Label

Kamis, 02 Februari 2017

Katup Mitral (Anatomi dan Fisiologi)


I. PENDAHULUAN
Kisah mengenai jantung bermula dari beribu-ribu tahun yang silam ketika manusia pertama kali merasakan adanya denyutan yang terus-menerus sepanjang hidup dalam dirinya. Berbagai misteri mengenai jantung berkembang sesuai dengan daya imajinasi manusia, baik dikaitkan dengan mitologi, kebudayaan, filosofi, sastra, kesenian, keagamaan, maupun ilmu pengetahuan. Jantung juga menjadi simbol bagi emosi, rasa cinta, pengetahuan, kegembiraan atau kesedihan, penderitaan atau kesenangan, sehat atau sakit, dan sebagainya.(1)
Pada saat ini telah terjadi pergeseran pola penyakit di masyarakat dari penyakit infeksi, baik infeksi saluran nafas maupun gastro intestinal yang dulu pada saat ini masih menduduki sebab kematian utama, kepada penyakit-penyakit degeratif seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit kanker dan sebagainya. Penyakit jantung dan pembuluh darah, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir menunjukkan kenaikan yang jelas. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) yang dilakukan Departemen Kesehatan pada tahun 1986 menunjukkan bahwa penyakit jantung menduduki urutan ke-3 sebagai penyebab kematian, dengan catatan pada golongan umur 45 tahun ke atas penyakit kardiovaskuler menduduki urutan pertama sebagai penyebab kematian.(2)
Penyakit jantung valvular (katup) merupakan penyakit jantung yang masih cukup tinggi insidensinya, terutama dinegara-negara yang sedang berkembang seperti halnya Indonesia. Namun demikian akhir-akhir ini, prevalensi penyakit jantung valvular ada kecenderungan untuk menurun, sedangkan penyakit jantung koroner cenderung meningkat. Berdasarkan penelitian yang ditemukan diberbagai tempat di Indonesia, penyakit jantung valvular ini menduduki urutan ke-2 atau ke-3 sesudah panyakit jantung koroner dari seluruh jenis penyakit jantung.(3)

II. EMBRIOLOGI
Dalam keadaan normal pada minggu ke-4 kehidupan mudigah pasangan lengkung aorta primitive telah membentuk saluran vaskuler tunggal dalam 4 pelebaran yang dikenal sebagai :
1.        Sinus venosus yang menerima darah venosa dan kemudian menjadi vena kava superior dan sinus coronarius.
2.        Atrium
3.        Ventrikel
4.        Bulbus yang merupakan bagian aorta, dan kemudian membentuk conus pulmonum dan conus aorta.
Saluran tersebut memanjang dan melengkung merupakan bentuk S, Bulbus dan ventrikel merupakan bagian atas huruf S dan atrium dan sinus venosus membentuk bagian bawahnya. Dalam proses pelengkungan dan pemutaran, atrium dan sinus menjadi terletak diatas sebagaimana ditemukan pada jantung dewasa normal, dan ventrikel dengan bulbus terletak di bagian bawah.
Antara minggu ke-5 dan ke-8 kehidupan mudigah, atrium dan ventrikel dipisahkan oleh septum tranversum menjadi 2 ruangan yang terpisah. Masing-masing ruangan dibagi atas bagian kanan dan kiri oleh septum longitudinal. Jadi telah dibentuk suatu bentuk dewasa berongga empat. Katup atrioventrikuler primitive dan katup semilunar segera dibentuk.  Bulbus menjadi truncus atriosus primitive, yang kemudian dibagi oleh suatu septum menjadi aorta dan arteri pulmonalis. Pada akhir bulan kedua kehamilan terdapat jantung yang berongga 4 dan katup-katup yang sempurna, yang dihubungkan dengan susunan vaskuler oleh saluran-saluran vena dan arteri yang diidentik dengan keadaan yang ditemukan pada orang dewasa.(4)
Pembentukan katup pada jantung terutama katup atrioventrikuler (AV) yaitu katup tricuspid dan mitral terjadi pada saat embrio mempunyai panjang C-R 10-12 mm, dimana kedua katup atrioventrikuler dikelilingi oleh bantalan jaringan mesenchym dari otot endocardial yang merupakan suatu jaringan yang berfungsi sebagai klep sementara.
Katup atrioventrikuler yang sebenarnya terbentuk dari sebagian kecil dari jaringan ini. Hampir semua bahan yang membentuk katup atrioventrikuler berasal dari otot-otot dinding ventrikel, lapisan dalam otot ventrikel yang dibebaskan oleh proses penonjolan dan penguraian lebih awal. Semua katup atrioventrikuler biasanya gemuk dan tebal, dan nanti dalam perkembangannya semua berubah menjadi tipis dan berserat.(5)

