Setiap tahun, 1
Desember di peringati oleh dunia sebagai hari AIDS. Namun banyak yang belum
mengetahui kenapa peringatan HIV AIDS dunia tersebut di lakukan pada tanggal 1
Desember.
Agustus 1987,
Thomas Netter dan James Bunn yang bekerja di bagian informasi Program Global
untuk AIDS Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO)di Jenewa,
Swiss, mencetuskan ide untuk menetapkan satu hari untuk meningkatkan kesadaran
atas pandemik AIDS.
Mereka mengajukan ide ini kepada Jonathan Mann, Direktur Program Global yang
kini dikenal sebagai UNAIDS.
Mann menyetujui
ide itu dan kemudian memutuskan 1 Desember 1988
sebagai awal peringatan tahunan
atas AIDS.
Ada beberapa
pertimbangan memilih tanggal tersebut, sebagian besar berkaitan dengan budaya
negara-negara Barat. Pertama, Dunn yang seorang jurnalis berpendapat kalau
pemilihan tanggal 1 Desember dapat memaksimalkan peliputan oleh media
massa. Hal itu berkaitan dengan pemilu Amerika Serikat (AS) yang biasanya digelar pada November.
Ketika media sudah jenuh dengan berita pemilu, mereka butuh berita yang segar.
Alasan kedua,
awal Desember mendekati liburan Natal dan tahun baru.Alasan terakhir, tanggal
pertama di bulan terakhir adalah waktu yang mudah diingat.
Di Indonesia sendiri HIV AIDS
mempunyai sejarah dalam penemuan, pendeteksian dan perkembangannya.
Sejarah 1983
Dr. Zubairi Djoerban melaksanakan penelitian terhadap 30
waria di Jakarta. Karena rendahnya tingkat limfosit dan gejala klinis,
Dr. Zubairi menyatakan dua di antaranya kemungkinan AIDS.
Pada November, Menteri Kesehatan RI, Dr. Soewandjono
Soerjaningrat menyatakan pencegahan AIDS terbaik adalah tidak ikut-ikutan jadi
homoseks ... dan mencegah turis-turis asing membawa masuk penyakit itu.
Sejarah 1984
Di Kongres Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (KOPAPDI) VI,
pada Juli, dilaporkan bahwa dari 15 orang diperiksa, tiga memenuhi kriteria
minimal untuk diagnosis AIDS.
Pada November, Kepala Divisi Transfusi Darah PMI, Dr. Masri
Rustam menyatakan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir AIDS menyerang penerima
transfusi darah di sini. Walau skrining membutuhkan biaya besar, pencegahan ...
dilakukan dengan melarang kaum homoseksual atau waria menjadi donor darah.
Sejarah 1985
Pada 1 Agustus, Dr. Zubairi menyatakan bila penyakit AIDS
sampai menyerang masyarakat akan sulit dicegah. Pada hari berikut, Menkes
membenarkan adanya kemungkinan AIDS sudah masuk ke Indonesia.
Dr. Arjatmo Tjokrnegoro PhD, ahli imunologi di FK-UI, menduga
mungkin orang Indonesia kebal terhadap AIDS karena aspek rasial.
Pada 8 Agustus, RSCM dan FK-UI membentuk satuan tugas untuk
mengkaji masalah AIDS.
Pada 2 September, Menkes menyatakan sudah ada lima kasus AIDS
ditemukan di Bali. Namun Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan
Penyehatan Lingkungan Pemukiman (P2MPLP) Depkes, Dr. M. Adhyatama mengaku
dia tidak tahu-menahu mengenai kasus tersebut.
Seorang perempuan berusia 25 tahun dengan hemofilia dinyatakan
terinfeksi HIV pada September di Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ).
Pada 11 November, Menkes mengatakan bahwa belum pernah ditemukan
orang yang betul-betul terkena penyakit AIDS. Menjawab pertanyaan wartawan,
Menkes komentar “Kalau kita taqwa pada Tuhan, kita tidak perlu khawatir
terjangkit penyakit AIDS.”
Sejarah 1986
Perempuan berusia 25 tahun yang didiagnosis HIV pada September
1985 meninggal dunia di RSIJ, tes darahnya memastikan bahwa dia terinfeksi
HTLV-III, dan dengan gejala klinis yang menunjukkan AIDS. Kasus ini tidak
dilaporkan oleh Depkes.
Pada Januari, tes HIV dapat dilakukan di RSCM dengan biaya Rp
62.500. Hasil positif akan dikirim ke AS untuk penelitian lebih lanjut.
Juga pada Januari, FKUI RSCM melakukan penelitian terhadap pasien
hemofilia yang menerima produk darah (faktor VIII). Ternyata ditemukan satu di
antaranya yang dipastikan terinfeksi HIV. Dan pasien tersebut masih diketahui
hidup sehat tanpa terapi antiretroviral (ART) pada Juli 1998 – lebih dari 12
tahun setelah didiagnosis.
Pada Maret, satuan tugas RSCM dan FK-UI yang dibentuk pada 1985
untuk mengkaji masalah AIDS diresmikan sebagai Kelompok Studi Khusus (Pokdisus)
AIDS.
