Label

Senin, 05 Maret 2012

OSTEOPOROSIS

Pernahkah Anda melihat wanita tua bertubuh bongkok? Wanita tua itu pasti menderita penyakit osteoporosis yang menyebabkan tulang punggungnya melengkung. Osteoporosis tidak menampakkan tanda-tanda fisik yang nyata hingga terjadi keropos atau keretakan pada usia senja.
Penyakit osteoporosis adalah berkurangnya kepadatan tulang yang progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Tulang terdiri dari mineral-mineral seperti kalsium dan fosfat, sehingga tulang menjadi keras dan padat. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang, maka tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh, sehingga terjadilah osteoporosis.
Sekitar 80% persen penderita penyakit osteoporosis adalah wanita, termasuk wanita muda yang mengalami penghentian siklus menstruasi (amenorrhea). Hilangnya hormon estrogen setelah menopause meningkatkan risiko terkena osteoporosis.
Penyakit osteoporosis yang kerap disebut penyakit keropos tulang ini ternyata menyerang wanita sejak masih muda. Tidak dapat dipungkiri penyakit osteoporosis pada wanita ini dipengaruhi oleh hormon estrogen. Namun, karena gejala baru muncul setelah usia 50 tahun, penyakit osteoporosis tidak mudah dideteksi secara dini.
Meskipun penyakit osteoporosis lebih banyak menyerang wanita, pria tetap memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis. Sama seperti pada wanita, penyakit osteoporosis pada pria juga dipengaruhi estrogen. Bedanya, laki-laki tidak mengalami menopause, sehingga osteoporosis datang lebih lambat.
Jumlah usia lanjut di Indonesia diperkirakan akan naik 414 persen dalam kurun waktu 1990-2025, sedangkan perempuan menopause yang tahun 2000 diperhitungkan 15,5 juta akan naik menjadi 24 juta pada tahun 2015. Bayangkan betapa besar jumlah penduduk yang dapat terancam penyakit osteoporosis.
Berikut ini fakta seputar penyakit osteoporosis yang dapat membukakan mata dan meningkatkan kesadaran akan ancaman penyakit osteoporosis.
Studi di dunia:
  • Satu diantara tiga wanita di atas usia 50 tahun dan satu diantara lima pria di atas 50 tahun menderita osteoporosis.
  • Penderita osteoporosis di Eropa, Jepang, Amerika sebanyak 75 juta penduduk, sedangkan China 84 juta penduduk.
  • Ada 200 juta penderita osteoporosis di seluruh dunia.
Risiko kematian akibat patah tulang pinggul sama dengan kanker payudara. (Studi Cummings et al, 1989)
Studi di Indonesia:
  • Prevalensi osteoporosis untuk umur kurang dari 70 tahun untuk wanita sebanyak 18-36%, sedangkan pria 20-27%, untuk umur di atas 70 tahun untuk wanita 53,6%, pria 38%.
  • Lebih dari 50% keretakan osteoporosis pinggang di seluruh dunia kemungkinan terjadi di Asia pada 2050. (Yayasan Osteoporosis Internasional)
  • Mereka yang terserang rata-rata berusia di atas 50 tahun. (Yayasan Osteoporosis Internasional)
  • Satu dari tiga perempuan dan satu dari lima pria di Indonesia terserang osteoporosis atau keretakan tulang. (Yayasan Osteoporosis Internasional)
  • Dua dari lima orang Indonesia memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis. (DEPKES, 2006)
  • Jumlah penderita osteoporosis di Indonesia jauh lebih besar dari data terakhir Depkes, yang mematok angka 19,7% dari seluruh penduduk dengan alasan perokok di negeri ini urutan ke-2 dunia setelah China.


Gejala Osteoporosis dan Diagnosa Osteoporosis

Penyakit osteoporosis sering disebut sebagai silent disease karena proses kepadatan tulang berkurang secara perlahan (terutama pada penderita osteoporosis senilis) dan berlangsung secara progresif selama bertahun-tahun tanpa kita sadari dan tanpa disertai adanya gejala.




Gejal-gejala baru timbul pada tahap osteoporosis lanjut, seperti:
  • patah tulang
  • punggung yang semakin membungkuk
  • hilangnya tinggi badan
  • nyeri punggung
Jika kepadatan tulang sangat berkurang sehingga tulang menjadi hancur, maka akan timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk. Hancurnya tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Tulang belakang yang rapuh bisa mengalami hancur secara spontan atau karena cedera ringan.
Biasanya nyeri timbul secara tiba-tiba dan dirasakan di daerah tertentu dari punggung, yang akan bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan. Jika disentuh, daerah tersebut akan terasa sakit, tetapi biasanya rasa sakit ini akan menghilang secara bertahap setelah beberapa minggu atau beberapa bulan.
Jika beberapa tulang belakang hancur, maka akan terbentuk kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang (punuk Dowager), yang menyebabkan ketegangan otot dan sakit. Tulang lainnya bisa patah, yang seringkali disebabkan oleh tekanan yang ringan atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang panggul.
Hal yang juga sering terjadi adalah patah tulang lengan (radius) di daerah persambungannya dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur Colles. Selain itu, pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung menyembuh secara perlahan.