III. ANATOMI

Jantung merupakan organ muskular berongga yang bentuknya sedikit mirip pyramid dan terletak dalam pericardium di mediastinum. Pada basisnya jantung dihubungkan dengan pembuluh-pembuluh darah besar tetapi berada dalam keadaan bebas dalam pericardium.(6) Bagian depan jantung dibatasi oleh sternum dan iga 3, 4, dan 5. Hampir dua pertiga bagian jantung terletak disebelah kiri garis median sternum. Jantung terletak diatas diafragma, miring kedepan kiri dan apeks kordis berada paling depan dalam rongga dada. Batas cranial dibentuk oleh aorta asendens, arteri pulmonal dan vena kava superior.(2,7)






Gambar.1 Letak Anatomi Jantung
Pada wanita berat normal jantung 150-300 gram dan pada pria 300-350 gram. Harus diperhitungkan pula tinggi dan bentuk kerangka (skelet). Ukurang lain yang harus diketahui adalah, tebal dinding ventrikel kanan 3 sampai 5 mm, dan ventrikel kiri 13 sampai 15 mm.(4)


Jantung dibagi oleh septa vertical menjadi bagian kanan dan kiri, dan masing-masing bagian terdiri dari atrium dan ventrikel.(2,6) Antara atrium, ventrikel, dan pembuluh darah besar yang keluar dari jantung terdapat katup-katup jantung, yaitu katup atrioventrikular (mitral dan tricuspid) dan katup semilunar (katup aorta, pulmonal).(2) Katup antrioventrikularis memisahkan atrium dengan ventrikel, dan katup semilunaris memisahkan arteria pulmonalis dan aorta dari ventrikel yang bersangkutan. Keempat katup jantung berfungsi mempertahankan aliran darah searah melalui bilik-bilik jantung. Katup-katup ini membuka dan menutup secara pasif, menanggapi perubahan tekanan dan volume dalam bilik-bilik jantung dan pembuluh darah.(8)



  
Gambar 2. Potongan longitudinal jantung

Katup Atrioventrikularis
Daun-daun katup atrioventrikularis halus tetapi tahan lama. Katup trikuspidalis yang terletak antara atrium dan ventrikel kanan mempunyai tiga buah daun katup. Katup mitralis memisahkan atrium dan ventrikel kiri merupakan katup bikuspidalis dengan dua buah daun katup.(8) Katup trikuspidalis mempunyai keliling lingkaran 12 cm sedangkan katup mitral mempunyai keliling lingkaran 10 cm.(4)
Daun katup dari kedua katup itu tertambat melalui berkas-berkas tipis jaringan fibrosa yang disebut korda tendinea. Korda tendinea akan meluas menjadi otot papilaris, yaitu tonjolan otot pada dinding ventrikel. Korda tendinea menyokong katup pada waktu kontraksi ventrikel untuk mencegah membaliknya daun katup ke dalam atrium.(8)

Gambar 3. Katup-Katup pada Jantung
Katup Semilunaris
Kedua katup semilunaris sama bentuknya; terdiri dari tiga daun katup simetris menyerupai corong, yang tertambat dengan kuat pada annulus fibrosus. Katup aorta terletak antara ventrikel kiri dan aorta, sedangkan katup pulmonalis terletak antara ventrikel kanan dan arteia pulmonalis. Katup semilunaris mencegah aliran kembali darah dari aorta atau arteri pulmonalis ke dalam ventrikel sewaktu ventrikel dalam keadaan istirahat.(9) Katup pulmonal mempunyai keliling lingkaran 8,5 cm, sedangkan katup aorta 7,5 cm.(4)
KATUP MITRAL