Sejarah 1987
Seorang wisatawan asal Belanda meninggal di RS Sanglah, Bali.
Kematian pria berusia 44 tahun itu diakui Depkes disebabkan AIDS. Indonesia
masuk dalam daftar WHO sebagai negara ke-13 di Asia yang melaporkan kasus AIDS.
Pada Oktober, dilakukan Kongres tentang Penyakit Akibat Hubungan
Kelamin di Bali sekaligus Konferensi International Union Against Venerial
Diseases and Treponematoses untuk kawasan Asia dan Pasifik. Menkes
Dr. Soewandjono Soerjaningrat dalam sambutan mengatakan bahwa penyakit
yang sebelumnya dikaitkan dengan hubungan seksual yang menyimpang dari tuntutan
agama, ternyata dapat menular melalui darah.
Sejarah 1988
Pada 1988, Depkes hanya melaporkan tambahan satu kasus infeksi HIV
di Indonesia.
Sejarah 1989
Tema Hari AIDS Sedunia 1989 adalah “Kaum Muda (Youth).”
Pada 1989, Depkes tidak melaporkan satu pun kasus infeksi HIV
tambahan di Indonesia. Namun satu kasus HIV dilaporkan berlanjut menjadi AIDS.
Sejarah 1990
Tema Hari AIDS Sedunia 1990 adalah “Wanita dan AIDS (Women and
AIDS).”
Pada 1990, Depkes melaporkan tambahan dua kasus AIDS, sehingga
jumlah kasus infeksi HIV di Indonesia menjadi sembilan.
Sejarah 1991
International AIDS Candlelight Memorial pertama diselenggarakan di
Indonesia. Peristiwa ini, dikenal sebagai Malam Tirakatan Mengenang
Korban-Korban AIDS, diselenggarakan di Surabaya oleh Kelompok Kerja Lesbian
& Gay Nusantara (sekarang Gaya Nusantara), dengan bantuan dari Persatuan
Waria Kotamadya Surabaya (Perwakos).
Pada 29-30 Juli, dilakukan Semiloka Nasional AIDS di Denpasar,
Bali, untuk membahas Pengembangan Strategi Penanggulangan AIDS di Indonesia.
Tema Hari AIDS Sedunia 1991 adalah “Bersama Kita Hadapi Tantangan
(Sharing the Challenge).”
Pada 1991, Depkes melaporkan tambahan jumlah kasus infeksi HIV di
Indonesia sudah menjadi 18, dengan 12 sudah AIDS.
Sejarah 1992
Tema Hari AIDS Sedunia 1992 adalah “Komitmen Komunitas (Community
Commitment).”
Pada 1992, Depkes melaporkan tambahan jumlah kasus infeksi HIV di
Indonesia sudah menjadi 28, dengan 10 sudah AIDS.
Sejarah 1993
Tema Hari AIDS Sedunia 1993 adalah “Waktunya Untuk Bertindak! (Time
to Act)”.
Di Indonesia, dilaporkan 137 kasus infeksi HIV plus 51 orang
dengan AIDS.
Sejarah 1994
LP3Y bekerja sama dengan Lentera-PKBI DIY dan The Ford Foundation,
melakukan Work Shop Penulisan AIDS bagi Wartawan. Sebagai hasil dari kegiatan
itu, diterbitkan dua buku kecil, “10 Pakar Bicara AIDS” dan “11 Langkah
Memahami AIDS.”
Pada 30 Mei, Presiden RI, Suharto, menandatangani Keputusan
Presiden Nomor 36/2004 tentang Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). Berdasarkan
Kepres 36 ini, Menkokesra Ir Azwar Anas mengeluarkan Keputusan tentang Susunan,
Tugas dan Fungsi Keanggotaan KPA pada 15 Juni, serta Keputusan tentang Strategi
Nasional Penanggulangan AIDS di Indonesia pada 16 Juni. Ketua KPA adalah
Menkokesra sendiri, dan sekretaris KPA pertama adalah Dr. Suyono Yayha,
MPH.
Pada Agustus, sebuah pokja KPA memperkirakan bahwa jumlah kasus
infeksi HIV di Indonesia pada 2005 akan menjadi antara 600.000 (penularan
rendah, intervensi yang efektif) dan 1.990.000 (penularan tinggi, tanpa
intervensi).
Pada akhir tahun ini di Indonesia, secara kumulatif sudah dilaporkan
275 infeksi HIV, dengan 67 di antaranya AIDS. 100 di antaranya adalah WNA. 203
adalah laki-laki, 68 perempuan, 4 tidak diketahui. Jalur penularan: 69
homoseks, 160 heteroseks, 2 IDU, 2 transfusi darah, 2 hemofilia dan 40 tidak
diketahui.
Tema Hari AIDS Sedunia 1994 adalah “AIDS & Keluarga (AIDS
and the Family).”
Sejarah 1995
Edisi perdana majalah Support diterbitkan oleh Yayasan Pelita Ilmu
pada Januari.
Hingga Mei, 49 orang tercatat meninggal karena AIDS di Indonesia.
