kedokteran di Universitas Syiah Kuala karena banyak persyaratan yang belum dipenuhi, diantaranya Rumah Sakit Umum Banda Aceh belum mempunyai kemampuan untuk dapat mendidik calon dokter, kurangnya sumber dana dan berbagai fasilitas, sarana dan prasarana lainnya masih menjadi kendala yang sangat besar, di pihak lainnya Universitas Syiah Kuala masih berusia relatif muda.
Menteri Kesehatan RI menaruh perhatian yang sangat besar terhadap adanya Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala. Hal ini terbukti dengan suratnya untuk Panglima Komando Antar Daerah (KOANDA) seluruh Sumatera di Medan, tanggal 3 Oktober 1967 No. Kab/BCH/249/67 yang isinya meminta KOANDA agar dapat membantu menyiapkan pembangunan RSU Banda Aceh menjadi Rumah Sakit Pendidikan (Teaching Hospital). Oleh karena faktor politik pada waktu itu belum mendukung dan faktor penunjang lainnya juga belum memadai, maka panitia belum mampu merampungkan tugasnya.
Pada saat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Daoed Joesoef melakukan kunjungan kerja ke Daerah Istimewa Aceh tanggal 11 Juni 1979, beberapa Tokoh Masyarakat, Pemerintah Daerah, DPRD dan Majelis Ulama meminta agar Menteri bersedia memberikan fasilitas dan prioritas untuk adanya Fakultas Kedokteran di Daerah Istimewa Aceh. Atas permintaan tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan berkenan untuk menyetujuinya.
Sebagai langkah pertama kearah tersebut, maka Gubernur/KDH Istimewa Aceh waktu itu Prof. A. Majid Ibrahim membentuk Badan Persiapan Pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh, dengan Surat Keputusan No. 412.5/321/1979 tanggal 23 Juni 1979. Dewan penasehat adalah Gubernur dan Muspida lainnya, sebagai Ketua ditunjuk Muhammad Hasan Basri (Sekwilda Daerah Istimewa Aceh), Wakil Ketua I Prof. Dr. Ibrahim Hasan (Rektor Unsyiah) dan Wakil Ketua II Dr. Yulidin Away, Sekretaris Dr. Nek Muhammad (Direktur RSU Banda Aceh), Bendahara Dr. Kamaruzzaman, sebagai Pembantu Umum merangkap anggota yaitu Drs. Karimuddin Hasybullah, Dr. Ridhwan Ibrahim, SpB dan Dr. T. Makmur Mohd Zein, SKM.
Hasil kerja Badan ini dituangkan dalam Buku Laporan Tentang Persiapan Pendirian/Pembukaan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh tahun 1979. Laporan ini diserahkan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta pada awal Agustus 1979. Sebagai langkah selanjutnya, Direktorat Jenderal Pendidikan dan Kebudayaan membentuk Tim Evaluasi Pembukaan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala dengan Surat Keputusan No. 028/Dj/Kep/79, tanggal 2 Oktober 1979. Laporan Tim pada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi disampaikan bulan November 1979.
Pada bulan Januari 1980, Konsorsium Ilmu Kedokteran dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menetapkan Program Pengembangan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala segera terwujud dan Rektor Universitas Syiah Kuala dengan Surat Keputusan No. 20 tahun 1980, tanggal 14 Mei 1980 membentuk Tim Inti Pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala. Kemudian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan Surat Keputusan No. 0217/0/1980 tanggal 27 Agustus 1980, menugaskan Universitas Syiah Kuala dan Konsorsium Ilmu Kedokteran untuk mempersiapkan Pembukaan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.
Pada tahap awal yaitu tahun 1980, 1981, dan 1982 Universitas Syiah Kuala bekerjasama dengan beberapa Universitas negeri lainnya seperti Universitas Sumatera Utara, Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Universitas Padjajaran, Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Universitas Udayana, dan Universitas Hasanuddin. Adapun bentuk kerjasama yang dilakukan adalah dalam rangka pengembangan calon staf pengajar dan proses seleksi calon-calon mahasiswa untuk dididik di Fakultas Kedokteran pada Universitas-universitas yang telah disebutkan diatas, dengan status titipan belajar untuk kemudian diharapkan akan menjadi calon staf akademik Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.
Sebagai realisasi dari SK No. 0217/0/1980 tersebut, pada hari jadi Universitas Syiah Kuala ke XIX tanggal 2 September 1980 di Gedung DPRD Provinsi Daerah Istimewa Aceh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Joesoef menandatangani Piagam Peresmian Pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala. Pada saat yang sama Badan Persiapan Pembukaan Fakultas Kedokteran Banda Aceh menyerahkan Fakultas Kedokteran kepada Universitas Syiah Kuala.
Berdasarkan SK No. 0217/O/1980 di atas, Rektor Universitas Syiah Kuala membentuk Panitia Persiapan pembukaan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala melalui Surat Keputusan No. 05 Tahun 1981 tanggal 19 Februari 1981, bersamaan dengan pencabutan kembali Surat Keputusan Presidium Universitas Syiah Kuala No. 2411/Unsyiah/Up/1964, tanggal 10 Nopember 1964 dan Surat Keputusan Rektor No. 20 Tahun 1980, tanggal 14 Mei 1980.
Pada tanggal 1 April 1982, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Joesoef menyampaikan Keputusan Presiden RI No. 16 Tahun 1982 tentang Susunan Organisasi Universitas Syiah Kuala yang diantaranya menyatakan bahwa Universitas Syiah Kuala terdiri dari antara lain Fakultas Kedokteran.
Pada Tahun 1982 Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK UNSYIAH) menempati gedung Akademi Pemerintahan Dalam Negeri di jalan T. Nyak Arief, kemudian pada tahun 1986 pindah ke gedung Biro Rektor yang berada di Jalan Tgk Chik Pante Kulu dan pada tahun 1988 Fakultas Kedokteran telah memiliki bangunan seluas 4389 m2 yang sekarang terletak di jalan Tgk Syech Abdul Rauf Darussalam-Banda Aceh, yang dibangun diatas areal seluas 61.650 m2,sedangkan gedung kuliah yang berada di Kompleks RSU Dr. Zainoel Abidin memiliki luas sekitar 725 m2 .
Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) didirikan sebagai upaya memenuhi hasrat seluruh masyarakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan umumnya menjadi pilihan utama bagi calon mahasiswa, baik calon mahasiswa yang berasal dari dalam maupun dari luar Provinsi NAD. Dalam menghadapi berbagai permasalahan kesehatan, pemerintah telah merencanakan berbagai upaya baik berupa pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat sehingga tercapai tujuan pembangunan di bidang kesehatan yang sejalan dengan paradigma baru pendidikan tinggi.
PSPD merupakan salah satu dari program studi yang sangat aktif di Fakultas Kedokteran Unsyiah. Keaktifan tersebut dapat dinilai dari peningkatan jumlah mahasiswa yang mendaftar dan yang diterima setiap tahun akademik, demikian pula dengan peningkatan jumlah staf pengajar yang dibutuhkan. Sesuai dengan rencana pengembangannya, peningkatan jumlah dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) terutama dalam hal pengembangan staf pengajar telah dilakukan sejak awal berdirinya FK-UNSYIAH sampai saat ini. Hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya peningkatan kualifikasi akademik staf pengajar yang telah memperoleh gelar Professor 3 orang, Doktor 4 orang, Master 24 orang, Dokter 41 orang, Dokter Spesialis 65 orang, Dokter Spesialis Konsultan 7 orang, Dokter Gigi Spesialis 2 orang, Dokter Gigi 3 orang dan Sarjana (S-1) lainnya 15 orang. Hingga kini secara berkelanjutan beberapa staf pengajar sedang mengikuti pendidikan lanjutan, dengan kualifikasi Doktor (PhD), Master, Dokter Spesialis, dan Dokter Spesialis Konsultan, baik di dalam negeri maupun diluar negeri.
Pada tahun 1999, melalui Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan kebudayaan RI Nomor 298/DIKTI/Kep/1999 menetapkan Program Studi Ilmu Keperawatan pada Fakultas Kedokteran Unsyiah. Tahun perdana penerimaan dimulai pada tahun 1999/2000 melalui seleksi khusus (Program PSIK-A) yang diadakan oleh Universitas Syiah Kuala. Penerimaan mahasiswa baru PSIK FK mulai tahun 2000 melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Penerimaan mahasiswa Program B (latar belakang pendidikan Diploma III Keperawatan) dimulai sejak tahun ajaran 2000 melaui seleksi khusus yang diadakan oleh Universitas Syiah Kuala. PSIK-FK Unsyiah menerapkan Kurikulum Nasional Pendidikan Ners dan kurikulum muatan lokal yang terdiri atas dua tahap program pendidikan yaitu Program Pendidikan Akademik dan Program pendidikan Profesi yang merupakan satu kesatuan yang akan menghasilkan tenaga perawat professional atau Ners.
Pada Januari 2003 Fakultas Kedokteran membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis-I (PPDS-I) pada Fakultas Kedokteran Unsyiah. Beberapa bidang ilmu yang dibuka pada tahun tersebut adalah bidang Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Penyakit Saraf, Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Ilmu Bedah, Ilmu Bedah Ortopedi dan Anestesiologi dengan pembina FK USU, FK UI dan FK Unhas.
Program Studi Kedokteran Gigi (PSKG) adalah program studi yang lahir berikutnya pada Fakultas Kedokteran Unsyiah dan penerimaan mahasiswa perdana dilaksanakan pada tahun 2006 oleh Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, baru pada tahun 2007 seleksi melalui SPMB. Kurikulum yang diterapkan pada Program Studi Kedokteran Gigi adalah Kurikulum Nasional Berbasis Kompetensi (KBK) dengan metode Problem Based Learning (PBL) dengan pembina FKG UI Jakarta.
Pada tahun 2007 Fakultas Kedokteran Unsyiah membuka Program Studi Psikologi yang mulai menerima mahasiswa baru tahun 2007. Program studi ini dalam pembukaannya terlaksana atas kerjasama dengan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta.
Dalam penerapan kurikulum di FK Unsyiah mulai tahun 1982 sampai dengan Agustus 2006, masih menggunakan KIPDI II yang berorientasi pada teacher centered, dengan menggunakan sistem kredit semester, yang membutuhkan waktu pendidikan selama 6 tahun (12 semester).
Mulai 4 September 2006 Fakultas Kedokteran Unsyiah kemudian menerapkan kurikulum baru bagi mahasiswa angkatan tahun ajaran 2006/2007 yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia -III (KIPDI III). Untuk implementasi KIPDI III disusun kurikulum Fakultas yang disahkan oleh Senat Fakultas Kedokteran Unsyiah. Lama studi dengan KBK ini 11 semester (5,5 tahun) yang terdiri dari tahap akademik 7 semester (3,5 tahun) dan tahap profesi 4 semester (2 tahun). Proses pembelajaran KBK menggunakan metode PBL.
Sumber : Buku Panduan FK Unsyiah
Gedung HPEQ dan Ruang Kuliah
Bundaran Fakultas Kedokteran Unsyiah
Laboratorium Keterampilan Medik
Mushalla Asysyifaa
Gedung Prodi Psikologi
Gedung Tutorial
Prodi Keperawatan
Info Lebih lanjut kunjungi : www.fk.unsyiah.ac.id
Minggu, 25 Maret 2012
Selasa, 06 Maret 2012
PDUI : Membentuk Citra Baru Dokter Umum
Setelah dikukuhkan dalam muktamar lalu, PDUI segera melakukan beberapa langkah strategis untuk anggotanya, baik soal kesejahteraan maupun kompetensi. Ada target yang dipasang oleh pengurusnya.
Palu pada sidang pleno Muktamar Dokter Indonesia XXVII telah diketuk. Hasil sidang telah mengesahkan terbentuknya beberapa perhimpunan kedokteran baru. Salah satunya adalah perhimpunan yang termasuk perhimpunan dokter pelayanan primer, yaitu Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI). Putusan ini, melegakan bagi Dr. Mawari Edy dan kawan-kawan, setelah melewati berbagai rintangan untuk memiliki 'kamar' sendiri di 'rumah' mereka, 'rumah' bernama IDI.
PDUI melewati tiga fase dalam sejarahnya. Fase pertama adalah sebelum lokakarya pada tanggal 4 Agustus 2007. "Dari lokakarya itu mulai muncul gagasan untuk membentuk persatuan, perhimpunan, atau apalah namanya untuk menaungi dokter umum," kata Mawari. Fase 2 adalah paska lokakarya hingga deklarasi tanggal 14 Agustus 2008. Setelah itu fase 3, fase terakhir menjelang perhimpunan ini diresmikan dalam muktamar yaitu pada Kongres November 2009 lalu. Sebelum fase pertama, upaya konsolidasi, advokasi, maupun upaya untuk mengurus keprofesian masih nampak kabur.
Dr. Imelda Datau bersama rekan-rekan sempat memunculkan organisasi yang bernama Persatuan Dokter Indonesia (PDrI). "Ada ide dari teman-teman untuk membuat organisasi lain di luar IDI untuk menaungi dokter umum," ujar Imelda. PDrI melakukan deklarasi di Gedung Stovia. Beberapa senior juga sempat menyatakan dukungannya. Apa reaksi IDI? "Waktu itu saya dicurigai melakukan gerakan politik. Kami dikira hendak membentuk IDI tandingan. Saya bilang kami hanya ingin ada yang mengurusi dokter umum," ujar Imelda.
Dr. Fahmi Idris yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Jendral PB IDI mencoba berdialog dengan para dokter umum yang bersemangat tersebut. Fahmi mengajak para doter umum tersebut untuk bersama-sama memikirkan langkah ke depan untuk dokter umum. Pada hakekatnya, menurut Mawari, mereka menyadari, bahwa organisasi profesi selayaknya adalah satu yang bisa menaungi kepentingan anggota-anggotanya. Imelda dan rekan diminta untuk duduk dalam kepengurusan IDI untuk bersama-sama membangun korps dokter umum. PDrI dalam perjalanannya dibekukan, dan para pendirinya berkonsentrasi untuk membuat perhimpunan selanjutnya di bawah payung IDI.
Muktamar IDI lalu pun, masih menyisakan pe-er untuk para pemangku jabatan di PB IDI. Keputusan mengenai kolegium belum dibuat, apakah kolegium PDUI adalah kolegium yang sudah ada saat ini, atau dibentuk kolegium baru. "Kami akan mengikuti aturan yang disepakati dalam muktamar," kata Mawari.
Rapatkan Barisan, Tingkatkan Kesejahteraan
Hingga akhirnya PDUI dikukuhkan dalam Muktamar lalu, para dokter umum menemukan tonggaknya untuk memulai fase perjuangan selanjutnya. Bergerak bersama-sama untuk maju memerlukan semangat dan usaha yang tak pernah putus. Dengan visi "Dokter umum yang profesional, bermartabat, dan sejahtera", general practitioner mulai menyusun berbagai langkah. Profesional berarti kompeten dan bermartabat untuk menjunjung nilai etik kedokteran yang seharusnya. Sejahtera memiliki makna bahwa dokter umum dapat memenuhi kebutuhan primer maupun sekunder. "Kebutuhan di sini bukan hanya kebutuhan biologis, tapi juga kebutuhan untuk CPD, dan kebutuhan sekunder adalah bagaimana kami dapat mengembangkan ilmu," kata Mawari.
Dalam jangka pendek juga, masalah P2KB (Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan) akan menjadi hal yang mendesak. Untuk mendukung P2KB, PDUI akan mengadakan berbagai kegiatan yang memiliki nilai SKP untuk pengumpulan skor. "Kami juga akan membantu dalam pengurusan STR," kata Mawari. Untuk melengkapi pre registrasi STR, PDUI akan memonitor apakah nilai SKP seorang dokter umum sudah mencukupi dan apakah yang bersangkutan sudah mendaftar P2KB melalui online.
Bagi dokter yang berada di daerah pedalaman atau perbatasan yang memiliki hambatan untuk mengakses informasi, PDUI akan memberikan bantuan agar hal tersebut tidak menghalangi dokter dalam memenuhi aturan P2KB. Demikian juga berbagai informasi akan disebarluaskan melalui berbagai media dan kegiatan seperti seminar, brainstorming, getok tular, sms berantai, jejaring sosialfacebook, situs PDUI, atau layanan lain yang tersedia di ranah maya. Pada dasarnya, menurut Mawari, PDUI mengajak seluruh anggota PDUI untuk menyadari bahwa program P2KB ini adalah kepentingan dokter umum, bukan semata kepentingan lembaga. Yang terbaik adalah seluruh jajaran dokter umum baik pengurus maupun anggota bergerak secara sinergis. "Jadi kita bersama-sama mengurusi urusan kita ini. Itu sejak awal kami tekankan di PDUI," ujar Mawari. "Jadi ketua PDUI bukan berarti bosnya dokter umum."
Masalah lain yang akan menjadi agenda penting PDUI adalah soal kesejahteraan. Masih banyak dokter umum yang belum mendapatkan hak yang semestinya. "Kami akan melakukan banyak hal, bagaimana caranya agar dokter umum itu sejahtera," ujar Imelda.
Hal lain yang akan dilakukan PDUI adalah mengubah paradigma mengenai kesehatan. Paradigma itu tidak menekankan pada mengobati orang sakit, tetapi membuat si sehat tetap sehat. Karena masalah kesehatan di negeri ini begitu beragam, PDUI akan mengupayakan agar dokter umum bergerak ke arah hulu, yaitu upaya-upaya preventif dalam kesehatan. Dokter umum harus secara langsung bersentuhan dengan masyarakat, salah satunya dengan menjadi role model untuk perilaku hidup sehat.
PDUI juga tengah merancang sebuah pendekatan baru, sebuah 'style' baru untuk membentuk citra baru agar dokter umum tidak dipandang sebelah mata. Ranah pelayanan dokter umum akan dikemas dan diperbaiki agar profesional, sehingga dokter umum dokter umum dapat memberikan daya ungkit perubahan pelayanan yang sangat besar. Di masyarakat, harkat dan martabat dokter umum harus lebih ditingkatkan, dan pada dasarnya semua tergantung 'image' yang melekat. Dr. Diah Waluyo mengatakan, "Sebagai profesi mereka harus kompeten sehingga masyarakat percaya dan wibawa mereka meningkat." Secara internal, perbaikan harus dilakukan, seperti bagaimana membuat klinik yang semestinya, jangan sampai tempat praktek terlihat kumuh atau bahkan tidak ada ada peralatan medis yang menunjang. Diah juga menekankan bahwa semangat sebagai dokter umum harus dipelihara, agar dokter umum tidak merasa lebih rendah dari yang lain, seperti dari dokter spesialis.
Dan saat ini, kami sedang merancang satu pendekatan baru, sebuah style baru untuk membentuk citra baru dokter umum biar tidak dipandang sinis, "Ah, cuma dokter umum". Kami akan mengemas dan memperbaiki ranah pelayanan agar profesional, sehingga dokter umum dapat memberikan daya ungkit perubahan pelayanan yang sangat besar.
Dokter umum jumlahnya ada sekitar 50 ribu orang. Jika mereka bisa diberdayakan untuk bisa memberikan pelayanan terbaik dengan kemampuan yang bagus dalam menganalisa penyakit dan pengobatan, maka rantai pengobatan penyakit tidak akan terlalu panjang. Dan itu akan menguntungkan masyarakat. Cara berfikirnya tidak lagi melayani orang sakit, tapi bagaimana melayani orang sehat agar tetap sehat.
Sumber : Majalah Farmacia
Senin, 05 Maret 2012
MAJELIS KEHORMATAN DISIPLIN KEDOKTERAN INDONESIA (MKDKI)
Untuk menegakkan disiplin dokter dan dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran, dibentuklah MAJELIS KEHORMATAN DISIPLIN KEDOKTERAN INDONESIA (MKDKI)
MKDKI adalah lembaga yang berwenang untuk :
1. Menentukan ada tidaknya kesalahan yang dilakukan dokter dan dokter gigi dalam penerapan disiplin ilmu kedokteran dan kedokteran gigi.
2. Menetapkan sanksi disiplin.
MKDKI merupakan lembaga otonom dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) yang dalam menjalankan tugasnya bersifat independen
Tujuan penegakan disiplin adalah :
1. Memberikan perlindungan kepada pasien.
2. Menjaga mutu dokter / dokter gigi.
3. Menjaga kehormatan profesi kedokteran / kedokteran gigi.
Anggota MKDKI terdiri dari dokter, dokter gigi, dan sarjana hukum
Susunan anggota MKDKI periode 2011 - 2016 :
1. Prof. dr. Med. Ali Baziad, Sp.OG(K) (Ketua MKDKI)
2. Dr. Sabir Alwy, SH, MH (Wakil Ketua MKDKI)
3. Bambang Kusnandir, drg, Sp.Pros, PhD (Sekretaris MKDKI)
4. Akhiar Salmi, SH, MH
5. Dyah Silviaty, dr, Sp.A, MHKes
6. Rullyanto Wirahardja, dr, MPH, DFM, SH, MHKes
7. Edi Sumarwanto, drg, MM, MHKes
8. Dr. Hargianti Dini Iswandari, drg, MM
9. Dr. Grita Sudjana, drg, MHA
10. Prof. Umar Fahmi Achmadi, MD, MPH, PHD
11. Prof. Dr. Herkutanto, dr, Sp.F, SH, LL.M
Jalan Hang Jebat III Blok. F3
Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12120
Telp. (021) 72800920, Fax. (021) 72800743
E-mail : mkdki@inamc.or.id
TONSILITIS ( INFEKSI AMANDEL)
Tonsil atau yang lebih sering dikenal dengan amandel adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus didalamnya, bagian organ tubuh yang berbentuk bulat lonjong melekat pada kanan dan kiri tenggorok. Terdapat 3 macam tonsil yaitu tonsil faringal (adenoid), tonsil palatina, dan tonsil faringal yang membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer. Tonsil terletak dalam sinus tonsilaris diantara kedua pilar fausium dan berasal dari invaginasi hipoblas di tempat ini. Tonsillitis sendiri adalah inflamasi pada tonsila palatine yang disebabkan oleh infeki virus atau bakteri. Saat bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh melalui hidung atau mulut, tonsil berfungsi sebagai filter/penyaring menyelimuti organisme yang berbahaya tersebut dengan sel-sel darah putih. Hal ini akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibody terhadap infeksi yang akan datang. Tetapi bila tonsil sudah tidak dapat menahan infeksi dari bakteri atau virus tersebut maka akan timbul tonsillitis. Dalam beberapa kasus ditemukan 3 macam tonsillitis, yaitu tonsillitis akut, tonsillitis membranosa, dan tonsillitis kronis.1,2,3,7
1. TONSILITIS AKUT
ETIOLOGI
Tonsillitis akut ini lebih disebabkan oleh kuman grup A Streptokokus beta hemolitikus, pneumokokus, Streptokokus viridian dan Streptokokus piogenes. Virus terkadang juga menjadi penyebab penyakit ini. Tonsillitis ini seringkali terjadi mendadak pada anak-anak dengan peningkatan suhu 1-4 derajat celcius.5,6
PATOFISIOLOGI
Penularan penyakit ini terjadi melalui droplet. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel, kemudian bila kuman ini terkikis maka jaringan limfoid superficial bereaksi, terjadi pembendunagn radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear.6
MANIFESTASI KLINIK
Tonsillitis Streotokokus grup A harus dibedakan dri difteri, faringitis non bacterial, faringitis bakteri bentuk lain dan mononucleosis infeksiosa. Gejala dan tanda-tanda yang ditemukan dalam tonsillitis akut ini meliputi suhu tubuh naik hingga 40o celcius, nyeri tenggorok dan nyeri sewaktu menelan, nafas yang berbau, suara akan menjadi serak, demam dengan suhu tubuh yang tinggi, rasa lesu, rasa nyeri di persendian, tidak nafsu makan, dan rasa nyeri di telinga. Pada pemeriksaan juga akan nampak tonsil membengkak, hiperemis, dan terdapat detritus berbentuk folikel, lacuna akan tertutup oleh membrane semu. Kelenjar submandibula membengkak dan nyeri tekan. 4,5,6
KOMPLIKASI
Otitis media akut (pada anak-anak), abses peritonsil, abses parafaring, toksemia, septicemia, bronchitis, nefritis akut, miokarditis, dan arthritis.6
PEMERIKSAAN
1) Tes Laboratorium
Tes laboratorium ini digunakan untuk menentukan apakah bakteri yang ada dalam tubuh pasien merupkan akteri gru A, karena grup ini disertai dengan demam renmatik, glomerulnefritis, dan demam jengkering.4
2) Pemeriksaan penunjang
Kultur dan uji resistensi bila diperlukan.6
3) Terapi
Dengan menggunakan antibiotic spectrum lebar dan sulfonamide, antipiretik, dan obat kumur yang mengandung desinfektan.5
PERAWATAN
Perawatan yang dilakukan pada penderita tonsillitis biasanya dengan perawatan sendiri dan dengan menggunakan antibiotic. Tindakan operasi hanya dilakukan jika sudah mencapai tonsillitis yang tidak dapat ditangani sendiri.
1) Perawatan sendiri
Apabila penderita tonsillitis diserang karena virus sebaiknya biarkan virus itu hilang dengan sendirinya. Selma satu atau dua minggu sebaiknya penderita banyak istirahat, minum minuman hangat juga mengkonsumsi cairan menyejukkan.1
2) Antibiotik
Jika tonsillitis disebabkan oleh bakteri maka antibiotic yang akan berperan dalam proses penyembuhan. Antibiotic oral perlu dimakan selama setidaknya 10 hari. 1
3) Tindakan operasi
Tonsillectomy biasanya dilakukan pada anak-anak jika ank mengalami tonsillitis selama tujuh kali atau lebih dalam setahun, anak mengalami tonsillitis lima kali atau lebih dalam dua tahun, amandel membengkak dan berakibat sulit bernafas, adanya abses. 1,8
2. TONSILITIS MEMBRANOSA
TONSILITIS DIFTERI
ETIOLOGI
Penyebab penyakit ini adalah Corynebacterium diphteriae yaitu suatu bakteri gram positis pleomorfik5penghuni saluran pernapasan atas yang dapat menimbulkan abnormalitas toksik yang dapat mematikan bila terinfeksi bakteriofag.
PATOFISIOLOGI
Bakteri masuk melalui mukosa lalu melekat serta berkembang biak pada permukaan mukosa saluran pernapasan atas dan mulai memproduksi toksin yang merembes ke sekeliling lalu selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh melalu pembuluh darah dan limfe. Toksin ini merupakan suatu protein yang mempunyai 2 fragmen yaitu aminoterminal sebagai fragmen A dan fragmen B, carboxyterminal yang disatukan melalui ikatan disulfide.3
MANIFESTASI KLINIS
Tonsillitis difteri ini lebih sering terjadi pada anak-anak pada usia 2-5 tahun. Penularan melalui udara, benda atau makanan uang terkontaminasai dengan masa in kubasi 2-7 hari. Gejala umum dari penyaki ini adalah terjadi kenaikan suhu subfebril, nyeri tnggorok, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, dan nadi lambat. Gejala local berupa nyeri tenggorok, tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor makin lama makin meluas dan menyatu membentuk membran semu. Membran ini melekat erat pada dasar dan bila diangkat akan timbul pendarahan. Jika menutupi laring akan menimbulkan serak dan stridor inspirasi, bila menghebat akan terjadi sesak nafas. Bila infeksi tidak terbendung kelenjar limfa leher akan membengkak menyerupai leher sapi. Gejala eksotoksin akan menimbulkan kerusakan pada jantung berupa miokarditis sampai decompensation cordis . 5,6
KOMPLIKASI
Laryngitis difteri, miokarditis, kelumpuhan otot palatum mole, kelumpuhan otot mata, otot faring laring sehingga suara parau, kelumpuhan otot pernapasan, dan albuminuria. 6
DIAGNOSIS
Diagnosis tonsillitis difteri harus dibuat berdasarkan pemeriksaan klinis karena penundaan pengobatan akan membahayakan jiwa penderita. Pemeriksaan preparat langsung diidentifikasi secara fluorescent antibody technique yang memerlukan seorang ahli. Diagnosis pasti dengan isolasi C, diphteriae dengan pembiakan pada media Loffler dilanjutkan tes toksinogenesitas secara vivo dan vitro. Cara PCR (Polymerase Chain Reaction) dapat membantu menegakkan diagnosis tapi pemeriksaan ini mahal dan masih memerlukan penjagn lebih lanjut untuk menggunakan secara luas. 3
PEMERIKSAAN
1) Tes Laboratorium
Dilakukan dengan cara preparat langsung kuman(dari permukaan bawah membrane semu). Medium transport yang dapat dipaki adalah agar Mac conkey atauLoffler. 3
2) Tes Schick (tes kerentnan terhapad dihteria) 3
3) Terapi
Anti difteri serum diberikan segera tanpa menunggu hasil kultur dengan dosis 20.000-100.000 unit tergantung dari umur dan beratnya penyakit itu. 6
PENGOBATAN
Tujuan dari pengobatan penderita diphtheria adalah menginaktivasi toksin yang belum terikat secepatnya, mencegah dan mengusahakan agar penyulit yang terjadi minimal, mengeliminasi C.diphteria untuk mencegah penularan serta mengobati infeksi penyerta dan penyulit diphtheria. Secara umum dapat dilakukan dengan cara istirahat selama kurang lebih 2 minggu serta pemberian cairan.
Secara khusus dapat dilakukakan dengan pemberian 3:
1) Antitoksin : serum anti diphtheria (ADS)
2) Anti microbial : untuk menghentikan produksi toksin, yaitu penisilin prokain 50.000-100.000 KI/BB/hariselama 7-10 hari, bila alergi diberikan eritromisin 40 mg/kg/hari.
3) Kortikosteroid : diberikan kepada penderita dengan gejala obstruksi saluran nafas bagian atas dan bila terdapat penyulit miokardiopati toksik.
4) Pengobatan penyulit : untuk menjaga agar hemodinamika penderita tetap baik oleh karena penyulit yang disebabkan oleh toksin umumnya reversible.
5) Pengobatan carrier : ditujukan bagi penderita yang tidak mempunyai keluhan.
PENCEGAHAN
Untuk mencegah penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan pada diri anak serta memberikan penyuluhan tentang penyakit ini pada anak-anak. Selain itu juga diberikan imunisasi yang terdiri dari imunisasi DPT dan pengobatan carrier. 3
TES KEKEBALAN
1) Kekebalan aktif diperoleh dengan cara inapparent infection dan imunisasi dengan toksoid diphtheria. 3
2) Kekebalan pasif diperoleh secara transplasental dari ibu yang kebal terhadap diphtheria (sampai 6 bulan) dan suntikan antitoksin (2-3 minggu). 3
TONSILITIS SEPTIK
Penyebab dari tonsillitis ini adalah Streptokokus hemolitiku yang terdapat dala susu sapi sehingga dapat timbul epidemic. Oleh karena itu perlu adanya pasteurisasi sebelum mengkonsumsi susu sapi tersebut. 5
ANGINA PLAUT VINCENT
ETIOLOGI
Penyakit ini disebabkan karena kurangnya hygiene mulut, defisiensi vitamin C serta kuman spirilum dan basil fusi form. 5
MANIFSTASI KLINIS
Penyakit ini biasanya ditandai dengan demam sampai 39o celcius, nuyeri kepala, badan lemah, dan terkadang terdapat gangguan pencernaan. Rasa nyeri di mulut, hipersalivasi, gigi, dan gusi berdarah. 5,6
PEMERIKSAAN
Mukosa mulut dan faring hiperemis, tampak membrane putih keabuan di atas tonsil, uvula, dinding faring, gusi serta prosesus alveolaris, mulut berbau dan kelenjar submanibula membesar. 5
PENGOBATAN
Memperbaiki hygiene mulut, antibiotika spectrum lebar selama 1 minggu, juga pemberian vitamin C dan B kompleks. 5
3. TONSILITIS KRONIS
ETIOLOGI
bakteri penyebab tonsillitis kronis sama halnya dengan tonsillitis akut , namun terkadang bakteri berubah menjadi bakteri golongan Gram negatif. 6
FAKTOR PREDISPOSISI
Mulut yang tidak hygiene, pengobatan rdang akut yang tidak adekuat, rangsangan kronik karena rokok maupun makanan. 6
PATOFISIOLOGI
Karena proses rang berulang maka epitel mukosa dan jarinagn limfoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid diganti dengan jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga ruang antara kelompok melebar yang akan diisi oleh detritus, proses ini meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlekatan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris. 6
MANIFESTASI KLINIS
Adanya keluhan pasien di tenggookan seperti ada penghalang, tenggorokan terasa kering, pernapasan berbau. Sat pemeriksaan ditemukan tonsil membesar dengan permukaan tidak rata, kriptus membesar dan terisi detritus. 6
KOMPLIKASI
Timbul rhinitis kronis, sinusitis atau optitis media secara perkontinuitatum, endokarditis, arthritis, miositis, nefritis, uveitis, iridosiklitus, dermatitis, pruritus, urtikaria, dan furunkulosis. 6
PEMERIKSAAN
1) Terapi 6
Terapi mulut (terapi lokal) ditujukan kepada hygiene mulut dengan berkumur atau obat isap.
Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa tidak berhasil.
2) Faktor penunjang 6
Kultur dan uji resistensi kuman dari sedian apus tonsil.
INDIKASI TONSILEKTOMI 5,8
1) Sumbatan
1.1) Hiperplasia tonsil dengan sumbatan jalan nafas
1.2) Gangguan menelan
1.3) Gangguan berbicara
2) Infeksi
2.1) Infeksi telinga tengah berulang
2.2) Rinitis dan sinusitis yang kronis
2.3) Peritonsiler abses
2.4) Tonsilitis kronis dengan gejala nyeri tenggorok yang menetap
3) Kecurigaan adanya tumor jinak atau ganas
DAFTAR PUSTAKA
1) http://cybermed.cbn,net,id/detil.asp?kategori=Hembing&newsno=64
2) htt://www.depkes,go,id/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=23&Itemid=3
4) Cody, D. Thane R, et all. 1991. Penyakit Telinga, Hidung, dan Tenggorokan. Jakarta : EGC. 292-302
5) Soepardi, Efiaty Arsyad. 2001. Beku ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala Leher. ed. 5. Jakarta : Gaya Baru. 181-3
6) Mansjoer, Arif. 2007. Kapita Selekta. Ed. 3, jilid 1. Jakarta : Media Aesculapius. 118-20
7) http//aslimtaslim.blogspot.com/2007/07/beberapa-tahun-terakhir-ini-penegakan.html
8) Darro DH.Siemens C. 2002. Indication For Tonsillectomy and Andenoidectomy. Laryngoscope, 112 (8 Pt Suppl 100) : 6-10
Langganan:
Postingan (Atom)