Dalam membicarakan katup mitral tidak terlepas dari bagian jantung sebelah kiri yaitu atrium kiri dan ventrikel kiri, sebab katup mitral memisahkan atrium kiri dan ventrikel kiri.(8) Aliran darah yang melewati katup mitral diatur oleh interaksi antara atrium, annulus fibrosus, daun katup, korda tendinea, otot papilaris dan otot ventrikel. Keenam komponen ini membentuk kompleks mitral yang secara fungsional harus diperhitungkan sebagai satu unit.(2,6)



Gambar 4. Katup Mitral
Katup mitral melindungi ostium atrioventrikulare, ia terdiri atas dua cuspis (daun katup) , satu cuspis anterior dan satu cuspis posterior, yang strukturnya sama dengan katup trikuspidalis.(6) Katup ini menyerupai topi uskup yang terdiri atas dua baga. Daun-daun katup berasal dari suatu cincin jaringan ikat yang merupakan “kerangka” jantung yang memisahkan otot-otot atrium dari otot-otot ventrikel. Daun-daun katup melekat pada ujung-ujung otot papilaris dengan perantaraan korda tendinea.(9)
Daun katup anterior pada katup mitral lebih lebar dan lebih mudah bergerak, melekat seperti tirai dari basal ventrikel kiri dan meluas secara diagonal sehingga membagi ruang aliran menjadi alur masuk dan alur keluar. Alur masuk ventrikel kiri berbentuk seperti corong , mulai dari annulus mitral, kemudian dengan daun katup mitral melekat pada otot papilaris melalui korda tendinea. Alur keluar ventrikel kiri dibatasi oleh katup anterior, septum dan dinding depan ventrikel kiri. Daun katup anterior berbentuk segitiga, dihubungkan dengan kedua bibir daun katup posterior melalui komisura, sedangkan daun katup posterior berbentuk segiempat, lebih panjang, lebih kaku dan menempati dua pertiga lingkaran cincin mitral. Daun katup posterior mitral melekat pada otot papilaris melalui korda tendinea. Daun katup posterior terdiri dari 3 lengkungan yang tidak terpisah satu sama lain, yaitu skalop lateral, intermedial dan medial.(2)
Cincin Mitral. Cincin yang menandai garis batas dari lembaran daun katup lebih berbentuk seperti huruf D daripada berbentuk lingkaran yang digambarkan pada katup buatan. Terdapat suatu garis lurus yang menghubungkan antara katup aorta dengan yang belakangan antara batas ventrikel dan katup mitral. Didaerah ini katup aorta mempunyai suatu serat fibrosa yang berhubungan dengan satu atau dua lembaran daun katup mitral. Perluasan dari jaringan fibrosa ini merupakan suatu yang ekstrim dari area yang berhubungan langsung dengan bagian kanan dan kiri dari trigonum fibrosa. Jalur konduksi atrioventrikular melewati trigonum fibrous kanan.(10)
Otot papilaris terletak pada kedua dinding ventrikel dibawah komisura dan merupakan proyeksi penonjolan trabekula karnae, baik berbentuk tunggal atau ganda. Otot papilaris pada ventrikel kiri terdiri dari bagian anterior dan posterior. Otot papilaris anterior terletak pada komisura antero-lateral, sedangkan otot papilaris posterior pada komisura postero-medial. Penonjolan otot papilaris dalam ventrikel kiri pada bagian sepertiga distal dan pertengahan ventrikel kiri. (2,5)
Korda tendinea. Katup mitral dihubungkan dengan otot papilaris oleh korda tendinea, yaitu jaringan ikat kuat berbentuk tali pengikat yang melekat pada ujung-ujung otot papilaris. Di dalam ventrikel kiri, ditemukan korda tendinea anterior yang melekat pada otot papilaris anterior menuju ujung daun katup mitral anterior dan posterior. Korda tendinea posterior yang melekat pada otot papilaris posterior menuju pinggir kedua daun katup mitral. Seluruh pinggir daun katup bertaut melalui  serabut-serabut kecil tali korda untuk bertemu dengan serabut yang lebih besar kemudian melekat pada otot papilaris.(2,5)