Pusat Media Pelatihan AIDS untuk Wartawan (PMP AIDS) didirikan
pada awal tahun oleh LP3Y di Yogyakarta. Newsletter PMP AIDS edisi perdana
diterbitkan pada Mei.
Yayasan Pelita Ilmu (YPI) membuka Sanggar Kerja, yaitu tempat
persinggahan (shelter) untuk Odha, di Kebon Baru, Jakarta, dengan dukungan
oleh Ford Foundation. Program Buddies(pendamping Odha) juga
dimulai.
Pada Agustus, RS Medistra Jakarta melarang Dr. Samsuridjal
Djauzi untuk merawat pasien apa pun, karena beliau bersedia merawat pasien AIDS
di RS tersebut.
Dikutip oleh harian Kompas pada Mei, Menteri Negara
Kependudukan/Kepala BKKBN menyinyalir bahwa “virus AIDS sudah dimanfaatkan
sebagai alat tindak kejahatan...”
Spiritia didirikan oleh Suzana Murni sebagai organisasi yang
mandiri pada November.
Tema Hari AIDS Sedunia 1995 adalah “Hak dan Tanggung Jawab Bersama
(Shared Rights, Shared Responsibilities).” Kegiatan dikoordinasi oleh
BKKBN.
Headline pada Suplemen Khusus Harian Surya yang menyambut Hari
AIDS Sedunia berbunyi “Tunggu! AIDS mungkin akan mewabah di Indonesia.”
Pada akhir tahun ini di Indonesia, secara kumulatif sudah
dilaporkan 364 infeksi HIV, dengan 87 di antaranya AIDS.
Sejarah 1996
Pada pertemuan di Pacet, Jawa Timur, pada 15 Maret, dikeluarkan “Pernyataan Pacet tentang Masalah Etika dan Hak Asasi yang
berkaitan dengan Pewabahan dan Upaya Pencegahan HIV/AIDS.”
International AIDS Candlelight Memorial diselenggarakan di 31 kota
di Indonesia sebagai Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN), dengan tema “Bersama
Membangun Harapan,” dikoordinasikan oleh Grup Koordinasi Nasional Mobilisasi
AIDS Nusantara (GKNMAN). Menurut harian Kompas, “diiringi lagu ‘Lilin-lilin
Kecil’ yang dinyanyikan sendiri oleh penciptanya, James F Sundah, sekitar
seribu lilin di tangan para hadirin menyala menerangi Plaza Taman Ismail
Marzuki, Jakarta.”
Pertemuan Nasional Pencegahan dan Penatalaksanaan HIV/AIDS
(Pertemuan Nasional HIV/AIDS I) dilakukan pada Juli di Wisma Kalimanis,
Jakarta. Pada pertemuan itu, diputuskan untuk mendirikan tiga organisasi baru:
Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia (PDPAI); Forum Komunikasi
LSM/Organisasi Peduli AIDS (FKLOPA); dan Masyarakat Peduli AIDS Indonesia
(MPAI).
Milis AIDS-INA, milis pertama untuk membahas masalah HIV dan AIDS
di Indonesia, diluncurkan oleh Dr. Pandu Riono.
Tema Hari AIDS Sedunia 1996 adalah “Satu Dunia Satu Harapan (One
World One Hope)”.
Pada akhir tahun ini di Indonesia, secara kumulatif sudah
dilaporkan 501 infeksi HIV, dengan 119 di antaranya AIDS.
Sejarah 1997
Pada Mei, Ditjen POM mengeluarkan surat resmi kepada Ditjen Bea
Cukai yang menerangkan bahwa bila Bea Cukai mendapat kiriman ARV dari luar
negeri yang ditujukan pada Pokdisus AIDS, obat tersebut dapat dikeluarkan tanpa
harus diuji coba Ditjen POM.
Pada Juni, ARV yang berikut tersedia di Indonesia: AZT, ddI, ddC,
3TC, saquinavir dan ritonavir. Namun harganya tidak terjangkau untuk mayoritas
Odha.
Surveilans yang dilakukan terhadap waria di Jakarta menunjukkan
prevalensi HIV 6%, naik dari 0,3% pada 1995.
Tema Hari AIDS Sedunia 1997 adalah “Anak-anak yang Hidup di Dunia
dengan AIDS (Children Living in a World with AIDS)”
Pada akhir tahun ini di Indonesia, secara kumulatif sudah
dilaporkan 619 infeksi HIV, dengan 153 di antaranya AIDS.
Sejarah 1998
Didi Mirhad, bintang iklan Indonesia, mengungkapkan status dirinya
HIV-positif pada media massa.
Pertemuan Odha pertama dilakukan oleh Spiritia di Ubud, Bali,
dengan menghadirkan 16 Odha dan Ohidha dari seluruh Indonesia.
Pada Oktober, RCTI mulai menayangkan sinetron Kupu-Kupu Ungu,
disutradarai oleh Nano Riantiarno, dengan bintang Nurul Arifin dan Sandi
Nayoan. Sinetron sepanjang 13 episode tersebut menggambarkan beragam masalah
medis, sosial, psikologis dan mitos seputar HIV dan AIDS.
Tema Hari AIDS Sedunia ditentukan sebagai “Kaum Muda: Semangat
Perubahan”. Kegiatan dikoordinasi oleh Departemen Agama.
Menjelang Hari AIDS, KPA meluncurkan Kampanye Nasional AIDS,
ditandai oleh lambang baru, yaitu pita merah-putih.
Sejarah 1999
Didi Mirhad, bintang iklan Indonesia, meninggal dunia karena AIDS
pada 25 Agustus.
Semiloka Nasional Penggunaan dan Penyalahgunaan NAZA dilakukan
selama empat hari di September oleh sekelompok aktivis HIV dan narkoba, dengan
melibatkan beberapa pembicara dari Australia dan Malaysia. Pertemuan ini adalah
pertama kali konsep Harm Reduction dibahas oleh para pembuat
kebijakan dan pengambil keputusan di Indonesia.
Tema Hari AIDS Sedunia 1999, ‘Dengar, Simak, Tegar! (Listen,
Learn, Live!)’ tetap ditujukan pada orang berusia di bawah 25 tahun.
Kegiatan dikoordinasi oleh Departemen Pendidikan.
Pada akhir tahun, ARV yang berikut tersedia di Indonesia: AZT,
ddI, ddC, 3TC, d4T, saquinavir, ritonavir dan indinavir.
Sejarah 2000
Pertemuan Nasional HIV/AIDS II dilakukan pada April di Jakarta.
Surveilans di antara 67 pengguna narkoba suntikan yang ditahan di
Lapas Kerobokan di Bali pada akhir tahun menemukan 35 (56%) terinfeksi HIV.
Pada November, sebuah pertemuan yang dilakukan oleh Lentera-Sahaja
PKBI DIY di Kaliurang, DIY yang melibatkan beberapa relawan dari kelompok
marjinal dibongkar secara ‘brutal dan keji oleh kelompok orang yang bertopeng
dan bersembunyi dibalik jubah “agama” ataupun “parpol” tertentu.’
Tema Hari AIDS Sedunia 2000 adalah ‘AIDS – Pria Berpengaruh (AIDS
– Men Make a Difference)’. Kegiatan dikoordinasi oleh BKKBN.
Sejarah 2001
Dua belas penghuni sebuah pusat pemulihan narkoba di Bali dites
HIV. Delapan di antaranya ditemukan terinfeksi.
Dengan dukungan dari Ketua Badan POM, berapa jenis ARV generik
dari India mulai tersedia di Indonesia, termasuk AZT, 3TC, gabungan AZT+3TC,
d4T dan nevirapine. Dengan obat ini, terapi antiretroviral (ART) yang baku
mulai tersedia di Indonesia, walau harga masih mahal (lebih dari Rp 1 juta per
bulan).
Pertemuan Nasional Odha ke-2 dilakukan oleh Spiritia di Kuta, Bali
pada September, dihadiri oleh 36 Odha dan Ohidha dari seluruh Indonesia.
Peserta menyetujui dikeluarkan “Asas-Asas Penanggulangan HIV/AIDS” sebagai suatu hasil dari pertemuan itu.
Walau dalam keadaan sakit dan harus memakai kursi roda, Suzana
Murni, pendiri Spiritia berpidato pada pembukaan Konferensi Internasional AIDS
di Asia Pasifik (ICAAP) ke-6 di Melbourne, pada Oktober, dengan judul ‘Memecah
Penghalang’.
Tema Hari AIDS Sedunia 2000 adalah ‘Kami peduli. Anda bagaimana? (I
care. Do you?)’. Kegiatan dikoordinasi oleh Departemen Kesehatan.
Pada 31 Desember, Drs. M. Jusuf Kalla sebagai Menkokesra
menandatangani Keputusan tentang Sekretariat KPA, yang menetapkan
Dr. Farid Husein sebagai Sekretaris KPA.
Sejarah 2002
Sidang Kabinet Sesi Khusus HIV/AIDS dilakukan pada 28 Maret.
Pada 1 April, disusun Komite Pengarah untuk Strategi Nasional
Penanggulangan AIDS, untuk mengembangkan rancangan Stranas baru.
Permohonan Indonesia untuk dana dari Global Fund Ronde 1
disetujui, dengan dana hampir 16 juta dolar untuk HIV. Fase 1 program, dengan
dana hampir 7 juta dolar, mulai diterapkan pada Juli 2003.
Suzana Murni, pendiri Spiritia, meninggal dunia pas sebelum
pembukaan Konferensi AIDS Sedunia ke-14 di Barcelona, Spanyol pada Juli.
Konferensi ini didominasi oleh masalah terkait pengobatan untuk HIV di negara
terbatas sumber daya. Penghargaan yang diberikan pada Spiritia oleh Family
Health International (FHI) diterima oleh Siradj Okta, adik Suzana.
Indonesia menunjukkan betapa mendadak epidemi HIV dapat muncul.
Setelah lebih dari sepuluh tahun prevalensi HIV yang rendah, angka meloncat di
antara pengguna narkoba suntikan dan pekerja seks, dengan sampai 40% orang di
tempat pemulihan narkoba di Jakarta diketahui HIV-positif.
Pada Oktober dibentuk Gerakan Nasional Meningkatkan Akses Terapi
HIV/AIDS (GN-MATHA), diketuai oleh Dr. Samsuridjal Djauzi, dengan tujuan
agar 10.000 Odha di Indonesia mendapatkan ART pada 2005.
Sebuah International Roundtable: Increasing Access to HIV
Treatment in Resource Poor Settings dilakukan di Canberra, Australia pada
September. Di antara 85 peserta, dari 18 negara, ada lima dari Indonesia.
Tema Hari AIDS Sedunia 2002 ditetapkan oleh BKKBN sebagai ‘Tetap
Hidup dengan Tegar’. Tema internasional adalah ‘Live and Let Live’.
Dirjen Farmasi Depkes memasukkan AZT, 3TC dan nevirapine dalam
Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) untuk semua rumah sakit tipe A dan tipe B
se-Indonesia.
Sejarah 2003
Pertemuan Nasional Odha ke-3 dilakukan oleh Spiritia di Cikopo,
Puncak pada Februari, dihadiri oleh 50 Odha dan Ohidha dari seluruh Indonesia.
Peserta menyetujui dikeluarkannya “Pernyataan Cikopo” sebagai suatu hasil dari
pertemuan itu.
“Tegak Tegar – Hidup Positif Bersama HIV”, Pameran Foto Karya Rio
Helmi, yang didedikasikan untuk Almarhumah Suzana Murni, diluncurkan di Gedung
DPR-RI, Senayan, Jakarta pada Februari. Foto dalam pameran menunjukkan beberapa
Odha di Indonesia dalam kegiatan sehari-hari.
Pada Maret, Menteri Kesehatan RI mengatakan bahwa pemerintah akan
memberi subsidi ARV generik sebesar Rp 200.000 per bulan untuk setiap Odha yang
membutuhkannya. Beberapa provinsi memutuskan untuk menyediakan ARV secara
gratis untuk sejumlah Odha di provinsinya.
Pada Juli, penyediaan ART untuk 100 Odha di Indonesia yang didanai
oleh Global Fund mulai direncanakan.
Program Global Fund Ronde I Fase 1 untuk HIV dimulai di Indonesia pada
Juli. Program ini diutamakan untuk memberi ARV pada 100 Odha di lima provinsi.
Pada Agustus 2003, Kimia Farma meluncurkan produk ARV-nya. Pada
awal disediakan AZT (Reviral), 3TC (Hiviral), gabungan AZT+3TC (Duviral), serta
nevirapine (Neviral). Namun rencana awal untuk membuat gabungan
AZT+3TC+nevirapine dengan nama Triviral tidak berhasil. Harga untuk Duviral dan
Neviral ditetapkan sebagai Rp 345.000.
Jogjakarta Round Table Meeting, yang dihadiri oleh peserta dari 16
negara dengan tujuan mengevaluasi pelaksanaan akses ART, diselenggarakan pada
September. Pertemuan ini adalah lanjutan dari pertemuan serupa yang dilakukan
di Canberra pada 2002.
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) meluncurkan Strategi Nasional
Penanggulangan AIDS 2003-2007.
Menyambut Hari AIDS Sedunia, Presiden Republik Indonesia Megawati
bertemu dengan beberapa Odha di istana negara.
Tema Hari AIDS Sedunia 2003 ditetapkan oleh Departemen Sosial
sebagai ‘Stigma dan Diskriminasi’.
Pada akhir 2003, diperkirakan 1.100 Odha memakai ART di Indonesia.
Sejarah 2004
Pada 19 Januari, wakil dari pemerintah enam provinsi yang dianggap
paling rentan terhadap HIV (Papua, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, DKI Jakarta,
dan Riau), pada pertemuan di Papua dengan Ketua KPA Jusuf Kalla dan wakil dari
enam departemen serta Ketua Komisi VII DPR-RI, Dr. Sanusi Tambunan,
menyatakan Komitmen Sentani. Di antara tujuh pasal dalam komitmen tersebut,
para peserta berjanji akan “Mengupayakan pengobatan HIV/AIDS termasuk
penggunaan ARV kepada minimum 5.000 Odha pada tahun 2004.”
Pertemuan Nasional Odha ke-4 dilakukan oleh Spiritia di Tretes,
Jawa Timur pada Februari, dihadiri oleh 60 Odha dan Ohidha dari seluruh
Indonesia. Peserta menyetujui dikeluarkannya “Pernyataan Tretes” sebagai suatu
hasil dari pertemuan itu.
Departemen Kesehatan menetapkan 25 rumah sakit di 15 provinsi
sebagai Rumah Sakit Rujukan AIDS, tahap pertama. Sedikitnya dua dokter, satu
perawat dan satu konselor dari masing-masing rumah sakit diberi pelatihan
khusus.
Spiritia meluncurkan prakarsa pencegahan untuk Odha yang disebut “HIV
Stop di Sini”, yang dimaksudkan membantu memutuskan rantai penularan.
Yayasan Spiritia melakukan pelatihan Pendidik Pengobatan pertama
di Jakarta, dengan melibatkan 45 peserta dari kelompok dukungan sebaya dan
komunitas di seluruh Indonesia.
Setelah upaya advokasi yang melibatkan kelompok dukungan sebaya
dari seluruh Indonesia, Depkes mengubah kebijakan untuk menyediakan ART dengan
subsidi penuh pada 4.000 Odha.
Dilakukan Pertemuan Nasional KDS ke-2 di Sanur Bali pada November,
dihadiri oleh wakil dari 33 kelompok dukungan sebaya (KDS) untuk Odha/Ohidha
dari 24 kota dan 20 provinsi. Peserta menyetujui dikeluarkan “Pernyataan Bali”
sebagai suatu hasil dari pertemuan itu.
Tema Hari AIDS Sedunia 2004 ditetapkan oleh Kementerian
Pemberdayaan Perempuan sebagai ‘Perempuan, Remaja Putri, HIV dan AIDS’, dengan
slogan “Sudahkah Kau Dengar Aku Hari Ini?” Tema internasional adalah ‘Women,
Girls, HIV and AIDS’, dengan slogan “Have You Heard Me Today?”.
Sejarah 2005
Setelah mengevaluasi kinerja penerapan Fase 1 programnya Ronde I
di Indonesia, Global Fund memutuskan untuk memotong dana untuk Fase 2 (Juli
2005-Juni 2007) dari 9 juta dolar AS menjadi 900.000 dolar.
Terkait dengan kunjungan Kofi Annan, Sekretaris-Jenderal PBB ke
Indonesia, untuk Konferensi Asia-Afrika, istrinya, Ibu Nane Annan mengunjungi
Spiritia. Di kantor Spiritia, Ibu Nane berbincang dengan kurang lebih 20 Odha
dari berbagai latar belakang.
Pada Mei, Agustina Saweri, meninggal dunia di Jayapura. Odha
berusia 26 tahun itu memperoleh embel-embel ‘Buah Merah’ di namanya setelah ia
diboyong ke Jakarta pada Oktober 2004 untuk memberi kesaksian tentang khasiat
buah tersebut sebagai alternatif pengobatan AIDS. Agustina didesak untuk
berhenti penggunaan ART-nya, karena tidak dibutuhkan lagi setelah memakai Buah
Merah.
International Congress on AIDS in Asia and the Pacific (ICAAP)
ke-7 dilakukan di Kobe, Jepang pada Juli, dengan tema ‘Bridging Science and
Community(Menjembatani Ilmiah dan Komunitas).’
Spiritia melaksanakan Kongres Nasional Odha pertama di Lembang,
Jawa Barat, pada September, dihadiri oleh 120 peserta Odha dan Ohidha. Peserta
mengeluarkan “Pernyataan Lembang” seusai pertemuan.
Tema Hari AIDS Sedunia 2005 ditetapkan oleh Departemen Dalam
Negeri sebagai ‘Kepemimpinan dan Penanggulangan HIV/AIDS’. Tema internasional
adalah ‘Stop AIDS. Keep the Promise’.
KPA Nasional mengeluarkan rencana program akselerasi di 100
Kabupaten/Kota tahun 2005. Rencana ini dicanangkan pada Hari AIDS Sedunia oleh
Bapak Wakil Presiden.
Sejarah 2006
Pada Januari, laboratorium resistansi genotipe HIV mulai diuji
coba di Departemen Mikrobiologi FKUI. Lab ini disediakan untuk melakukan
surveilans resistansi untuk Depkes.
Pada Mei, dilakukan International AIDS Candlelight Memorial (Malam
Renungan AIDS) dengan tema internasional “Lighting the Path to a Brighter
Future.” Antara lain, kegiatan diadakan di Tangerang, Lombok, Kediri, Malang
dan Jogja.
Juga pada Mei, diluncurkan buku ‘Dua Sisi dari Satu Sosok,’
kumpulan tulisan Suzana Murni. Buku ini, yang disusun oleh Putu Oka Sukanta, mengandung
43 artikel dan puisi karya Suzana, sebagian diterjemahkan dari tulisan asli
dalam bahasa Inggris.
Peraturan Presiden (PP) RI Nomor 75 Tahun 2006 tentang Komisi
Penanggulangan AIDS Nasional ditandatangani oleh Bapak Presiden pada 13 Juli
2006. Antara yang lain, PP ini menetapkan Dr. Nafsiah Ben Mboi sebagai
Sekretaris.
Situs web Spiritia bangkit kembali pada Juni. di antara fitur yang
pada awal tersedia adalah akses pada berbagai dokumen Spiritia (termasuk semua
Lembaran Informasi), statistik Depkes dari 1995, dan informasi mengenai
kelompok dukungan sebaya dalam jaringan se-Indonesia.
Pada Agustus diluncurkan situs web www.aids-ina.org yang merupakan
langkah awal dari beberapa aktivis dan pemerhati untuk melengkapi forum milis
aids-ina. Diharapkan situs web ini bisa menjadi pusat informasi terhadap isu
HIV-AIDS di Indonesia.
Juga pada Agustus, diumumkan bahwa penyebaran HIV/AIDS di Tanah
Papua diperkirakan telah memasuki kelompok masyarakat umum (generalized
epidemic).
Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat/Ketua Komisi
Penanggulangan AIDS Nasional pada acara penyerahan AIDS Award 2006 di Hotel
Nikko di September. AIDS Award event di anugerahkan kepada 19 perusahaan yang
telah menunjukkan prestasi dalam melaksanakan program penanggulangan AIDS di
tempat kerja. AIDS Award Event 2006 diselenggarakan oleh KPA Nasional.
Ada pertemuan antara Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto dengan
sekretaris KPA Nasional Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH di Markas Besar TNI
Cilangkap pada Oktober. Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto mengatakan bahwa
upaya pencegahan penularan HIV di lingkungan TNI sangat penting untuk segera
ditingkatkan pelaksanaannya di semua jajaran TNI termasuk di komando utama
(KOTAMA).
Tema Hari AIDS Sedunia 2006 ditetapkan oleh Departemen Kesehatan
sebagai ‘STOP AIDS – Tepati Janji’, dengan fokus pada akuntabilitas. Tema
internasional tetap ‘Stop AIDS. Keep the Promise,’ sama seperti tahun
sebelumnya.
Sejarah 2007
Buku Suzana Murni, ‘Lilin Membakar Dirinya,’ biografi Suzana oleh
Putu Oka Sukanta, diluncurkan pada Januari.
Pada Februari, PB IDI (Bidang Penyakit Menular) bersama ASHM
(Australasian Society HIV Medicine) mengadakan Kursus Nasional tentang
Koinfeksi HIV-Hepatitis Virus selama dua hari yang merupakan kegiatan penting
Pra-Pertemuan Nasional HIV/AIDS ke-3.
Pertemuan Nasional HIV & AIDS ke-3 dilakukan di Surabaya pada
Februari dengan tema “Menyatukan Langkah untuk Memperluas Respons.” Antara
lain, Strategi Nasional Penanggulangan AIDS 2007-2010 diluncurkan di pertemuan
ini.
Bantuan Dana Global Fund untuk penanggulangan AIDS, TB, dan
Malaria untuk Indonesia dihentikan sementara mulai pertengahan bulan Maret.
Alasan utama penghentian aliran dana untuk tiga penyakit menular tersebut
karena ditemukan “mismanagement” dalam pengelolaan dana tersebut.
Pada Juli, diketahui bahwa Komisi E DPR Provinsi Papua, dalam
Rancangan Perdasi (Peraturan Daerah Provinsi) terkait penanggulangan HIV dan
AIDS di Papua mengusulkan pemasangan microchip dan anjuran pemeriksaan wajib
HIV bagi setiap warga Papua, didorong oleh anggota Dr. John Manangsang.
Spiritia melaksanakan Kongres Nasional Odha dan Ohidha ke-II
Peningkatan Pemberdayaan dan Keterampilan dalam Menghadapi HIV dan AIDS di Lido
29 Juli-1 Agustus 2007 dengan tema “Peduli AIDS – Jangan Hanya Slogan.”
Pada Agustus, di International Congress on AIDS in Asia and the
Pacific (ICAAP) ke-8 di Colombo, Sri Lanka, diumumkan bahwa Indonesia akan
menjadi tuan rumah untuk ICAAP ke-9 di Bali pada 2009.
Dana Global Fund, yang dibekukan pada Maret 2007, dicairkan lagi
pada Oktober.
Presiden SBY menyambut Mas Dhayan
Tema Hari AIDS Sedunia 2007 ditetapkan oleh BKKBN sebagai ‘STOP
AIDS – Tepati Janji,’ dengan fokus pada kepemimpinan. Tema internasional tetap
‘Stop AIDS. Keep the Promise,’ sama seperti dua tahun sebelumnya. Di antara
kegiatan terkait dengan Hari AIDS, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan
pertemuan di Istana Negara. Puncak acara adalah dialog langsung Presiden SBY
dengan Odha dan keluarganya. Dalam dialog yang dipandu langsung oleh Bpk.
Aburizal Bakri selaku ketua KPA Nasional ini, Presiden berkesempatan
mendengarkan langsung hal yang dialami oleh Odha. Tanggapan dan jawaban yang
diberikan oleh Presiden dalam dialog tersebut secara nyata dirasakan langsung
oleh peserta dialog. seperti yang disampaikan oleh Luh Putu Ikha, perwakilan
dari Bali, bahwa peran Odha dalam penanggulangan HIV/AIDS di tanah air perlu
didukung oleh pemerintah.
Pekan Kondom Nasional (PKN) Pertama dilaksanakan 1-8 Desember 2007
dengan kegiatan yang mencakup pembagian materi edukasi ke berbagai pelosok
daerah di Indonesia, pelatihan, talkshow, konser musik, dan lomba karya tulis
dan fotografi bagi wartawan dan blogger. Akibat PKN ini, KPA Nasional didemo
dua kali, dengan tuduhan “merusak moral bangsa,” dan mereka sama sekali tidak
mau dengar penjelasan dari Ibu Nafsiah Mboi, Sekretaris KPA Nasional.
Pada akhir 2007, dilaporkan 11.570 Odha pernah mulai ART, dengan
6.653 (58%) masih memakainya.
Sejarah 2008
Komunitas TNI mengumumkan pada Januari bahwa akan melaksanakan
proyek percontohan untuk pelayanan terpadu HIV-AIDS di Jatim khususnya bagi
masyarakat TNI.
Penasihat Khusus Sekjen PBB dan utusan khusus untuk HIV dan AIDS
di Asia Pasifik, Nafis Sadik, yang menunjungi Indonesia pada Februari, mengujar
bahwa, “Targetnya MDG 2015 tidak akan tercapai, jika keadaan AIDS tidak dapat
ditanggulangi secara baik.” Menurutnya, penyebaran epidemi HIV di Indonesia
telah mengalami peningkatan. Pertambahan itu menurutnya banyak disebabkan oleh
penularan infeksi melalui transmisi seksual.
Pertemuan Nasional Harm Reduction dilakukan di Makassar pada Juni.
Pada pertemuan tersebut, Asisten Deputi Sekretaris KPA Nasional Inang Winarso
mengatakan, dari 3.000 pasien yang mengikuti program Metadon di seluruh
Indonesia, 20% di antaranya telah terbebas sebagai pengguna dan pecandu
narkoba. Juga pada pertemuan itu, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat
(Menko Kesra) Aburizal Bakrie juga mengampanyekan penggunaan kondom di kalangan
pengguna Napza.
Dalam Kongres Anak Indonesia VII 2008, yang dilakukan pada Juli
terkait dengan Hari Anak Indonesia (HAN) 2008 di Taman Mini Indonesia Indah
(TMII), Jakarta, peserta merumuskan “Suara Anak Indonesia.” Mereka bertekad
meningkatkan pemahaman cara hidup sehat, hak kesehatan reproduksi, agar terhindari
dari bahaya penyakit menular, HIV/AIDS serta penyalahgunaan narkotika. Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan jajaran menteri terkait menindaklanjuti
hasil kongres tersebut.
Melalui Musyawarah Nasional Orang Terinfeksi HIV yang dilakukan
secara terbatas dan dihadiri oleh 124 orang terinfeksi HIV berasal dari 27
provinsi pada Juli, telah membentuk sebuah organisasi yang bernama Jaringan
Orang Terinfeksi HIV (JOTHI). Dipilih Abdullah Denovan sebagai Koordinator
Nasional dengan periode kerja dua tahun.
Sekretaris Nasional Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional
Nafsiah Mboi memprediksi pada Juli bahwa jumlah kasus HIV dan AIDS pada 2020
akan melonjak menjadi 2 juta kasus. Sekitar 80% di antaranya menimpa kaum
laki-laki.
Pada pertemuan di IDI di Oktober, diumumkan bahwa estimasi jumlah
orang terinfeksi HIV di Indonesia sudah menjadi 277.000.
Masyarakat Peduli AIDS Nasional (Mapan) – yang menggabungkan
antara lain Jaringan orang terinfeksi HIV (JOTHI) Jakarta, Persatuan korban
Napza dan LBH Kesehatan sebagai pendamping – pada November melakukan aksi di
depan Kantor Perwakilan PBB di Menara Thamrin, Jakarta. Mereka menuntut
Koordinator UNAIDS Indonesia Nancy Fee dipecat dan keluar dari Indonesia. Salah
satu yang disuarakan mereka, selama ini UNAIDS tidak memberikan kontribusi
nyata bagi penanggulangan AIDS di Indonesia.
Akhirnya, pada Desember, pasal di Raperdasi Provinsi Papua
mengenai microchip dibatalkan, setelah banyak advokasi oleh orang di seluruh
Indonesia.
Tema Hari AIDS Sedunia 2008 ditetapkan oleh ???? sebagai ‘Yang
Muda Yang Membuat Perubahan.’ Tema internasional tetap ‘Stop AIDS. Keep the
Promise’ dengan fokus pada kepemimpinan, sama seperti dua tahun sebelumnya.
KPAN, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan DKT
Indonesia menggelar Pekan Kondom Nasional (PKN) ke-2 yang diadakan pada minggu
pertama Desember. Kegiatan ini diawali dengan Konferensi Kondom pada 1 Desember
2008 yang dibuka Menkokesra Aburizal Bakrie. Namun kegiatan ini dilawan dengan
Kampanye Antikondomisasi, dengan konferensi pers berjudul “Stop Kondomisasi
untuk Penyebaran HIV/AIDS” oleh LSM Merc.
Pada akhir 2008, dilaporkan 17.880 Odha pernah mulai ART, dengan
10.616 (59%) masih memakainya.
SUMBER : (http://www.spiritia.or.id)
ini benar 1983, Dok ? karena pelaporan kasus pertama AIDS saja pada 1987 dan AS mengidentifikasi AIDS pada sekitar 1988. apa indonesia benar-benar sudah memulai penelitian tentang AIDS pada 1983 ?
BalasHapus