Diagnosa Osteoporosis

Pada seseorang yang mengalami patah tulang, diagnosis osteoporosis ditegakkan berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik dan rontgen tulang. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk menyingkirkan keadaan lainnya penyebab osteoporosis yang bisa diatasi.
Untuk mendiagnosa osteoporosis sebelum terjadinya patah tulang dilakukan pemeriksaan yang menilai kepadatan tulang. Di Indonesia dikenal 3 cara penegakan diagnosa penyakit osteoporosis, yaitu:
1.      Densitometer (Lunar) menggunakan teknologi DXA (dual-energy x-ray absorptiometry). Pemeriksaan ini merupakan gold standard diagnosa osteoporosis. Pemeriksaan kepadatan tulang ini aman dan tidak menimbulkan nyeri serta bisa dilakukan dalam waktu 5-15 menit.
DXA sangat berguna untuk:
    • wanita yang memiliki risiko tinggi menderita osteoporosis
    • penderita yang diagnosisnya belum pasti
    • penderita yang hasil pengobatan osteoporosisnya harus dinilai secara akurat
  1. Densitometer-USG. Pemeriksaan ini lebih tepat disebut sebagai screening awal penyakit osteoporosis. Hasilnya pun hanya ditandai dengan nilai T dimana nilai lebih -1 berarti kepadatan tulang masih baik, nilai antara -1 dan -2,5 berarti osteopenia (penipisan tulang), nilai kurang dari -2,5 berarti osteoporosis (keropos tulang). Keuntungannya adalah kepraktisan dan harga pemeriksaannya yang lebih murah.
  2. Pemeriksaan laboratorium untuk osteocalcin dan dioksipiridinolin, CTx. Proses pengeroposan tulang dapat diketahui dengan memeriksakan penanda biokimia CTx (C-Telopeptide). CTx merupakan hasil penguraian kolagen tulang yang dilepaskan ke dalam sirkulasi darahsehingga spesifik dalam menilai kecepatan proses pengeroposan tulang. Pemeriksaan CTx juga sangat berguna dalam memantau pengobatan menggunakan antiresorpsi oral.
Proses pembentukan tulang dapat diketahui dengan memeriksakan penanda bioklimia N-MID-Osteocalcin. Osteocalcin merupakan protein spesifik tulang sehingga pemeriksan ini dapat digunakan saebagai penanda biokimia pembentukan tualng dan juga untuk menentukan kecepatan turnover tulang pada beberapa penyakit tulang lainnya. Pemeriksaan osteocalcin juga dapat digunakan untuk memantau pengobatan osteoporosis.
Di luar negeri, dokter dapat pula menggunakan metode lain untuk mendiagnosa penyakit osteoporosis, antara lain:
  1. Sinar x untuk menunjukkan degenerasi tipikal dalam tulang punggung bagian bawah.
  2. Pengukuran massa tulang dengan memeriksa lengan, paha dan tulang belakang.
  3. Tes darah yang dapat memperlihatkan naiknya kadar hormon paratiroid.
  4. Biopsi tulang untuk melihat tulang mengecil, keropos tetapi tampak normal.