Gambar 5. (a) Cincin mitral, (b) Chorda tendinea & Musculus Papilaris

IV. FISIOLOGI
Katup mitral berfungsi mengontrol aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri,(11) membawa darah yang kaya oksigen dari paru-paru ke atrium kiri dan sampai ke ventrikel.(7)
Fungsi kerja dari katup mitral sesuai dengan peristiwa-peristiwa mekanis dari siklus jantung, systole atau kontraksi ventrikel dan diastole atau relaksasi dari ventrikel, yang terdiri dari lima fase.(8)
1.    Mid-diastole : Fase pengisian lambat dari ventrikel atau diastasis. Baik atrium maupun ventrikel dalam keadaan istirahat. Darah yang masuk ke dalam atrium melalui pembuluh darah vena mengalir secara pasif ke ventrikel malalui katup AV yang terbuka, katup semilunar tertutup.(8)
2.    Diastole lanjut (sistolik atrium) : Otot atrium berkontraksi, memberikan tambahan 20% sampai 30% pada isi ventrikel.(8) Kontraksi atrium ikut mendorong darah ke dalam ventrikel, tetapi sekitar 70% pengisian ventrikel terjadi secara pasif selama diastolic. Kontraksi otot atrium yang melingkari orifisium vena kava superior dan inferior serta vena pulmonalis mempersempit lubang orifisium tersebut, dan kelembaman darah yang bergerak kearah jantung cenderung menahan darah didalamnya.(12)
3.    Sistole awal : Pada permulaan sistolik ventrikel, katup mitralis dan trikuspidalis (AV) menutup. Otot ventrikel pada mulanya hanya sedikit memendek, tetapi tekanan intraventrikel meningkat secara tajam sewaktu miokardium menekan darah didalam ventrikel. Periode kontraksi isovolumetrik (isovolumik, isometric) ini berlangsung sekitar 0,05 detik, sampai tekanan di ventrikel kanan dan kiri melebihi tekanan di aorta (80 mmHg) dan arteri pulmonalis (10 mmHg), katup aorta dan pulmonalis terbuka. Selama kontraksi isovolumetrik, Katup AV menonjol ke dalam atrium, menyebabkan peningkatan tekanan atrium yang kecil tetapi tajam.(12)
4.    Sistole lanjut : Segera setelah tekanan ventrikel melebihi tekanan di pembuluh darah, maka katup semilunaris akan terbuka dan terjadilah ejeksi ventrikel ke dalam sirkulasi pulmonal dan sistemik.(8)
Penyemprotan mula-mula berlangsung cepat, kemudian berlangsung lambat seiring dengan kemajuan sistolik. Tekanan intraventrikel meningkat sampai maksimum dan kemudian sedikit menurun sebelum sistolik ventrikel berakhir. Tekanan ventrikel kiri puncak adalah 120 mmHg, dan tekanan ventrikel kanan puncak adalah 25 mmHg atau lebih kecil. Pada akhir sistolik tekanan aorta sebenarnya lebih besar dari ventrikel, tetapi untuk jangka waktu yang singkat momentum tetap mendorong darah. Katup AV tertarik ke bawah oleh kontraksi otot ventrikel, dan tekanan atrium turun. Saat istirahat, Jumlah darah yang disemprotkan oleh setiap ventrikel per denyut adalah 70-90 mL. Volume ventrikel diastolic-akhir adalah sekitar 130 mL. Dengan demikian, sekitar 50 mL darah tetap berada disetiap ventrikel pada akhir sistolik. (Volume ventrikel sistolik-akhir), dan fraksi semprotan (ejection fraction), persen volume ventrikel diastolic-akhir yang disemprotkan setiap kali denyutan adalah sekitar 60 %. Fraksi semprotan merupakan indeks fungsi ventrikel yang bermanfaat.(12)
5.    Diastole awal : Ventrikel dalam keadaan istirahat. Ketika otot-ototnya relaksasi maka tekanan ventrikel turun sampai lebih rendah dari tekanan atrium. Akibatnya katup semilunaris tertutup. Keadaan istirahat ini berlangsung terus-menerus sampai tekanan ventrikel lebih rendah dari tekanan dalam atrium sehingga katup AV membuka. Periode antara penutupan katup semilunaris dan terbuka katup AV disebut relaksasi isovolumik karena volume ventrikel tetap konstan walaupn tekanan ventricular terus menurun. Dengan terbukanya katup AV ini,  maka dengan cepat ventrikel terisi oleh darah vena yang telah terkumpul dalam atrium. Kira-kira 70% sampai 80% dari pengisian ventrikel terjadi selama tahap ini.(8)

