Label

Sabtu, 26 Januari 2013

Final Announcement PIT IV PDUI 29-31 Maret 2013

Final Announcement Pertemuan Ilmiah Tahunan  IV 


Perhimpunan Dokter Umum Indonesia  
29-31 Maret 2013
 Hotel The Ritz Carlton, Pacific Place, SCBD, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Selatan















Form Registrasi dibawah ini :


Brosur dalam bentuk PDF dapat di download di : Final Announcement PIT IV PDUI

PENDERITA HEPATITIS B DAN C DI INDONESIA MENCAPAI 25 JUTA




Jakarta, IDI NEWS
Penderita Hepatitis B dan C di Indonesia mencapai 25 juta orang. Di dunia, penyakit ini menyebabkan 1,5 juta orang meninggal setiap tahunnya. Menurut kementerian kesehatan, penularan tertinggi virus hepatitis B dan C berasal dari ibu ke bayi, dan tenaga kesehatan merupakan profesi paling rentan tertular virus tersebut.
“Ibu hamil dalam penyebaran virus hepatitis B dan C adalah sebagai vertical transmission prevention, karena penularan tertinggi terjadi dari ibu ke bayi” kata Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, Mohammad Subuh dalam media briefring dengan tema “Masalah Hepatitis Sudah di Depan Mata” di Jakarta.

Guna mengantisipasi dan mengeliminir penularan transmisi virus ini, pihaknya tengah menyiapkan skema agar pencegahan penularan hepatitis B dan C, dari ibu ke anak masuk dalam program KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) dengan mengintegrasikannya dalam antenatal care atau pemeriksaan kehamilan.

Pada balita, lanjutnya sejak tahun 1997 pemerintah telah memasukkan imunisasi hepatitis B sebagai program imunisasi nasional. Sedangkan untuk hepatitis C, hingga saat ini para peneliti dunia belum menemukan obatnya. “Hepatitis C ini yang menjadi masalah, meski jumlahnya lebih sedikit dari hepatitis B, namun hepatitis C sama-sama berbahaya karena tidak saja dapat berkembang kronis, tetapi juga dapat menimbulkan kematian,” Ujarnya.


Sedangkan pada profesi, tenaga kesehatan dinilainya yang paling rentan, karena terpapar langsung factor resikonya. Kementerian kesehatan pada tahun 2013 merencanakan untuk melakukan 5000 sampel dari tenaga kesehatan untuk melihat. Sampai saat ini saja, Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) belum mengcover obat hepatitis, dan kemungkinan tahun 2013 ini skemanya baru dimasukkan seberapa besar presentase penyakit tersebut terjadi.

Sementara itu, Dr. Rino Alvani Gani, SpPD, KGEH dari Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) menyatakan mahalnya biaya terapi dan obat yang harus dikeluarkan penderita menjadi persoalan serius untuk mencegah penyakit ini pada fase kronis.

“Untuk menjalani terapi dan pengobatan pasien harus mengeluarkan uang sampai ratusan juta rupiah” katanya.

Penyakit hepatitis ini di Indonesia sudah seperti gunung es. Salah satu factor disebabkan karena penyakit ini tidak menimbulkan gejala dan keluhan yang spesifik (khusus), sehingga banyak penderita yang tidak menyadarinya.” 80 Persen pasien hepatitis C dan B tidak menimbulkan gejala dan keluhan sampai terjadinya keluhan di hati”.


Hepatitis B dan C

Kamis, 10 Januari 2013

Seminar EYE EMERGENCY (Improving Management of Ophtalmology Emergency in Primary, Secondary, And Tertiary Health Facilities)


EYE EMERGENCY
(Improving Management of Ophtalmology Emergency in Primary, Secondary, And Tertiary Health Facilities)


Kata Sambutan
Kasus kegawat daruratan pada mata merupakan kasus yang cukup banyak dijumpai, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Kasus-kasus tersebut dirasakan cukup serius, karena tidak hanya dapat menyebabkan kebutaan pada penderita, namun juga sebagai tanda awal adanya suatu kelainan sistemik bahkan kelainan yang mengancam jiwa. Oleh sebab itu, diperlukan penatalaksanaan yang cepat dan tepat agar didapatkan penyembuhan yang sempurna atau penyembuhan dengan kelainan yang minimal.
Meningkatnya kasus-kasus kegawat daruratan pada mata baik diperkotaan maupun di pedesaan menyebabkan perlunya upaya peningkatan pengetahuan medis dan paramedic tentang pengenalan kasus tersebut dan pelaksanaannya. Hal ini dirasakan sangat penting, khususnya bagi tenaga kesehatan yang berada di daerah (puskesmas), mengingat tidak terdapatnya dokter ahli mata dan fasilitas yang memadai di tempat tersebut untuk penegakan diagnosis dan pengobatan. Oleh sebab itu, Perdami cabang Provinsi Aceh mengundang teman-teman sejawat untuk hadir dalam seminar dengan tema kegawat daruratan pada mata, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, sehingga semakin dapat memberikan pelayanan yang optimal bagi masyarakat Aceh dan Sekitarnya.