Terapi dan Pengobatan Osteoporosis

Terapi dan pengobatan osteoporosis bertujuan untuk meningkatkan kepadatan tulang untuk mengurangi retak tambahan dan mengontrol rasa sakit. Untuk terapi dan pengobatan osteoporosis sebenarnya memerlukan suatu tim yang terdiri dari multidisipliner minimal antara lain departemen bedah, departemen penyakit dalam, departemen psikologi, departemen biologi, departemen obstetri dan ginekologi, departemen farmakologi.
Penyakit osteoporosis selain mempengaruhi tubuh, juga mempengaruhi kondisi psikis penderitanya terutama akibat patah tulang sehingga terapi dan pengobatan osteoporosis pun melibatkan spesialis kejiwaan. Tidak hanya itu, departemen kedokteran olahraga juga diperlukan dalam terapi dan pengobatan osteoporosis.
Untuk mempertahankan kepadatan tulang, tubuh memerlukan persediaan kalsium dan mineral lainnya yang memadai, dan harus menghasilkan hormon dalam jumlah yang mencukupi (hormon paratiroid, hormon pertumbuhan, kalsitonin, estrogen pada wanita dan testosteron pada pria).
Oleh sebab itu Departemen gizi klinik juga memiliki peranan dalam terapi dan pengobatan osteoporosis. Spesialis gizi klinik dapat membantu menjaga agar asupan gizi penderita osteoporosis terutama kalsium dan vitamin D tercapai agar penyerapan kalsium dari makanan dan pemasukan ke dalam tulang berlangsung optimal.
Secara progresif, tulang meningkatkan kepadatannya sampai tercapai kepadatan maksimal (sekitar usia 30 tahun). Setelah itu kepadatan tulang akan berkurang secara perlahan. Oleh sebab itu, kepadatan tulang harus dijaga sejak masih muda agar saat tuanya tidak menderita osteoporosis.
Semua wanita, terutama yang menderita osteoporosis, harus mengkonsumsi kalsium dan vitamin D dalam jumlah yang mencukupi. Wanita pasca menopause yang menderita osteoporosis juga bisa mendapatkan estrogen (biasanya bersama dengan progesteron) atau alendronat (golongan bifosfonat) yang bisa memperlambat atau menghentikan penyakitnya.
Pria yang menderita osteoporosis biasanya mendapatkan kalsium dan tambahan vitamin D, terutama jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuhnya tidak menyerap kalsium dalam jumlah yang mencukupi.Jika kadar testosteronnya rendah, bisa diberikan testosteron.
Pada kolaps tulang belakang disertai nyeri punggung yang hebat, diberikan obat pereda nyeri, dipasang supportive back brace dan dilakukan terapi fisik. Penjepit punggung mungkin penting untuk mendukung vertebra yang lemah dan operasi dapat memperbaiki bweberapa keretakan. Pengobatan hormonal dan flouride dapat membantu. Penyakit osteoporosis yang disebabkan oleh gangguan lain dapat dicegah melalui pengobatan yang efektif pada gangguan dasarnya, seperti terapi kortikosteroid.

Menangani Patah Tulang Osteoporosis

Patah tulang osteoporosisyang paling sering terjadi adalah pada patah tulang vertebra (tulang punggung), tulang leher femur dan tulang gelang tangan (patah tulang Colles). Adapun frekuensi patah tulang leher femur adalah 20% dari total jumlah patah tulang osteoporosis.
Dari semua patah tulang osteoporosis, yang paling memberikan masalah dibidang morbiditas, mortalitas, beban sosisoekonomik dan kualitas hidup adalah patah tulang leher femur sehingga bila tidak diambil tindakan untuk mengatasi penyakit osteoporosis diperkirakan pada tahun 2050 jumlah patah tulang leher femur di seluruh dunia akan mencapai 6,26 juta dan lebih dari separuhnya di Asia.
Patah tulang karena osteoporosis harus diobati. Patah tulang panggul biasanya diatasi dengan tindakan pembedahan. Patah tulang pergelangan biasanya digips atau diperbaiki dengan pembedahan. Operasi ini dilakukan oleh spesialis bedah tulang (orthopaedi). Setelah operasi, penderita harus menjalani fisioterapi untuk memulihkan kemampuan tulang yang pernah patah.
Biaya tatalaksana patah tulang osteoporosis di Inggris tercatat 942 juta poundsterling per tahun dan cenderung meningkat. Di Amerika, tatalaksana patah tulang osteoporosis diperkirakan mencapai 10-15 milyar dolar pertahun. Sayangnya, belum ada yang meneliti berapa jumlah biaya pengobatan yang dikeluarkan di Indonesia.
Penatalaksanaan patah tulang osteoporosis memerlukan biaya yang sangat besar sehingga sebaiknya mencoba untuk mencegah agar jangan sampai terjadi patah tulang pada penderita osteoporosis.
Ada dua macam pencegahan patah tulang osteoporosis yaitu dengan cara non-farmakologis dan cara faramakologis. Cara non farmakologis atau tanpa obat-obatan dengan memperbaiki dan meningkatkan mutu nutrisi dimana diperhatikan asupan kalsium, vitamin D seumur hidup. Olahraga Tai-Chi ternyata berguna untuk memperbaiki keseimbangan tubuh penderita osteoporosis.
Untuk lansia, penting untuk mencegah terjadinya jatuh di rumah/lingkungan rumah karena hampir semua penderita patah tulang di rumah. Usahakan agar faktor-faktor yang dapat mengakibatkan jatuh dihilangkan seperti lantai licin, karpet longgar, keadaan tangga, pengobatan sedatif (membuat ngantuk).
Cara farmakologik menggunakan obat-obatan dimana yang paling sering dipakai adalah obat golongan bifosfonat yang dikombinasikan dengan asupan kalsium dan vitamin D. Obat-obatan lain seperti terapi sulih hormon, hormon paratiroid dan kalsitonin dan SERM.