  
Gambar 6. Peristiwa Mekanis dan Siklus Jantung
Selama diastole (relaksasi ventrikel), tepi-tepi kuspis dari katup mitral bergerak memisah satu sama lain sehingga katup akan terbuka. Bila tekanan dalam ventrikel meningkat (systole), lembar-lembar pengepak menyebar dan saling mendekati sehingga katup tertutup.(9)
 (a) Fase Diastole Ventrikel                            (b) Fase Sistole Ventrikel
Gambar 7. Pembukaan dan Penutupan Katup Jantung
Dengan demikian fungsi dari katup mitral pada penambahan dan pengurangan isi ventrikel yaitu pada saat diastolic dari ventrikel, katup mitral dan tricuspid membuka, aorta dan pulmonal menutup, sedangkan pada saat sistolik dimana ventrikel berkontraksi, maka katup mitral dan tricuspid menutup untuk mencegah terjadinya aliran darah balik melalui katup tricuspid dan mitral kembali ke atrium.(11)

V. KELAINAN-KELAINAN KATUP MITRAL
V.1. Stenosis Mitral
Secara definisi stenosis mitral dapat diartikan sebagai blok aliran darah pada tingkat katup mitral, akibat adanya perubahan struktur mitral leaflets, yang menyebabkan tidak membukanya katup mitral secara sempurna pada saat diastolic. Dalam keadaan normal luas pembukaan katup mitral berkisar antara 4-6 cm2. (3)
Stenosis mitral terjadi karena adanya fibrosis dan fusi komisura  katup mitral pada waktu fase penyembuhan demam rematik. Terbentuknya sekat jaringan ikat tanpa pengapuran yang mengakibatkan lubang katup mitral pada waktu diastole lebih kecil dari normal.(2)
Perubahan Anatomis
Perubahan anatomis pada stenosis mitral dapat terjadi pada :
1.     Komisura, menyebabkan saling mendekat satu sama lain dan bentuknya akan berubah.
2.     Cups, daun katup, menjadi menebal serta berubah kea rah jaringan fibrosa.
3.     Chorda tendinea menebal, memendek serta dapat saling mendekat.
Perubahan anatomis ini bisa saja berdiri sendiri, tetapi dapat juga terjadi dalam kombinasi, sekitar 50% stenosis mitral merupakan kelainan struktur campuran, misalnya pada komisura dan cups, sedangkan pada komisura sendiri sekitar 30%, penebalan cups saja terdapat pada kira-kira 15%, sedangkan penebalan atau perubahan pada chordae saja kira-kira sekitar 10% dari seluruh stenosis mitral.
Karakteristik katup mitral yang mengalami stenosis ini mempunyai pinggir saling melekat, chordae mengalami fusi, bentuknya menjadi funnel shaped, orificium seperti mulut ikan. Dalam pergerakannya, katup mitral yang mengalami stenosis ini akan sulit membuka, tetapi kadang-kadang juga disertai penutupan yang sulit, sehingga cenderung terjadi regurgitasi ringan, insufisiensi mitral.  Apabila kelainan anatomis  banyak terdapat pada chorda tendinea, maka akan lebih cenderung memperlihatkan regurgitasi tersebut.(3)
Perubahan Fisiologis