Susunan Acara
Pukul                                     Acara
08.00 – 09.00                      Registrasi
09.00 – 09.45                      Opening Ceremony
09.45 – 10.45                      Sesi I :
                                                09.45 – 10.05
                                                Trauma Tembus Okuli
                                                Dr. Amir Sidik, SpM (FK UI, RSCM Jakarta)
                                                10.05 – 10.25
                                                Acute Glaucoma
                                                Dr. Niska Alfisyahrin, SpM (RS Meuraxa, Banda Aceh)
                                                10.25 – 10.45
                                                Eye Emergency in Daily Clinical Practice
                                                Dr. Saiful Basri, SpM (FK Unsyiah, RSUDZA Banda Aceh)
                                                10.45 – 11.00
                                                Diskusi
11.00 – 11.30                      Coffe Break
11.30 – 12.30                      Sesi II
                                                11.30 – 11.50
                                                Neuroopthalmology Rules to keep you out of Trouble
                                                Dr. Lia Meuthia Zaini, SpM (FK Unsyiah, RSUDZA)
                                                11.50 – 12.10
                                                Gangguan Neurologis yang sering member gejala gangguan penglihatan
                                                Dr. Dessy Rakhmawati Emril, SpS (FK Unsyiah, RSUDZA)
                                                12.10 – 12.45
                                                Deteksi Dini Retinoblastoma
                                                Dr. Aryani A Amra, M.Ked (Opht), SpM (FK USU, RS H Adam Malik, Medan)
                                                12.30 – 12.45
                                                Diskusi
12.45 – 14.00                      ISHOMA
14.00 – 15.15                      Sesi III
                                                14.00 – 14.20
                                                Kasus Kegawat Daruratan Vitreo – Retina
                                                Dr. Heri Purwoko, SpM (Sumatera Eye Center, Medan)
                                                14.20 – 14.40
                                                Penyakit Sistemik yang berhubungan dengan kasus kegawat daruratan pada retina
                                                Dr. M. Riswan, SpPD FINASIM (FK Unsyiah, RSUDZA)
                                                14.40 – 15.00
                                                Tata Laksana trauma Kimia pada mata
                                                Dr. Bondan Harmani, Sp.M (K), (FK UI, RSCM Jakarta)
                                                15.00 – 15.15
                                                Diskusi
15.15 – 15.30                      Quiz
15.30 – Selesai                   Penutupan dan Door Prize

Registrasi
Seminar
Waktu                                   : Minggu, 3 Februari 2013
Jam                                        : 08.00 – 16.00
Tempat                                : Hermes Palace Hotel, Banda Aceh
Biaya                                     : - Dokter Umum, Paramedis      : Rp. 250.000
-          Dokter Muda                             : Rp. 200.000
-          Spesialis Mata                           : Rp. 350.000

Sekretariat :
Sekretariat Bagian/SMF Mata RSUDZA
Jl. T. Daud Beureueh No. 108
Telp. (0651) 34562, 34563
Ext ; 248
Fax : (0651) 34566
Hp : 085277956448, 081377212743
Pendaftaran & Pembayaran
-          Sekretariat Mata
-          Transfer Bank : Rekening BNI 0267719420 a/n Lia Meuthia Zaini
       

Brosur dapat di Download di : brosur Eye Emergency Aceh

Senin, 03 Desember 2012

Mengapa RS Harus BLUD ?




I. Latar Belakang.
Pertama-tama mungkin perlu diketahui latar belakang pemerintah mengeluarkan peraturan tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Daerah) yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. Hal ini disebabkan kondisi pelayanan publik yang diberikan oleh penyelenggara Negara dewasa ini dirasa belum memuaskan masyarakat, contohnya, 
(1) dalam memberikan pelayanan tidak cepat namun terjadi prosedur yang berbelit-belit (kalau bisa dipersulit mengapa dipermudah?, bukannya kalau bisa dipermudah mengapa dipersulit?); 
(2) adanya diskriminasi pelayanan, kalau masyarakat yang bersangkutan mempunyai jabatan atau uang, akan cepat dilayani, akan tetapi kalau masyarakat biasa (miskin) entar dulu; 
(3) biaya tidak transparan, katanya gratis tetapi kenyataan di lapangan masih harus bayar, membayarnyapun tidak ada standarnya;
(4) adanya budaya kerja aparatur yang belum baik, hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa kalau sudah jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), kerja tidak kerja gajinya sama; 
(5) waktu penyelesaian pemberian pelayanan yang tidak jelas, katanya kalau mengurus KTP dapat selesai dua hari, kenyatan di lapangan bisa sampai dua minggu; 
(6) banyaknya praktek pungutan liar, ini yang sampai saat ini masih susah di tanggulangi, alasannya klasik “ gaji” kurang, yang menjadi pertanyyan apa iya gaji kurang? Apakah bisa dijamin remunerasinya tinggi pungli tidak ada? Kondisi tersebut memberikan citra negative terhadap penyelenggara pelayanan di mata masyarakat. Sehingga akan berdampak pada rendahnya daya saing bangsa dan juga pertumbuhan ekonomi nasional, kenapa? Karena investor tidak mau lagi menanamkan modalnya di Indonesia, belum-belum sudah dipalak sehingga mengakibatkan biaya tinggi. Akibatnya banyak yang lari ke Negara lain seperti Vietnam, Singapura dan lain-lainnya.


Seperti kita ketahui, ada tiga jenis lembaga di pemerintah daerah yang memberikan pelayanan kepada masyarakat.
(1) Public goods, yaitu pelayanan yang diberikan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang operasionalnya seluruhnya dengan APBD, sifatnya tidak mencari keuntungan (non profit); 
(2) Quasi Public Goods, yaitu perangkat daerah yang dalam operasionalnya sebagian dari APBD dan sebagian lagi dari hasil jasa layanan yang diberikan, sifatnya tidak semata-mata mencari keuntungan (not for profit); dan 
(3) Private Goods, yaitu lembaga milik pemerintah daerah yang biaya operasionalnya seluruhnya berasal dari hasil jasa layanan (seperti BUMD, Perusahaan daerah) dan bersifat mencari keuntungan (profit oriented). 
Konsep pendanaan ke depan bagi perangkat daerah yang bersifat quasi public goods, adalah lembaga tersebut diberi kemudahan dalam pengelolaan keuangannya, khususnya yang berasal dari jasa layanan, dengan konsekuensi lambat laun pendanaan yang bersumber dari APBD presentasenya semakin dikurangi. Sehingga diharapkan dikemudian hari bisa mandiri. Alokasi anggaran berasal dari APBD yang selama ini dipergunakan untuk membiayai perangkat daerah tersebut dialihkan untuk membiayai perangkat daerah yang bersifat public goods, misal untuk pembangunan sekolahan, menambah kesejahteraan guru (kaitannya dengan mencerdaskan kehidupan bangsa), membangun jalan, irigasi (kaitannya dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat). Sehingga ke depan APBD hanya fokus untuk digunakan pada pelayanan masyarakat yang bersifat public goods.

Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan, bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD) pada perangkat daerah yang secara operasional memberikan pelayanan langsung pada masyarakat. Sekarang yang menjadi pertanyaan, kenapa dengan BLUD?

Esensi dari BLUD adalah peningkatan pelayanan dan efisiensi anggaran. Hal ini dapat dilihat dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah, disebutkan bahwa BLUD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) atau Unit Kerja pada SKPD di lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Makna dari pengertian ini adalah: 
(1) BLUD merupakan perangkat daerah, mempunyai pengertian bahwa BLUD asetnya merupakan aset daerah yang tidak dipisahkan; 
(2) Perangkat daerah yang dapat menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLUD adalah SKPD (sebagai Pengguna Anggaran) atau Unit Kerja pada SKPD (sebagai Kuasa Pengguna Anggaran); 
(3) Memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan, mempunyai pengertian bahwa SKPD atau Unit Kerja tersebut memberi pelayanan langsung kepada masyarakat dan tidak semata-mata mencari keuntungan; dan 
(4) Kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas, mempunyai arti bahwa BLUD dterapkan dalam rangka efisiensi anggaran dan peningkatan pelayanan pada masyarakat. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa BLUD masuk dalam perangkat pemerintah daerah yang bersifat quasi public goods.

Selanjutnya, dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri tersebut juga disebutkan bahwa BLUD merupakan Pola Pengelolaan Keuangan yang diterapkan pada SKPD atau Unit Kerja dengan diberikan fleksibilitas, yaitu berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada umumnya. Dari pengertian tersebut, SKPD atau Unit Kerja dapat disebut BLUD kalau SKPD atau Unit Kerja sudah menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLUD (PPK-BLUD). Hal ini untuk menepis adanya pemahaman bahwa BLUD merupakan suatu “kelembagaan”, padahal hanya merupakan Pola Pengelolaan Keuangan saja. Untuk itu, kalau mau menerapkan PPK-BLUD “lembaganya harus ada terlebih dahulu”. Pengaturan kelembagaan di daerah dengan Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah, dengan mempedomani Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2007 tentang Penataan Organisasi Perangkat Daerah.

II. Persyaratan Menerapkan PPK-BLUD.
Dalam Permendagri tersebut juga disebutkan bahwa untuk menerapkan PPK-BLUD harus memenuhi beberapa persyaratan. Pemerintah Daerah harus selektif dan obyektif dalam menetapkan SKPD atau Unit Kerja untuk menerapkan PPK-BLUD. Sehingga tidak semua SKPD atau Unit Kerja yang memberikan pelayanan pada masyarakat dapat menerapkan PPK-BLUD. Persyaratan untuk menerapkan PPK-BLUD, meliputi: (1) substantif; (2) teknis; dan (3) administratif.

Persyaratan substantif dipenuhi kalau SKPD atau Unit Kerja tersebut menurut tugas dan fungsinya memberi pelayanan langsung kepada masyarakat dalam bentuk 
(a) penyediaan barang dan jasa, seperti penyediaan layanan dalam bidang kesehatan (Rumah Sakit Daerah, Puskesmas, dan Laboratorium), pendidikan (sekolahan, pendidikan dan pelatihan), transportasi (terminal, jasa penyeberangan, jasa transportasi), pariwisata (pengelolaan wisata daerah), perdagangan (pasar tradisional), kebersihan (pengelolaan sampah, limbah), penyediaan bibit/pupuk, dan lain-lainnya; 
(b) pengelolaan wilayah/kawasan tertentu untuk tujuan meningkatkan perekonomian masyarakat atau layanan umum, seperti pengelolaan kawasan ekonomi di suatu wilayah; 
(c) pengelolaan dana khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi dan/atau pelayanan kepada masyarakat, seperti pengelolaan dana bergulir, pengelolaan dana perumahan.

Persyaratan teknis terpenuhi, apabila SKPD atau Unit Kerja tersebut kinerja pelayanan di bidang tugas dan fungsinya layak dikelola dan ditingkatkan pencapaiannya melalui BLUD, serta kinerja keuangannya sehat.

Persyaratan administratif, apabila SKPD atau Unit kerja menyampaikan dokumen persyaratan, yang meliputi 
(1) surat pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan kinerja pelayanan, keuangan, dan manfaat bagi masyarakat; 
(2) pola tata kelola; 
(3) rencana strategis bisnis; 
(4) standar pelayanan minimal; 
(5) laporan keuangan pokok atau prognosa/proyeksi laporan keuangan; dan 
(6) laporan audit terakhir atau pernyataan bersedia untuk diaudit secara independen.

Dari ketiga persyaratan tersebut, persyaratan administratif yang sangat menentukan dapat tidaknya SKPD atau Unit Kerja menerapkan PPK-BLUD. Hal ini disebabkan dari dokumen administratif tersebut akan dinilai oleh tim penilai yang ditetapkan oleh Kepala Daerah, yang anggotanya paling sedikit terdiri dari: (1) Sekretaris Daerah, sebagai ketua merangkap anggota; 
(2) Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD), sebagai sekretaris merangkap anggota; 
(3) Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, sebagai anggota; 
(4) Inspektorat Daerah, sebagai anggota; 
(5) Tenaga ahli (kalau diperlukan) sebagai anggota. 

Dari tim penilai ini dikeluarkan rekomendasi kepada Kepala Daerah, layak tidaknya usulan SKPD atau Unit Kerja tersebut untuk menerapkan PPK-BLUD. Untuk itu, tim penilai harus betul-betul memahami konsepsi BLUD. Kalau tidak paham, penerapan BLUD hanya sekedar ganti nama belaka dan tidak akan tercapai tujuan BLUD. Untuk itu, dalam memudahkan tim penilai dalam menilai dokumen administratif, Menteri Dalam Negeri telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor: 900/2759/SJ tanggal 10 September 2008 perihal Pedoman Penilaian Penerapan PPK-BLUD. Setelah Kepala Daerah menerima hasil penilaian dari tim penilai, Kepala Daerah memutuskan menerima atau menolak usulan SKPD atau Unit Kerja untuk menerapkan PPK-BLUD. Kalau usulan diterima, penetapan penerapkan PPK-BLUD dengan Keputusan Kepala Daerah (tidak dengan Peraturan Kepala Daerah atau Peraturan Daerah). Penetapannya dengan Status BLUD Penuh atau BLUD Bertahap, yang membedakan dari status BLUD tersebut adalah dalam pemberian fleksibilitasnya. Untuk BLUD dengan status penuh, diberikan seluruh fleksibilitas sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri tersebut. Sedangkan BLUD Bertahap, diberikan fleksibilitas pada batas-batas tertentu berkaitan dengan jumlah dana yang dapat dikelola langsung, pengelolaan barang, pengelolaan piutang, serta perumusan standar, kebijakan, sistem, dan prosedur pengelolaan keuangan serta tidak diberikan fleksibilitas dalam hal pengelolaan investasi, pengelolaan utang, dan pengadaan barang dan/atau jasa.

III. Fleksibilitas BLUD
SKPD atau Unit Kerja yang menerapkan PPK-BLUD diberikan fleksibilitas dalam Pola Pengelolaan Keuangannya, antara lain:
1. Pendapatan BLUD yang berasal dari jasa layanan dapat digunakan langsung untuk membiayai kegiatannya, sehingga tidak masuk kas daerah terlebih dahulu. Hal ini sangat terasa pada Rumah Sakit Daerah, kalau Rumah Sakit Daerah tidak menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLUD, pendapatan harus disetor ke Kas Daerah (tidak boleh digunakan langsung). Kita mungkin perlu merenung, apa yang akan terjadi kalau sebuah RSD memerlukan obat bagi pasiennya dengan sangat segera, sementara obat di RSD tersebut sudah tidak mencukupi atau mungkin sudah tidak ada. Kalau RSD tersebut belum menerapkan PPK-BLUD maka pencairan dananya harus melalui mekanisme dalam APBD sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Berapa waktu yang harus diperlukan sampai tersedianya obat-obatan tersebut? Bisa jadi pasiennya tidak tertolong jiwanya. Selain itu, penerimaan yang bersumber dari APBD atau APBN dapat diberlakukan sebagai pendapatan BLUD, hal ini mempunyai makna bahwa BLUD yang telah memberi jasa layanan pada masyarakat, namun pemerintah (melalui APBN) atau pemerintah daerah (melalui APBD) yang membayar untuk jasa layanan tersebut. Dalam hal ini Pemerintah atau Pemerintah Daerah membeli jasa layanan yang telah diberikan oleh BLUD. Sehingga APBN atau APBD tersebut dapat diberlakukan sebagai pendapatan BLUD.

2. Dalam pelaksanaan belanja (biaya), BLUD boleh melampaui pagu yang telah ditetapkan (flexsible budget) sepanjang pendapatan atau belanjanya bertambah atau berkurang. Sementara kalau SKPD biasa tidak boleh melampaui anggaran yang telah ditetapkan dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA).

3. BLUD boleh melakukan utang/piutang, investasi, dan kerjasama. Utang atau pinjaman dan investasi jangka panjang harus dengan persetujuan Kepala Daerah. Sementara kalau SKPD biasa tidak boleh melakukan utang/piutang, investasi dan kerjasama, yang diperbolehkan adalah Pemerintah Daerah.

4. Pengadaan barang dan jasa untuk pendapatan yang berasal selain dari APBD atau APBN boleh tidak dengan Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah atau perubahannya. Makna dari pemberian fleksibilitas dalam pengadaan barang dan jasa dimaksud, adalah untuk mempercepat pelayanan yang diberikan. Namun tetap dengan prinsip efisien, efektif, transparan, bersaing, adil/tidak diskriminatif, akuntabel dan praktek bisnis yang sehat.

5. Pengelolaan barang, BLUD boleh menghapus aset tidak tetap. Sebagai contoh, RSD yang telah menerapkan BLUD, boleh menghapus aset-aset yang sudah tidak produktif atau sudah tidak efisien lagi. Seperti tempat tidur pasien yang sudah reyot, dari pada memenuhi ruangan/gudang lebih baik dijual. Hasil dari penjualan aset tersebut merupakan pendapatan BLUD.

6. Pejabat Pengelola dan pegawai BLUD, boleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Non PNS. Pegawai Non PNS diperlukan sepanjang BLUD yang bersangkutan sangat membutuhkan dan dalam rangka peningkatan pelayan. Kriteria pengelola dan pegawai BLUD baik PNS maupun Non PNS harus yang betul-betul profesional, jangan sampai pegawai yang ada di BLUD karena titipan dari para pejabat yang berpengaruh di daerah tersebut. Pemimpin BLUD harus mempunyai komitmen dan berani menolak kalau memang tidak masuk dalam kriteria yang telah ditetapkan. Perlu disadari, bahwa setiap tahun antara pemimpin BLUD dengan kepala daerah menandatangani perjanjian kinerja (contractual performance agreement). Apa makna dari perjanjian kinerja dimaksud? Kepala daerah menugaskan pemimpin BLUD untuk menyelenggarakan kegiatan pelayanan umum dan berhak mengelola dana sesuai yang tercantum dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) BLUD. Apa sanksi kalau kinerjanya tidak tercapai? Pemimpin BLUD bisa dicopot dari jabatannya. Untuk itu, pengelola dan pegawai BLUD harus yang benar-benar profesional, karena jabatan taruhannya. Sehingga jadi pemimpin BLUD, seperti duduk di kursi panas, setiap tahun bisa dilengserkan.

7. BLUD boleh mengangkat Dewan Pengawas, sepanjang asset maupun omsetnya memenuhi persyaratan sebagaimana yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Untuk saat ini diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 109/PMK.05/2007 tentang Dewan Pengawas Badan Layanan Umum. Dalam Peraturan Menteri Keuangan tersebut, disebutkan bahwa Dewan Pengawas dapat berjumlah 3(tiga) orang kalau nilai asetnya sebesar 75 (tujuh puluh lima) miliar rupiah sampai dengan 200 (dua ratus) miliar rupiah, atau nilai omsetnya antara 15 (lima belas) miliar sampai dengan 30 (tiga puluh) miliar rupiah setahun. Sementara itu, Dewan Pengawas dapat berjumlah antara 3 (tiga) atau 5 (lima) orang kalau nilai asetnya diatas 200 (dua ratus) miliar rupiah atau nilai omsetnya di atas 30 milai rupiah setahun. Lalu siapa yang berhak jadi Dewan Pengawas? Untuk BLUD-SKPD adalah Sekretaris Daerah, Pejabat Pengelola Keuangan Daerah dan Tenaga Ahli. Sedangkan BLUD Unit Kerja, terdiri dari Kepala SKPD induk, Pejabat Pengelola Keuangan Daerah, dan Tenaga Ahli. Bolehkah Kepala Daerah menjadi Dewan Pengawas? jawabannya tidak. Karena dilihat dari tugas Dewan Pengawas salah satunya adalah melaporkan kepada Kepala Daerah tentang kinerja BLUD. Kalau Kepala Daerah menjadi Dewan Pengawas, maka Kepala Daerah tersebut melaporkan kepada dirinya sendiri, bisa diistilahkan jeruk makan jeruk.

8. Remunerasi pejabat pengelola BLUD, dewan pengawas, sekretaris dewan pengawas dan pegawai BLUD dapat diberikan remunerasi sesuai dengan tingkat tanggungjawab dan tuntutan profesionalisme yang diperlukan. Sehingga tidak lagi pengaturannya seperti PNS, kalau golongan dan masa kerja sama, gaji yang diterima setiap bulan akan sama. Namun kalau sudah jadi BLUD besaran remunerasi dapat dihitung berdasarkan indikator penilaian antara lain: (1) pengalaman dan masa kerja (basic index); (2) ketrampilan, ilmu pengetahuan dan perilaku (competency index); (3) resiko kerja (risk index); (4) tingkat kegawatdaruratan (emergency index); (5) jabatan yang disandang (position index); dan (6) hasil/capaian kinerja (performance index).

9. Penetapan tarif BLUD, ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah (bukan dengan Peraturan Kepala Daerah). Kenapa? Karena untuk mempercepat proses penetapan dan efisiensi biaya. Namun demikian, penetapan tarif harus mempertimbangkan kontinuitas dan pengembangan layanan, daya beli masyarakat, serta kompetisi yang sehat. Selain itu, dalam penetapan tarif, Kepala Daerah dapat membentuk tim untuk mengkaji kelayakan besaran tarif yang akan ditetapkan, yaitu dengan melibatkan pembina teknis, pembina keuangan, unsur perguruan tinggi dan lembaga profesi. Penetapan tarif pada BLUD mestinya berdasarkan unit cost. Untuk kasus RSUD Wangaya Denpasar yang besaran tarif untuk kelas III sebesar Rp.33.000, yang sebelumnya Rp.11.000,- supaya tidak memberatkan masyarakat mestinya masih ada subsidi dari APBD. Untuk itu, kalau besaran tarif sebesar Rp.33.000,- tersebut sudah berdasarkan perhitungan unit cost, namun kalau pemerintah daerah yang bersangkutan mempunyai komitmen untuk membantu masyarakat golongan bawah, maka yang dibebankan kepada masyarakat tidak harus sebesar angka tersebut, misalnya Rp.20.000, maka sisanya sebesar Rp. 13.000,- dibayar oleh pemerintah daerah kepada RSUD Wangaya sebagai pendapat RSUD tersebut. Namun juga perlu diingat bahwa nilai uang sebesar Rp.11.000,- saat ini sampai di mana? Namun demikian, masyarakat hendaknya juga berfikir realistik, kalau pasien dirawat inap harus makan tiga kali sehari? Apakah cukup Rp.11.000,- tersebut? Bisa-bisa pasien sudah sehat tidak mau pulang karena makannya lebih terjamin. Demikian juga yang harus disadari oleh masyarakat yang mampu (golongan menengah-atas), jangan sampai kalau sakit jadi miskin (sadikin). Untuk itu, perlu dipahami oleh jajaran pemerintah daerah, bahwa SKPD atau Unit Kerja yang sudah menerapkan PPK-BLUD, kewajiban pemerintah daerah dalam hal ini APBD masih tetap diperlukan dalam meningkatkan pelayanannya. Karena pendapatan BLUD itu minimal sama dengan belanja/biayanya.

10. Dalam menyusun Laporan Keuangan, BLUD merupakan perangkat daerah yang tidak dipisahkan. Untuk itu laporan keuangan BLUD merupakan bagian dari laporan keuangan SKPD atau Pemerintah Daerah. BLUD akuntansinya wajib menggunakan Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), sementara laporan Keuangan Pemerintah menggunakan Standar Akuntansi Pemerintahan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, maka di sini perlu adanya konsolidasian dalam menyusun laporan keuangan BLUD.
Dengan adanya kemudahan/fleksibilitas yang diberikan sebagaimana tersebut di atas, hendaknya menerapkan PPK-BLUD jangan hanya mengejar fleksibilitas dimaksud. Namun harus disadari, menerapkan PPK-BLUD karena mempunyai kemauan untuk meningkatkan kinerja keuangan, kinerja manfaat dan kinerja pelayanan. Dilain pihak, dalam implementasinya sampai saat ini masih ada keragu-raguan dari para pejabat di daerah tentang keberadaan dari Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 dimaksud, karena di dalam hirarki perundang-undangan Peraturan Menteri tidak termasuk di dalamnya. Sehingga sering muncul pertanyaan, “masa Permendagri menabrak Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah”. Untuk itu, dapat kami jelaskan bahwa keberadaan Peraturan Menetri Dalam Negeri 61 Tahun 2007 tersebut ada karena amanat dari Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, khususnya Pasal 150, dimana disebutkan “Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah mendapat pertimbangan Menteri Keuangan”. Untuk itu, keberadaan Peraturan Menetri Dalam Negeri tersebut sangat kuat. Oleh karena itu, dalam membaca Peraturan Menetri Dalam Negeri tersebut hendaknya bersamaan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005, karena antara keduanya merupakan satu kesatuan.

IV. Keberhasilan Implentasi Penerapan BLUD
Apa yang harus dipersiapkan daerah dalam menunjang keberhasilan implementasi BLUD?
1. Perlunya peningkatan kapasitas SDM, perubahan pola pikir (maindset), semangat kewirausahaan (enterpreneurship) bagi stakeholder terkait mulai dari kepala daerah, sekretaris daerah, PPKD, Kepala BAPPEDA, Inspektur Daerah dan pejabat pengelola BLUD.
2. Perlunya penyiapan regulasi dan instrumen pendukung sebagai penjabaran dari ketentuan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 untuk digunakan sebagai pedoman operasional implementasi PPK-BLUD, antara lain penetapan Tim Penilai, Standar Pelayanan Minimal, dan Peraturan yang ditetapkan oleh Kepala Daerah terkait dengan fleksibilitas yang diberikan.
3. Perlu adanya pemahaman tentang konsepsi mengenai Rencana Strategis (RENSTRA) Bisnis, Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA), Tata Kelola, Standar Pelayanan Minimal, Standar Akuntansi Keuangan (SAK), konsolidasian RBA dan laporan keuangan dengan APBD.

V. Kesimpulan
1. Menerapkan PPK-BLUD harus selektif dan obyektif oleh Pemerintah Daerah, tidak semua SKPD atau Unit Kerja yang memberi pelayanan pada masyarakat dapat menerapkan PPK-BLUD, harus dilihat kesiapan SDM-nya dan perangkat pendukungnya;
2. Penerapan PPK-BLUD jangan hanya mengejar fleksibilitas yang diberikan, tetapi dalam rangka peningkatan kinerja pelayanan, kinerja manfaat, dan kinerja keuangan;
3. BLUD merupakan quasi public goods, sehingga peran APBD masih tetap diperlukan dalam peningkatan pelayanan; dan
4. Untuk keberhasilan implementasi BLUD, perlunya peningkatan kapasitas SDM, perubahan pola pikir (maindset), semangat kewirausahaan (enterpreneurship) bagi stakeholder terkait, penyiapan peraturan pendukung, serta pemahaman tentang konsepsi BLUD.

Kamis, 22 November 2012

BERHALANGAN HADIR, MENKES BERI SAMBUTAN MUKTAMAR IDI XXVIII LEWAT VIDEO



Menteri Kesehatan RI dr. Nafsiah Mboi Sp.A tidak dapat hadir pada pembukaan muktamar IDI ke-28 di Makassar. Namun lewat video, Menkes menyapa peserta muktamar sekaligus memberikan kata sambutan.
Dalam Videonya Nafsiah Mboi memberikan sambutan dan beberapa pernyataan penting mengenai kondisi dunia kesehatan dewasa ini. Beberapa topik yang sempat ia utarakan adalah mengenai pembahasan kompetensi.

Profesi dokter merupakan kehormatan dimana dokter merupakan pondasi kesehatan bagi masyarakat. Oleh karena itu, hak dokter sebagai pemberi pelayanan jasa kesehatan untuk mendapatkan kesejahteraan harus dipenuhi dan diperjuangkan. Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah. Sehingga para dokter yang telah terpenuhi haknya dapat meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat, ungkap dr. Nafsiah Mboi dalam sambutannya.

Beliau juga menekankan untuk mendahulukan kepentingan masyarakat karena ini adalah kunci IDI dalam menegakkan kehormatan profesinya dalam lingkungan masyarakat. Di akhir sambutannya, beliau berharap Muktamar IDI XXVIII membahas isu isu penting dalam masalah kesehatan negeri untuk memberikan solusi dan masukan-masukan yang bermanfaat untuk jaminan kesehatan semesta di tahun 2019. Semoga dapat membangun kesehatan rakyat Indonesia.(AG)


WAMENKES RI RESMIKAN MUKTAMAR IDI MAKASSAR




Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dr. Ali Gufron Mukti, M.Sc, Ph.D secara resmi membuka muktamar IDI ke-28 di Makassar, Rabu 21 November 2012. Pembukaan yang berlangsung di Sandeq Ballroom Grand Clarion Hotel ini juga dihadiri oleh wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang dan rector Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Idrus Paturrusi, Sp.B, SpOT. Rencananya Muktamar ini akan dibuka oleh menteri kesehatan dr. Nafsiah Mboi, SpA Ph.D. Namun karena berhalangan hadir beliau digantikan oleh Wamenkes. Meskipun tidak sempat hadir, beliau tetap memberikan sambutannya lewat video konferensi.

Setelah sambutan Menkes RI Melalui Video Konferens menkes, kemudian dilanjutkan dengan pemukulan Gong oleh Prof. Dr. Ali Gufron Mukti, M.Sc, Ph.D di damping ketua PB IDI, Ketua IDI Wilayah Sulsel dan ketua panitia Muktamar sebagai penanda dibukanya secara resmi Muktamar IDI ke-28.

Tarian Anging Mamiri dan selayang pandang kota Makassar menjadi penutup yang meriah dari acara pembukaan ini.

Tarian Anging Mamiri


(AG) Sumber Warta Muktamar Dokter Indonesia

Rabu, 21 November 2012


Kegiatan Hari 1 Muktamar IDI XXVIII - Makassar
20 November 2012


Selasa, 20 November 2012 bertempat di Grand Clarion Hotel, tepatnya di koridor Ballroom Sandeq A dan Sandeq B kegiatan Muktamar Dokter Indonesia XXVIII telah mulai. Peserta yang berdatangan dari daerah mulai mengadakan registrasi. Muktamar IDI XXVIII mengangkat tema “Paradigma Baru dan Pelayanan Kedokteran dalam Era Jaminan Sosial Kesehatan Nasional sebagai upaya Menata Sistem Pelayanan Kesehatan yang berkualitas” ini diawali dengan kegiatan rapat pleno dan pembukaan pameran. Kegiatan dimulai dengan laporan dari dr. Siswanto Wahab, SpKK selaku ketua bidang dana dana pameran. Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum PB IDI dr. Prijo Sidipratomo, SpRad (K) yang sekali membuka stand pameran. Selanjutnya dilakukan peninjauan stand oleh ketua umum PB IDI yang didampingi oleh ketua panitia pelaksana Muktamar IDI XXVIII Dr. dr. Anis Irawan Anwar, SpKK (K).


Utusan IDI Cabang Se-Aceh 

Selama berlangsungnya pameran yang diikuti oleh para Farmasi obat dan beberapa perhimpunan dan kolegium, terdapat juga pameran pernak – pernik kegiatan Muktamar. Bersamaan dengan kegiatan pameran  di lantai 2 ruang Acacia Grand Clarion Hotel dilaksanakan seminar pendidikan, Pelayanan, pembiayaan dan etika kedokteran. Materi pertama yaitu pendidika kedokteran yang dibawakan oleh Prof. Dr. dr. Erol Hutagalung, SpB, SpOT; Prof. dr. Irawan Yusuf, Ph.D dan Prof. Dr. dr. Oetama Marsi, SpOG (K). kemudian disusul materi kedua mengenai pelayanan kesehatan yang dibawakan oleh Prof. Dr. dr. Zoebari Djoerban, SpPD dan dr. Sukman Tulu, SpA. Materi terakhir mengenai etika kedokteran dibawakan oleh Prof. Dr. dr. Agus Purwandito dan dr. Bruto Wasisto, MPH.


Disaat yang bersamaan di ruang Azalea Lantai 2 Grand Clarion Hotel Makassar, dilaksanakan symposium dengan judul gangguan fungsi buli-buli/saluran kemih. Tema ini dipilih sehubungan dengan meningkatnya kasus gangguan buli-buli/saluran kemih bagian bawah di Indonesia. Simposium yang berlangsung 2 jam ini diisi oleh 3 pembicara yaitu Prof. DR. D. Doddy M. Soebady, SpB, SpU (K) mengawali dengan materi “Diagnosis dan penanganan Lower Urinary Tract Symptom dan Over Active Bladder”. Dilanjutkan dengan materi “Diagnosis dan Penanganan Disfungsi Kandung Kemih Diabetik” oleh Prof. Dr. Harsinen Sanusi, SpPD-KEMD. Antusiasme peserta tetap terjaga hingga materi terakhir tentang “Rehabilitasi Medik pada Over Active Bladder” yang dibawakan oleh dr. Bayu Santoso, Sp. KFR-K.



Laporan dari Utusan IDI Cab Banda Aceh dari Makassar