Latihan Fisik Mencegah & Mengobati Osteoporosis

Pada osteoporosis, latihan jasmani dilakukan untuk mencegah dan mengobati penyakit osteoporosis. Latihan jasmani menggunakan beban berguna untuk melenturkan dan menguatkan tulang. Latihan jasmani sebaiknya dilakukan sejak muda dan terus dilanjutkan sampai tua.
Dr. Ade Tobing, Sp.KO mengenalkan latihan fisik yang baik, benar, terukur dan teratur (BBTT). Latihan yang baik artinya latihan terbagi menjadi 3 sesi yaitu pemanasan & peregangan selama 10-15 menit, latihan inti selama 20-60 menit,dan peregangan & pendinginan selama 5-10 menit.
Latihan yang benar artinya memberikan latihan yang sesuai dengan tingkat kesehatan, tingkat aktivitas fisik dan tingkat kebugaran masing-masing individu yang dapat diketahui pada saat pemeriksaan pra latihan. Hal ini bertujuan agar masing-masing individu terjawab kebutuhannya yang berbeda dengan yang lain.
Latihan yang terukur artinya mengukur jumlah detak jantung per menit untuk mengetahui intensitas latihan. Detak jantung per menit maksimum adalah 220 dikurangi usia. Satu hal yang tidak kalah penting adalah latihan yang teratur dan berkesimabungan dari anak-anak sampai tua.
Latihan fisik (BBTT) bermanfaat tidak hanya dalam meningkatkan kekuatan dan kelenturan tulang, tapi juga dapat meningkatkan keseimbangan, kebugaran jantung-paru, dan dapat memelihara dan meningkatkan massa tulang.
Persatuan Osteoporosis Indonesia (PEROSI) bersama Persatuan Warga Tulang Sehat Indonesia (PERWATUSI) telah mengembangkan senam osteoporosis yang untuk mencegah dan mengobati osteoporosis. Sosialisasi mengenai senam osteoporosis ini pun sedang dilakukan kepada masyarakat.

Pencegahan Osteoporosis

Menurut dr. Bambang Setiyohadi, Sp.PD, KR pencegahan osteoporosis sebaiknya dilakukan sejak masih dalam kandungan. Sang ibu harus mengkonsumsi kalsium dengan cukup sehingga tulang bayi dalam kandungan tumbuh optimal dan tidak mengambil cadangan kalsium dari tulang ibu.
Prof. DR. Dr. Ichramsjah A Rachman, Sp.OG (K) juga lebih menekankan pentingnya pencegahan dibandingkan pengobatan. Hal yang paling penting adalah menyadari akan kejadian osteoporosis yang mengancam terutama wanita.
Semua manusia di dunia pasti akan menjadi tua baik pria maupun wanita.Proses penuaan telah terjadi sejak manusia dilahirkan ke dunia dan terus menerus terjadi sepanjang kehidupannya. Khususnya pada wanita, proses ini mempunyai dampak tersendiri berkaitan dengan proses siklik haid setiap bulannya yang mulaiu terganggu dan akhirnya menghilang sama sekali.
Terganggunya atau sampai hilangnya proses haid (menopause dan pasca menopause) disebabkan penurunana dan hilangnya hormon estrogen. Ini adalah hal yang normal dan alamiah. Namun, penerimaannnya berbeda-beda diantara wanita.
Dengan turunnya kadar hormon estrogen maka proses osteoblas (pembentukan tulang) terhambat dan dua hormon yang berperan dalam proses ini yaitu D, PTH pun turun sehingga dimulai hilangnya kadar mineral tulang.
Apabila hal ini terus berlanjut dan akibat kelanjutan harapan hidup masih akan mencapai keadaan osteoporosis yaitu kondisi dimana massa tulang demikian rendah sehingga tulang mudah patah. Diketahui 85% wanita menderita osteoporosis yang terjadi sekitar 10 tahun setelah menopause, atau 8 tahun setelah pengangkatan kedua ovarium.
Jadi, para wanita perlu lebih waspada akan ancaman penyakit osteoporosis dibandingkan pria. Karena penyakit ini baru muncul setelah usia lanjut, wanita muda harus sadar dan segera melakukan tindakan pencegahan sebagai berikut, antara lain:
1.      Asupan kalsium cukup

Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dapat dilakukan dengan mengkonsumsi kalsium yang cukup. Minum 2 gelas susu dan tambahan vitamin D setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan tulang pada wanita setengah baya yang sebelumnya tidak mendapatkan cukup kalsium.
Sebaiknya konsumsi kalsium setiap hari. Dosis harian yang dianjurkan untuk usia produktif adalah 1000 mg kalsium per hari, sedangkan untuk usia lansia dianjurkan 1200 mg per hari.
Mengkonsumsi kalsium dalam jumlah yang cukup sangat efektif, terutama sebelum tercapainya kepadatan tulang maksimal (sekitar umur 30 tahun). Pilihlah makanan sehari-hari yang kaya kalsium seperti ikan teri, brokoli, tempe, tahu, keju dan kacang-kacangan.
2.      Paparan sinar UV B matahari (pagi dan sore)
Sinar matahari terutama UVB membantu tubuh menghasilkan vitamin D yang dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan massa tulang. Untungnya, Indonesia beriklim tropis sehingga sinar matahari berlimpah. Berjemurlah di bawah sinar matahari selama 30 menit pada pagi hari sebelum jam 09.00 dan sore hari sesudah jam 16.00.
3.      Melakukan olah raga dengan beban
Selain olahraga menggunakan alat beban, berat badan sendiri juga dapat berfungsi sebagai beban yang dapat meningkatkan kepadatan tulang. Olah raga beban misalnya berjalan dan menaiki tangga tetapi berenang tidak meningkatkan kepadatan tulang.
Dr. Ade Tobing, Sp.KO kini mengenalkan yang disebut latihan jasmani yang baik, benar, terukur dan teratur (BBTT). Latihan BBTT ternyata terbukti bermanfaat dalam memelihara dan meningkatkan massa tulang. Oleh sebab itu, latihan fisik (BBTT) dapat dilakukan untuk mencegah dan mengobati penyakit osteoporosis.
4.      Gaya hidup sehat
Tidak ada kata terlambat untuk melakukan gaya hidup sehat. Menghindari rokok dan alkohol memberikan efek yang signifikan dalam menurunkan risiko osteoporosis. Konsumsi kopi, minuman bersoda, dan daging merah pun dilakukan secara bijak.
5.      Hindari obat-obatan tertentu
Hindari obat-obatan golongan kortikosteroid. Umumnya steroid ini diberikan untuk penyakit asma, lupus, keganasan. Waspadalah penggunaan obat antikejang. Jika tidak ada obat lain, maka obat-obatan tersebut dapat dikonsumsi dengan dipantau oleh dokter.
6.      Mengkonsumsi obat (untuk beberapa orang tertentu)
    • Estrogen membantu mempertahankan kepadatan tulang pada wanita dan sering diminum bersamaan dengan progesteron. Terapi sulih estrogen paling efektif dimulai dalam 4-6 tahun setelah menopause; tetapi jika baru dimulai lebih dari 6 tahun setelah menopause, masih bisa memperlambat kerapuhan tulang dan mengurangi resiko patah tulang.
    • Raloksifen merupakan obat menyerupai estrogen yang baru, yang mungkin kurang efektif daripada estrogen dalam mencegah kerapuhan tulang, tetapi tidak memiliki efek terhadap payudara atau rahim.
    • Untuk mencegah osteroporosis, bisfosfonat (contohnya alendronat), bisa digunakan sendiri atau bersamaan dengan terapi sulih hormon.

Tanya Jawab dengan Dokter Ahli Osteoporosis

Meningkatnya kesadaran masyarakat akan hidup sehat menyebabkan jumlah lanjut usia di dunia menjadi bertambah banyak, tak terkecuali di Indonesia. Jumlah usia lanjut di Indonesia diperkirakan akan naik 414 persen dalam kurun waktu 1990-2025, sedangkan perempuan menopause yang tahun 2000 diperhitungkan 15,5 juta akan naik menjadi 24 juta pada tahun 2015.
Bertambahnya jumlah orang lanjut usia (lansia) di Indonesia menimbulkan kekhawatiran akan epidemi penyakit osteoporosis. Oleh sebab itu, medicastore.com telah mewawancarai ahli di bidang osteoporosis yaitu Prof. DR. dr. Ichramsjah A Rachman, Sp.OG (K).
Bagaimana fakta penyakit osteoporosis di Indonesia?
Hasil penelitian Persatuan Osteoporosis Indonesia (PEROSI) tahun 2006 menemukan bahwa sebanyak 38% pasien yang datang untuk memeriksakan densitas tulang mereka di Makmal Terpadu FKUI Jakarta ternyata terdeteksi menderita osteoporosis sebanyak 14,7%, sedangkan di Surabaya sebanyak 26% pasien dinyatakan positif osteoporosis. Data penelitian Departemen Kesehatan (DEPKES) tahun 2006 menunjukkan bahwa 1 dari 5 orang Indonesia rentan terkena penyakit osteoporosis.
Apakah yang menyebabkan terjadinya penyakit osteoporosis?
Berdasarkan penyebabnya, osteoporosis dibagi menjadi dua yaitu osteoporosis primer dan osteoporosis sekunder. Osteoporosis primer berkaitan dengan kekurangan hormon (khususnya wanita) dan kenaikan usia serta ketuaan, sedangkan osteoporosis sekunder disebabkan oleh berbagai keadaan klinis tertentu atau penyakit lain.
Bagaimana risiko penyakit osteoporosis pada wanita dan pria?
Risiko wanita lebih besar karena kadar hormon estrogen mulai menurun pada usia 35-40 tahun sedangkan pada laki-laki kadar hormon testosteron turun pada usia 65 tahun. Menurut statistik dunia, 1 dari 3 wanita rentan terkena penyakit osteoroporosis.
Apakah semua wanita pasti terkena penyakit osteoporosis?
Umumnya yang terjadi pada wanita adalah osteoporosis primer yang disebabkan kadar hormon estrogennya rendah. Kalau puncak massa tulang tidak tercapai maka wanita bisa terkena penyakit osteoporosis. Berdasarkan teori, puncak massa tulang terjadi pada usia 30 tahun baik pada wanita dan pria.
Tapi umumnya puncak tulang pada wanita tidak tercapai karena konsumsi kalsiumnya rendah. Asupan kalsium orang Indonesia sangat rendah yaitu tidak sampai 300 mg (hanya 254 mg per hari), padahal seharusnya setiap hari konsumsi kalsium sebanyak 1000 mg. Kemudian. setelah puncak massa tulang tercapai pun tetap harus dimantainance dengan asupan kalsium yang cukup.
Bagaimana proses terjadinya penyakit osteoporosis?
Hormon estrogen digunakan untuk pertumbuhan sekunder pada wanita seperti pertumbuhan buah dada, tumbuh bulu-bulu, dll. Setelah kadar hormon estrogen mulai menurun, tubuh pun menjadi gemuk dan tulang mulai keropos.
Normalnya, Folikel Stimulating Hormon (FSH) menghasilkan estrogen untuk pertumbuhan tulang baru dan merangsang osteoblas. Osteoblas ini bekerja membentuk kolagen yang membuat tulang menjadi liat dan mineral dari sinar matahari ikut membuat tulang kuat.
Selain osteoblas, ada juga osteoklas. Osteoblas bekerja membentuk tulang, sedangkan osteoklas merusak tulang. Tulang yang sudah tua dirusak oleh osteoklas lalu dibentuk kembali oleh osteoblas.
Saat masih ada hormon estrogen, proses pembentukan dan perusakan tulang berlangsung seimbang. Namun, setelah hormon estrogen tidak ada maka tulang tetap dirusak tapi yang dibentuk tidak ada. Osteoklas merusak tulang selama 3 minggu padahal pembentukan tulang membutuhkan waktu lebih lama yaitu 3 bulan. Sebenarnya ini adalah hal yang normal, yang terjadi karena penuaan atau menopause.
Bagaimana cara mendiagnosa penyakit osteoporosis?
Untuk mendiagnosis penyakit osteoporosis ada 3 cara yaitu menggunakan densitometer (Lunar) yang merupakan gold standard diagnosa penyakit osteoporosis, densitometer USG dan pemeriksaan osteoclacin, dioksipiridinolin dan CTx (C-Telopeptide) di laboratorium. Sebenarnya ada cara yang mudah untuk diagnosa awal penyakit osteoporosis yaitu tinggi badan yang berkurang lebih dari 3 cm.
Bagaimana pengobatan penyakit osteoporosis yang tepat?
Penyakit osteoporosis pada wanita dapat diatasi dengan pemberian obat-obatan seperti terapi sulih hormon (hormon estrogen+progesteron alamiah), obat golongan bifosfonat, Selective Estrogen Receptor Modulator (SERM), dan fitoestrogen.
Dari pengalaman klinis, penilaian pengobatan hormonal pengganti (estrogen+progesteron) telah banyak memberikan hasil yang baik pada wanita menopause dalam menghilangkan keluhan menopasue sampai 90% dan meningkatkan densitas tulang sampai 5,5%. Sampai saat ini pemakaian estrogen+progesteron alamiah sebagai pengganti dibolehkan 5 sampai 7 tahun.Namun, ada laporan dari World Health Interactive (WHI) bahwa pemakaian hormon menimbulkan masalah kanker payudara, stroke, dan masalah kardiologi.
Harga terapi sulih hormon cukup mahal, sehingga dicari alternatif lain yang lebih murah seperti fitoestrogen. Pemakaian fitoestrogen (estrogen dari tumbuh-tumbuhan) seperti gabungan fitoestrogen Black cohosh dan Red clover telah terbukti memperbaiki keluhan menopause (60-70%) dan meningkatkan densitas tulang (<3%). Biaya terapi menggunakan fitoestrogen hanya Rp. 80.000 per bulannya.
Adakah cara untuk mencegah penyakit osteoporosis?
Pencegahan penyakit osteoporosis sebaiknya dilakukan pada usia muda maupun masa reproduksi. Berikut ini hal-hal yang dapat mencegah kejadian osteoporosis seperti:
  • Sadar akan kejadian osteoporosis yang mengancam.
  • Asupan kalsium yang cukup.
  • Paparan sinar UVB matahari selama 30 menit (pagi sebelum jam 09.00 WIB, sore sesudah jam 16.00 WIB).
  • Aktivitas yang cukup, senam beban (senam pencegahan osteoporosis dan senam osteoporosis).
  • Gaya hidup yang benar (hindari rokok, alkohol), perhatian terhadap obat-obatan yang menurunkan massa tulang (kortikosteroid, suntikan KB, dll) dihindari.
  • Gaya hidup yang benar (hindari rokok, alkohol), perhatian terhadap oat-obatan yang menurunkan massa tulang (kortikosteroid, suntikan KB, dll) dihindari.
  • Mengusahakan agar haid teratur.
Penyakit osteoporosis ini sangat berbahaya karena merupakan silent disease yang tidak memiliki gejala sampai penderita osteoporosis mengalami patah tulang. Sebenarnya, penyakit osteoporosis merupakan penyakit tulang yang paling sering didapat dan didefinisikan sebagai kelainan tulang yang ditandai oleh berkurangnya kekuatan tulang sehingga tulang menjadi mudah patah.
Menurut Yayasan Osteoporosis Internasional pada tahun 2050, kasus cedera keretakan tulang panggul di seluruh dunia diperkirakan akan meningkat sebesar 310% pada pria dan 240% pada wanita. Lebih dari 50% kasus keretakan tulang panggul akibat osteoporosis akan terjadi di Asia.
Di antara 14,7% penderita osteoporosis yang terdeteksi di Makmal Terpadu FKUI Jakarta pada akhirnya mengalami cedera patah tulang. Oleh sebab itu, medicastore.com telah mewawancarai ahli osteoporosis di bidang patah tulang yaitu dr. Bambang Setiyohadi, Sp.PD, KR. Berikut ini hasil wawancara eksklusif kami.
Apakah penderita osteoporosis pasti akan menderita patah tulang?
Penyakit osteoporosis adalah penyakit tulang yang membuat tulang menjadi mudah patah, selama belum mudah patah tidak bisa dibilang penyakit osteoporosis. Tapi ujungnya osteoporosis adalah patah tulang.
Bagaimana mengobati osteoporosis agar tidak sampai patah tulang?
Tujuan pengobatan penyakit osteoporosis adalah untuk menghindari patah tulang bukan membuat tulang menjadi keras karena tulang keras tidak identik dengan penurunan risiko patah tulang. Tulang yang keras bisa menjadi ‘getas’ karena kualitasnya tidak bagus.
Ada dua komponen tulang yang paling penting dalam menentukan kekuatan tulang,yaitu kuantitas (seperti kepadatan tulang) dan kualitas (seperti ukuran tulang, mikroarsitektur, kualitas mineralisasi, jaringan kolagennya).Untuk tulang yang sehat dan tidak mudah patah, kedua komponen harus diperhatikan. Meskipun tulangnya keras jika mikroarsitekturnya jelek maka akan mudah patah.
Tidak ada obat untuk memperbaiki kualitasnya, obat yang ada saat ini hanya untuk menurunkan resorpsi tulang yang berlebihan sehingga tulang menjadi padat. Kepadatan akibat pengobatan lebih dikarenakan peningkatan mineralisasi tulangnya (zat kapur), tulang keras menjadi ‘getas’ tanpa perbaikan mikroarsitektur.
Pengobatan penyakit osteoporosis sebaiknya dilakukan sedini mungkin dimana arsitektur tulangnya belum rusak. Osteoporosis primer disebabkan oleh menopause, dimana tulang mulai keropos sekitar 5 tahun setelah menopause sehingga harus periksa BMD. Jika ternyata sudah keropos secepatnya diberi obat.
Untuk penyakit asma dan rematik diberikan steroid jangka panjang maka diberikan pengobatan osteoporosis dari muda. Justru awareness yang perlu digalakan. Minimal asupan kalsium, selain obat penyakit osteoporosis seperti risedronate dan alendronate. Obat yang paling bagus adalah obat yang menurunkan risiko patah tulang berdasarkan evidence-based.
Pengobatan harus sedini mungkin, kalau perlu belum ada keropos tulang tapi memiliki faktor risiko maka diobati.Hal ini dikarenakan kalau kualitas tulang terlanjur jelek maka tidak bisa dilakukan apa-apa.
Adakah cara untuk menghindari penderita osteoporosis jatuh?
Sebagian besar penderita osteoporosis patah tulang karena jatuh di rumah. Sebaiknya di rumah dihindari karpet yang melekuk, kabel yang melintang, permukaan yang licin.Strategi lain dapat dilakukan seperti memasang hand rails, perbaikan penglihatan penderita osteoporosis (misal kacamata) dan memperbaiki kekuatan otot dan keseimbangan dengan latihan.
Kapankah pemeriksaan dini kepadatan tulang?
Jika tidak ada faktor risiko, Mulai periksa kepadatan tulang pada saat 5 tahun setelah menopause. Kalau di luar negeri seperti di Amerika dan Eropa, pemeriksaan dilakukan 10 tahun setelah menopause. Hal ini dikarenakan rata-rata asupan kalsiumnya bagus.
Bagaimana mengobati patah tulang osteoporosis?
Obat osteoporosis tetap diberikan, selama tulang yang patah tidak menekan saraf didiamkan saja. Dibuat posisi tidak bergerak sehingga tidak kesakitan. Patah tulang di pinggul harus dioperasi, kalau perlu harus mengganti sendi. Di seluruh dunia dan bukan hanya di Indonesia yang paling sering terjadi adalah patah tulang di pinggang.
Risiko kematian akibat patah tulang pinggul ternyata sama dengan kanker payudara. Penderita osteoporosis yang patah tulang pinggang dan pinggul tidak bisa berjalan sehingga penderita akan tiduran saja. Akibatnya paru-paru tidak bisa mengeluarkan riak, sehingga riak berkumpul dan menimbulkan infeksi.
Meninggalnya bukan karena penyakit osteoporosis tapi infeksi paru-paru sebagai akibat komplikasi dari patah tulangnya. Setelah patah tulang, operasi saja tidak cukup, karena tulang yang lain juga keropos sehingga tetap diberikan obat keropos.
Sekali tulang patah di satu tempat, maka 20% akan patah tulang berikutnya pada tahun pertama jika penyakit osteoporosisnya tidak diobati.
Kapankah memeriksakan kepadatan tulang selama pengobatan osteoporosis?
Pengobatan penyakit osteoporosis memakan waktu yang lama yaitu 5-7 tahun. Bone Mineral Density (BMD) pada 2 tahun pertama diperiksa setiap tahun, setelah itu baru diperiksa setiap 2 tahun sekali.
Bagaimana mencegah penyakit osteoporosis?
  1. Menjaga asupan kalsium ibu hamil, menyusui, orang tua.
  2. Selalu hidup aktif, jangan cuma duduk dan tidur, dengan aktivitas yang baik tulang akan keras.
  3. Hindari alkohol, kopi rokok karena meningkatkan risiko keroposnya lebih besar



 Sumber: http://www.medicastore.com/osteoporosis/

2 komentar:

  1. Hi Dok, usia saya 32 tahun apa saya perlu dilakukan jika hasil MRI saya seperti ini, apakah saya harus operasi mengingat masalah ini sudah sangat mengganggu saya :

    Impression Summary :
    Cervical spondylolis associated with multilevel discs protrusion at C3/4, C4/5, C5/6, prominent at the C5/6, caused impinging and narrowing of the nerve root canal at the C5/6 and C6/7 bilaterally.

    Mohon penjelasan dari dokter ya, karena ini sangat mengganggu produktivitas saya.
    Sebagai gambaran umum, saya bekerja menggunakan media transportasi KRL dan juga angkutan umum, dimana di kereta posisi berdiri jarang sekali sempurna karena penuhnya kereta yang dinaiki. Seringkali saya tidak bisa bekerja dikarenakan badan saya mudah lemah secara tiba-tiba, mudah jatuh, sering pusing dan vertigo, pandangan agak terganggu, mudah mual, dan sering hilang konsentrasi secara tiba-tiba.
    Sejauh ini saya telah melakukan fisiotherapy selama lebih dari 20 kali pada kurun waktu Oktober 2013- Nov 2013 dan akhir April 2014 - pertengahan bulan Mei dan sempat dirawat di RS namun tidak kunjung membaik.

    Terima kasih atas perhatiannya ya Dok.

    BalasHapus
  2. I am very much happy to share to every viewers that is reading this,I want to inform the whole public of how I got help for my herpes, I wanted this since 6 months ago, I have also taken treatment from some doctor,few weeks back I came on the net to see if I will be able to get any information as to cure my herpes, on my search I saw various testimony of people who was helped by a great man called Dr Akhigbe and without any hesitation, I contacted him, I wrote to him and and he guided me, I asked him for solutions and he started the remedies for me and indeed 3 weeks after I started using the medicine, I was completely happy as it worked for me.I went to the hospital for check up and indeed I was declared negative from my disease, and I also waited again for two weeks and went back to another hospital for check up to be fully sure and to my great surprise I was still declared negative, and I decided to share this great opportunity to those people out there fighting this sickness, You can contact him now for your medicine to cure your diseases, contact his Email;  drrealakhigbe@gmail.com     or     Whatsapp     +2349010754824    website. hpps:drrealakhigbe.weebly.comDr  Akhigbe also cure diseases like..
    HIV,  Herpes , Cancer,  Chronic Disease,  Asthma ,  Parkinson's disease,  External infection,  Als, progeria, common cold,  multiple sclerosis disease,   Nausea, Vomiting or Diarrhea, Heart Disease, meningitis, Diabetes,  Kidney Disease,  Lupus,  Epilepsy,   Stroke,Eczema, Erysipelas Eating Disorder,  Back Pain. Osteoporosis etccontact him for your solution.

    BalasHapus