Berkurangnya luas efektif lubang mitral menyebabkan berkurangnya daya alir katup mitral.(2) Apabila pembukaan katup mitral ini 2 cm2 (mild stenosis), maka sudah timbul perubahan hemodinamik, dimana darah dari atrium hanya dapat masuk ke ventrikel kiri, apabila didorong oleh pressure gradient yang abnormal. Apabila pembukaan katup mitral < 1 cm2 maka hal ini merupakan stenosis mitral berat.(3) Hal ini akan meningkatkan tekanan di ruang atrium kiri, sehingga terjadi perbedaan tekanan pada atrium kiri dan ventrikel kiri waktu diastole. Jika perbedaan tekanan ini tidak berhasil mengalirkan jumlah darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh, maka akan terjadi bendungan di atrium kiri dan selanjutnya akan memberikan bendungan vena dan kapiler paru. Bendungan ini akan menyebabkan terjadinya sembab intertisial dan kemudian mungkin terjadi sembab alveolar. Pada tahap selanjutnya tekanan arteri pulmonal akan meningkat, kemudian terjadi pelebaran ventrikel kanan dan insufisiensi pada katup tricuspid atau pulmonal. Pada akhirnya vena-vena sistemik akan mengalami bendungan pula, seperti pada hati, kaki dan lain-lain.(2)
.
V.2 Insufisiensi Mitral
 Insufisiensi mitral adalah keadaam dimana terdapat refluk darah dari ventrikel kiri ke dalam atrium kiri pada saat sistolik,  akibat katup mitral tidak menutup secara sempurna.(3)
Perubahan Anatomis
Perubahan struktur anatomis pada regurgitasi mitral dapat terjadi pada annulus mitralis, daun katup, chordae tendinea dan muskulus papilaris. Annulus mitral terjadi perkapuran (kalsifikasi).(3) Selain itu dapat juga disebabkan :
-       Otot papilaris lemah karena meradang
-       Otot papilaris putus karena trauma
-       Prolaps katup
-           Cincin katup melebar mengikuti dilatasi atrium kiri  atau ventrikel kiri.(13)
Dalam keadaan normal, lingkaran annulus mitral mempunyai keliling 10 cm, pada beberapa kondisi abnormal, misalnya pada kalsifikasi idiopatik yang sering dijumpai pada usia tua, annulus menjadi kaku dan tidak dapat mengecil secara sempurna. Ruptur chordae tendinea dapat juga timbul sebagai akibat dilatasi akut ventrikel kiri oleh berbagai etiologi. Kerusakan musculus papilaris juga dapat menimbulkan regurgitasi. Daerah musculus papilaris merupakan bagian jantung yang paling sensitive terhadap proses iskemia, karena merupakan daerah system coronary vascular yang paling distal.(3)
Perubahan Fisiologis
Selama fase sistol terjadi regurgitasi (aliran balik) ke atrium kiri. Mengakibatkan gelombang tekanan yang tinggi  di atrium kiri, sedangkan aliran ke aorta berkurang. Waktu diastol darah mengalir dari atrium ke ventrikel. Darah dari atrium kiri tersebut berasal dari paru-paru melalui vena pulmonalis dan juga darah regurgitasi yang berasal dari ventrikel pada waktu systole sebelumnya. Ventrikel kiri cepat distensi, apeks bergerak ke bawah secara mendadak, menarik katup , korda dan otot papilaris. Hal ini menimbulkan vibrasi dan membentuk bunyi jantung ketiga.(2)
Malformasi dari katup mitral dapat menyebabkan stenosis ataupun insufisiensi, bahkan sejumlah lesi dapat menyebabkan keduanya sekaligus.
Berikut ini beberapa kelainan congenital yang mempengaruhi keadaan katup mitral :
Tabel 1. Kelainan congenital dan pengaruhnya terhadap katup mitral(14)
NO
Kelainan Kongenital
Kondisi Katup Mitral
Stenosis
Insufisiensi
1.
Displasia Katup Mitral
Ö

2.
Hipoplasia Katup Mitral
Ö

3.
Parachute mitral valve
Ö

4.
Supravalvar mitral ring
Ö

5.
Abnormal chordal attacmenth

Ö
6.
Ebstein Malformation of the mitral valve

Ö
7.
Mitral Arcade

Ö

VI. KESIMPULAN
1.    Penyakit jantung valvular (katup) merupakan penyakit jantung yang masih cukup tinggi insidensinya, berdasarkan penelitian yang ditemukan diberbagai tempat di Indonesia, penyakit jantung valvular ini menduduki urutan ke-2 atau ke-3 sesudah panyakit jantung koroner dari seluruh jenis penyakit jantung.
2.    Dalam keadaan normal pada minggu ke-4 kehidupan mudigah pasangan lengkung aorta primitive telah membentuk saluran vaskuler tunggal dalam 4 pelebaran yang dikenal sebagai sinus venosus, , atrium, ventrikel dan bulbus.
3.    Jantung merupakan organ muskular berongga yang bentuknya sedikit mirip pyramid dan terletak dalam pericardium di mediastinum. Jantung dibagi oleh septa vertical menjadi bagian kanan dan kiri, dan masing-masing bagian terdiri dari atrium dan ventrikel.
4.    Aliran darah yang melewati katup mitral diatur oleh interaksi antara atrium, annulus fibrosus, daun katup, korda tendinea, otot papilaris dan otot ventrikel. Keenam komponen ini membentuk kompleks mitral yang secara fungsional harus diperhitungkan sebagai satu unit.
5.    Katup mitral berfungsi mengontrol aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri, membawa darah yang kaya oksigen dari paru-paru ke atrium kiri dan sampai ke ventrikel. Fungsi kerja dari katup mitral sesuai dengan peristiwa-peristiwa mekanis dari siklus jantung, systole atau kontraksi ventrikel dan diastole atau relaksasi dari ventrikel, yang terdiri dari lima fase.
6.    Kelainan katup mitral yang utama adalah stenosis mitral dan insufisiensi mitral yang bisa disebabkan karena kelainan congenital maupun penyakit yang didapat.



DAFTAR PUSTAKA
1.    Yanto Sandy Tjang, Richardus Budiman, Reiner Koerfer, Jantung: dari Pandangan Mistik hingga Era Bedah Jantung.
http://www.tempo.co.id/medika/arsip/102002/top-2.htm
2.    Lily Ismudiati Rilantono, dkk, 2004, Anatomi Jantung dan Pembuluh Dalam dalam buku Ajar Kardiologi, Fakultas Kedokteran Indonesia, Jakarta. Halaman : 3-16
3.    M. Syaifullah Noer, 2004, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi ke-3, Balai Penerbit FKUI, Jakarta: Hal 1035-1041
4.    Staf Pengajar Bagian Patologi Anatomi FKUI, 1979, Susunan Kardiovaskuler dalam Kumpulan Kuliah Patologi, Bagian Patologi Anatomi FKUI, Jakarta: Hal 110
5.    J. Willis Hurst, M.D, 1990, THE HEART Arteries and Veins, Seventh Editions, McGraw Hill Informations Services Company, USA.
6.    Richard S. Snell, 1997, Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran (Clinical Anatomy for Medical Students), Bagian 1, Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Halaman : 107-114
7.    Heart Information Center, Heart Anatomy, Texas Heart Institute
8.    Sylvia A. Price, Lorraine M. Wilson, 1995, Anatomi Sistem Kardiovaskular dalam PATOFISIOLOGI (konsep Klinis Proses-Proses Penyakit), Buku 1, Edisi IV, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Halaman : 468-471, 485-486.
9.    Werner Kahle, 1998, ALAT-ALAT DALAM Atlas Berwarna dan Teks Anatomi Manusia, Jilid 2, Edisi 6, Penerbit Hipokrates, Jakarta. Halaman : 8-16
10.  Siew Yen Ho, Dr, Anatomy of The Mitral Valve, Pediatric Faculty of Medicine, National Heart & Lung Institute, Imperial College, Dovehouse Street, London. In Heart Online.
11.  FARROKH S SADR MD FACS, The Heart.
 http://www.enter.net/~fsadr/anatomy.htm.
12.  William F. Ganong, 2003, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 20, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Halaman : 542-543
13.  Syahrial Rasad, 2005, Radiologi Diagnostik, Penerbit Gaya Baru, Jakarta. Hal : 175

14.  Anton, E, Becker, MD, FACC, 1981, Pathology of Congenital Heart Disease, Butterworths & Co (Publishers), London.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar